"Tinta yang memudar kerap kali menyimpan jeritan yang tak sempat diucapkan oleh bibir."
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Ruang Dingin Yang Ditinggalkan
🌺
Lonceng pendulum pada jam dinding kayu jati di ruang tengah berdentang tujuh kali, disusul satu dentang parau setengah ketukan yang menggantung limbung di udara lembap. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi. Namun, di dalam rumah panggung peninggalan Datuk Dahlan ini, waktu seolah berhenti berputar sejak semalam; ia membeku menjadi gumpalan kecemasan yang liat, pekat, dan dingin, menekan rongga dadaku hingga setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca tipis.
Cahaya matahari pagi yang pucat merembes miring melalui celah kisi-kisi jendela kayu ulin yang mulai keropos dimakan rayap. Cahaya itu tidak membawa kehangatan. Alih-alih mengusir sisa malam, bilah-bilah sinar keemasan redup itu hanya mempertegas partikel debu halus yang menari lambat di udara—bintik-bintik kelabu yang melayang laksana spora masa lalu yang tak pernah rela disapu. Udara di dalam kamar tidur kakakku terasa ganjil: bukan dingin pegunungan basah yang segar khas pedalaman dataran tinggi Sumatera Selatan, melainkan dingin yang lembap, licin, dan membusuk, seolah ditiupkan langsung dari celah rawa gambut purba yang tak pernah terjamah matahari selama berabad-abad.
"Rafan..." bisikku, lirih sekali, nyaris tanpa suara.
Nama kakak kandungku itu meluncur dari bibirku yang gemetar, jatuh ke atas papan lantai kayu meranti yang dingin, lalu ditelan oleh keheningan yang menindih. Tak ada jawaban. Tak ada gumaman malas khas Rafan saat dibangunkan pagi hari. Hanya derit halus papan lantai di bawah bobot tubuhku sendiri yang membalas, merambatkan getaran ngilu ke telapak kakiku yang telanjang.
Tempat tidur kayu bertiang empat dengan kelambu kusam di hadapanku tampak berantakan. Seprai belacu putih yang membungkus kasur kapuk itu tersingkap kasar ke satu sisi, menampakkan lekukan tubuh seseorang yang tergesa-gesa bangkit dalam kecemasan luar biasa. Selimut tenun lurik teronggok di sudut ranjang seperti bangkai binatang kecil yang kaku. Di atas meja nakas berkaki bubut di samping ranjang, bertengger sebuah cangkir seng berenamel lurik hijau. Kopinya telah dingin membatu; cairan hitam pekat itu menyisakan lapisan kerak berminyak di tepinya dan pulau jamur keputihan yang mengapung di atas ampas yang mengering.
Kakakku tidak tidur semalam. Atau lebih tepatnya, sesuatu telah merenggut haknya untuk memejamkan mata.
Aku melangkah maju dengan langkah ragu. Di kamar berukuran empat kali lima meter ini, jejak-jejak Rafan bertebaran bagai kepingan teka-teki yang sengaja ia tinggalkan untuk mengejek kebodohanku. Di atas meja belajar kayu sungkai miliknya, buku-buku catatan kalkulus dan mekanika tanah bertumpuk berdampingan dengan penggaris segitiga, pena teknis, dan gulungan kertas kalkir biru. Semua itu adalah artefak dari sosok Rafan yang kukenal: sarjana teknik sipil berusia dua puluh tujuh tahun yang selalu bersandar pada angka, sudut presisi, dan logika terukur. Lelaki yang selalu menertawakan takhayul orang-orang dusun tentang penunggu rawa, tuyul perkebunan, atau santet hilir sungai.
Namun di balik benteng rasionalitas yang ia bangun dengan angkuh itu, aku tahu ada retakan besar yang menjalar diam-diam selama tiga bulan terakhir. Retakan yang merongrong jiwanya hingga rapuh, mengikis tatapan matanya yang dulu jenaka menjadi sepasang lubang kelam yang dipenuhi ketakutan purba.
Mataku menyapu lantai. Di atas lapisan debu halus yang menyelimuti papan meranti, terdapat jejak telapak kaki telanjang berukuran besar. Jejak itu tidak teratur. Ada jejak yang melangkah bolak-balik antara jendela belakang dan tempat tidur, ada bekas tumit yang menekan begitu keras ke papan kayu seolah sang pemilik tubuh sedang menahan gemetar hebat, dan ada jejak yang berujung ke sudut paling gelap di kamar ini: sebuah lemari pakaian dua pintu dari kayu jati tua.
Lemari itu menjulang tinggi hampir menyentuh plafon kaso-kaso. Permukaannya dihiasi ukiran mahkota bergambar sulur pakis meliuk dan kuncup melati kuncup yang telah pudar pernisnya. Kayunya menghitam karena usia dan kelembapan rimba. Setiap kali pandanganku bersirobok dengan celah sempit di balik lemari lapuk itu, bulu kuduk di tengkukku meremang tajam.
Ada hawa dingin menusuk yang berhembus perlahan dari celah antara punggung lemari dan dinding papan rumah panggung. Udara dingin itu berbau ganjil—aroma yang manis, pekat, dan sekaligus memualkan. Bau minyak duyung murni yang dibakar bersama dupa gaharu basah. Aroma yang menurut bisik-bisik para sesepuh Dusun Rengas hanya tercium apabila seorang perempuan yang mati beranak atau perempuan yang menjadi tumbal sumpah tanah sedang melintasi pematang rumah.
Mengapa kau pergi ke sana, Kak? Mengapa Rimba Rengas? Dan mengapa harus tadi malam?
Pertanyaan itu menghantam dinding kepalaku berkali-kali laksana martil godam. Tadi malam adalah malam Rebo Wekasan yang bertepatan dengan purnama mati—malam paling keramat dalam penanggalan tua orang-orang lembah sungai. Malam ketika kabut dari Rimba Rengas turun melintasi pagar kebun karet, membawa desau angin beracun yang konon mampu membuat ternak mati berdiri dan manusia waras kehilangan akalnya. Semua pintu rumah di dusun kami telah dipalang sejak azan Magrib berkumandang; mangkuk-mangkuk berisi garam kasar dan rajah penolak bala ditaruh di tiap undakan tangga panggung.
Tetapi Rafan justru melangkah keluar. Tanpa senter, tanpa sepatu bot, tanpa jaket tebal. Jejak kakinya yang kutemukan subuh tadi berawal dari kolong dapur rumah kami, melintasi pagar kawat berduri kebun karet yang terkoyak, dan menghilang tanpa sisa tepat di bibir rawa Rimba Rengas—hutan larangan seluas ribuan hektare yang dipenuhi getah pohon rengas pembakar kulit, rawa hisap tanpa dasar, dan mitos gelap tentang kerajaan jin yang haus darah manusia.
Aku meremas rambutku, merasakan pelipisku berdenyut nyeri. Rasa bersalah yang teramat pekat mulai mengendap di ulu hatiku seperti racun arsenik.
Aku adalah adik yang buta. Sepanjang hidupku, sejak ibu kami meninggal dunia di atas kasur berdarah saat melahirkanku, Rafan selalu menjadi tameng baja yang berdiri di hadapanku. Ketika ayah kami terbaring lumpuh bertahun-tahun di ranjang pesakitan—tubuhnya kurus kering dengan mata melotot kosong menatap langit-langit kamar sembari terus meracaukan nama pohon-pohon raksasa—Rafan-lah yang membasuh kotorannya, menyuapkan bubur beras merah, dan mengurus administrasi kebun karet peninggalan kakek buyut kami, Datuk Dahlan Bashif.
Rafan selalu berkata kepadaku dengan suara tenangnya yang berwibawa:
"Fajri, tugasmu hanya satu: belajar yang giat, selesaikan kuliah sastramu, dan pergi dari tanah ini. Jangan pedulikan apa yang dibicarakan orang-orang di kedai kopi. Rumah ini dan segala bebannya adalah urusanku."
Aku mempercayainya. Aku berlindung di balik punggung lebarnya yang kokoh, berpura-pura tidak mendengar bisik-bisik tetangga tentang bagaimana keluarga Bashif bisa menjadi orang paling kaya di hilir sungai tahun 1970-an, tentang bagaimana seluruh pesaing bisnis getah karet Datuk Farolan mendadak mati terbakar atau gantung diri di cabang pohon, dan tentang 'perjanjian darah' yang konon ditanam di jantung rimba.
Kini, punggung kokoh itu telah hilang ditelan kabut. Dan aku berdiri di sini, sendirian di kamarnya yang dingin, menghadapi kenyataan bahwa kakakku telah melangkah ke dalam neraka demi sesuatu yang ia sembunyikan dariku.
༺☆༻
Bagian 03 : Kotak Besi di Bawah Ranjang
🌺
Keputusasaan memaksaku bergerak. Aku tidak bisa hanya berdiri mematung membiarkan kabut pagi menipis tanpa berbuat apa-apa. Polisi kecamatan di seberang sungai menolak mencari Rafan sebelum dua puluh empat jam berlalu; mereka bahkan mengibaskan tangan saat mendengar kata Rimba Rengas, menganggap kakakku hanya pemuda linglung yang kabur membawa uang proyek atau sengaja menyepi karena putus cinta. Orang-orang dusun yang kuhampiri pagi tadi serentak menutup pintu rumah mereka rapat-rapat saat nama keluarga Bashif kusebut. Tatapan mereka bukan tatapan iba, melainkan tatapan ngeri yang sarat dengan kebencian terpendam.
Aku harus mencari petunjuk sendiri. Harus ada alasan mengapa Rafan memilih tanggal semalam. Harus ada peta, catatan, atau nama seseorang yang bisa kuhubungi.
Aku mulai menggeledah kamar itu secara membabi buta. Aku membuka lemari pakaian yang lapuk itu dengan sentakan kasar. Derit engselnya menjerit nyaring memecah hening. Di dalamnya hanya tergantung kemeja flannel Rafan yang kusam, jaket kanvas lapangan, dan beberapa helai sarung kotak-kotak. Tidak ada yang mencurigakan, kecuali hawa dingin di dasar lemari yang begitu menusuk hingga ujung jemariku mati rasa, dan aroma minyak duyung yang mendadak semakin tajam menggelitik lubang hidungku.
Aku beralih ke meja belajar. Membuka laci pertama: pulpen, penggaris, buku tabungan dengan saldo pas-pasan, kwitansi pembayaran semen. Laci kedua: obat sakit kepala, vitamin neurobion, dan botol kosong pil tidur berdosis tinggi yang diresepkan dokter spesialis jiwa di Palembang. Mataku membelalak melihat botol itu. Rafan menemui psikiater? Kapan? Mengapa ia tidak pernah memberitahuku bahwa ia tidak bisa tidur hingga harus menenggak racun penenang ini?
Napas kian memburu saat pandanganku jatuh ke bawah kolong tempat tidur jati warisan keluarga.
Di bawah ranjang itu, kegelapan bersemayam pekat, terlindung oleh juntaian kain seprai belacu yang kotor dan compang-camping. Lapisan debu di kolong itu tampak sangat tebal, menandakan bagian tersebut jarang sekali dibersihkan selama bertahun-tahun. Namun, tepat di tengah lapisan debu kelabu tersebut, ada dua garis seretan yang masih sangat baru dan nyata—seolah-olah ada sebuah benda berat berpermukaan kasar yang baru saja ditarik keluar, lalu disorongkan kembali ke sudut paling dalam secara terburu-buru tadi malam.
Dengan lutut yang bergetar hebat, aku menjatuhkan tubuhku ke atas lantai papan kayu. Dinginnya kayu meranti merembes langsung ke tulang lutut dan sikuku. Aku merayap di atas perutku, menahan napas agar partikel debu kapur barus yang menyengat tidak mencekik tenggorokanku, lalu menyusupkan separuh tubuhku ke bawah kolong ranjang yang sempit itu.
Hawa pengap langsung mengepung kepalaku. Bau kayu lapuk, debu tebal, kotoran cecak, dan aroma dupa dingin bercampur menjadi satu. Mataku menyipit menembus bayang-bayang kelam di bawah papan penyangga kasur. Di sudut terjauh, menempel pada tiang kayu jati yang berukir kepala naga, tergeletak sebuah siluet kotak logam persegi panjang.
Tanganku terulur ke dalam kegelapan. Ujung jemariku yang kotor menyentuh permukaan benda tersebut. Dingin. Begitu dinginnya permukaan itu sampai-sampai kulit ujung jariku terasa seperti ditempeli lempengan es kering. Rasa ngilu merambat cepat naik melalui pergelangan tangan, membekukan aliran darah di pembuluh nadiku. Aku mencengkeram sudutnya dan menariknya keluar perlahan. Logam yang bergesekan dengan papan lantai meranti menghasilkan suara deritan ngilu yang menggores saraf kepalaku: srrreeeek... kleeek.
Aku merangkak mundur, keluar dari kolong ranjang, lalu duduk bersimpuh di lantai dengan napas terengah-engah. Di hadapanku kini tergeletak benda misterius itu.
Sebuah kotak besi tua bekas kaleng amunisi tentara Belanda atau kaleng teh perkebunan kolonial abad ke-19. Cat hijau zaitun aslinya telah terkelupas hampir seluruhnya, berganti dengan lapisan kerak karat berwarna cokelat kemerahan yang kasar dan berbau anyir besi tua. Pada tutup kaleng yang dipatri kasar, terdapat ukiran huruf timbul yang hampir terhapus oleh oksidasi zaman: D.B. — 1970.
Datuk Farolan Bashif.
Jantungku berdegup kencang hingga terasa memukul-mukul sangkar rusuk kiriku. Kotak ini adalah peninggalan kakek buyut kami—sosok patriark yang fotonya tergantung di dinding ruang tamu; lelaki berjas tutup hitam dengan sorot mata elang yang dingin, congkak, dan kejam. Mengapa kotak milik orang yang telah meninggal dunia sebelum aku lahir ini bisa berada di kolong ranjang Rafan? Dan mengapa kotak ini ditarik keluar tadi malam?
Kancing pengait kaleng itu terkunci rapat oleh karat. Aku meraih obeng minus kecil dari saku jaketku, lalu menyisipkannya ke celah engsel. Dengan segenap tenaga, aku mengungkitnya ke atas.
KRAK!
Besi berkarat itu patah dengan suara renyah. Tutup kaleng terangkat miring.
Pada detik yang sama ketika tutup kaleng itu terlepas, sebuah ledakan aroma sensorik yang luar biasa dahsyat menyergap seluruh indra penciumanku.
Bukan aroma bangkai, bukan pula aroma karat biasa. Itu adalah aroma wangi yang luar biasa pekat, manis menusuk, dan memualkan—aroma minyak duyung asli berkonsentrasi tinggi yang bercampur dengan dupa kesturi hitam, beradu liar dengan bau apek kertas tua yang telah terkurung tanpa udara selama lebih dari setengah abad. Bau itu begitu kental hingga seakan memiliki wujud fisik; ia memenuhi rongga mulutku, menempel di lidahku, menyisakan rasa manis pahit yang membuat lambungku bergejolak hebat. Aku terbatuk-batuk keras, memuntahkan cairan liur bening ke lantai papan, seraya menutup hidung dengan lengan kausku yang berdebu.
Namun mataku menolak berpaling dari isi kotak itu.