Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Langkah Menembus Halimun

Latar: Siang menjelang sore, 15.00 WIB | Garis Batas Rimba Rengas, Lubai. Sudut Pandang: Fajrian Nadhiran (Orang Pertama Terbatas / Orang Ketiga Mengalir)

Kutipan: "Hutan itu tidak membunuh dengan taring, melainkan dengan memutarbalikkan arah pulang."

*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Ambang Batas dan Dosa yang Tertinggal

🌺

Ada kepedihan yang tidak pernah menemukan muara dalam kata-kata, dan bagi Fajrian Nadhiran, kepedihan itu berbau bensin basi, karat logam bilah parang, dan lumpur gambut yang membusuk perlahan di bawah terik pukul tiga sore. Di hadapannya, sepuluh jengkal dari ujung sepatu bot kulitnya yang telah pecah di bagian sol tumit, berdiri sebaris patok bambu kuning. Batang-batang bambu setinggi dada manusia itu ditancapkan miring ke tanah lempung basah, dililit serat ijuk hitam yang diminyaki jelantah kelapa sawit—tanda kuno orang-orang Lubai untuk menandai di mana peradaban manusia berakhir dan di mana kutukan bermula.

Di balik patok itu, Rimba Rengas membentang laksana dinding raksasa dari lumut, dedaunan legam, dan keheningan purba yang menolak kehadiran napas makhluk berdarah panas. Pohon-pohon rengas raksasa—Gluta rengas yang ditakuti para penebang liar dan penyadap getah—menjulang congkak dengan tajuk-tajuk kanopi yang begitu rapat, hingga cahaya matahari Sumatera yang garang sekalipun hanya mampu menyusup sebagai seberkas bilah tipis keperakan yang mati sebelum menyentuh tanah. Di bawah sana, di lantai hutan yang abadi remang, humus setebal lutut memeram rahasia yang tidak pernah diizinkan pulang.

Fajrian meraba sarung parang baja di pinggang kirinya. Gagang kayu sonokeling itu licin oleh keringat dingin yang mengucur dari telapak tangannya sendiri. Di kantong jaket kanvasnya yang lusuh, senter logam tiga baterai terasa berat menekan tulang rusuknya, berdampingan dengan bungkus rokok kretek yang remuk dan sebuah kompas saku kuningan berukir aksara ulu peninggalan kakeknya—benda warisan yang selama tiga generasi dipercaya tak pernah berdusta tentang arah mata angin.

Namun tekad di dada Fajrian bukan lahir dari keberanian ksatria. Tekad itu dinyalakan oleh bara api rasa bersalah yang menggerogoti ulu hatinya sejak subuh kemarin. Setiap kali matanya menatap tajamnya duri-duri rotan di seberang bambu, telinganya seolah dihantam kembali oleh bunyi pecahan porselen cangkir kopi di lantai teras rumah panggung mereka.

Malam itu, pukul dua puluh tiga lewat empat puluh menit, hujan gerimis tidak mampu meredakan bau tembakau dan amarah yang pekat. Rafan, adiknya yang baru genap dua puluh tahun, berdiri di ambang pintu depan dengan mata merah menyala—bukan oleh kantuk, melainkan oleh racun obsesi gila yang menolak mati. Jari-jari Rafan yang pucat mencengkeram erat sebilah sisir tanduk bergigi rapat milik almarhumah ibu mereka.

"Ibu tidak mati tenggelam di lebak lebung, Fajri!" suara Rafan bergetar hebat malam itu, parau dan putus-putus seperti daun kering digilas roda truk sawit. "Rimba Rengas menyembunyikannya! Pohon-pohon itu... mereka memanggil namaku setiap kali angin timur bertiup dari Lubai. Aku mendengar Ibu menyisir rambutnya di balik kabut!"

Dan Fajrian, yang saat itu telah remuk badannya setelah dua belas jam memeras keringat di kebun karet yang gagal panen, meledak dengan tawa sinis yang paling ia kutuk seumur hidupnya. "Cukup, Rafan! Ibu sudah mati lima belas tahun yang lalu! Kalau kau memang ingin mati konyol mengejar bangkai dan halusinasi dukun cabul, pergilah sendiri sekarang juga! Jangan bawa-bawa aku ke dalam kuburan konyolmu!"

Pintu terbanting. Dan saat fajar menyingsing di ufuk timur Desa Jiwa Baru, kemeja flanel kotak-kotak biru dongker milik Rafan sudah raib dari cantelan paku dinding.

Kini, berdiri sendirian di batas bambu kuning, Fajrian menatap jejak tanah yang terinjak samar. Sebuah bekas cetakan sol sepatu kets tipis—sepatu Rafan. Jejak itu melangkah melompati tali ijuk, lurus menuju kegelapan rimba tanpa tanda-tanda keraguan sedikit pun.

"Hutan itu tidak membunuh dengan taring, melainkan dengan memutarbalikkan arah pulang," bisik Fajrian mengulang pesan kakeknya. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Dengan satu hentakan napas pendek, Fajrian mengangkat kaki kanannya, melangkahi patok bambu kuning, dan menjejakkan hidupnya ke dalam wilayah yang tak bertuan.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Tujuh Langkah dan Sunyi yang Menelan

🌺

Langkah pertama: ranting kering patah di bawah sol bot kulitnya dengan letupan renyah yang terdengar lumrah. Di kejauhan di belakangnya, sayup-sayup kokok ayam jantan milik Mang Hasan di tepi kampung Jiwa Baru masih terdengar bersahutan dengan deru knalpot motor bebek pedagang sayur yang melintasi jalan poros berbatu.

Langkah kedua dan ketiga: tanah terasa semakin gembur dan dingin. Dedaunan paku pakis setinggi pinggang menyapu celana jinsnya yang mulai basah oleh tetesan embun keruh. Bau anyir getah kayu menyengat rongga hidungnya—getah rengas yang tersohor mematikan, racun getah hitam-merah yang mampu membakar kulit manusia hingga melepuh bernanah hanya dengan sapuan kabut pekatnya. Fajrian menarik kerah jaketnya ke atas hidung.

Langkah keempat dan kelima: Fajrian merasakan keanehan fisiologis yang menjalar dari telapak kakinya ke belakang leher. Suhu udara anjlok secara tidak masuk akal. Dari tiga puluh satu derajat Celsius khas dataran rendah tropis Sumatera, udara mendadak berubah sedingin rongga gua kapur di tengah malam buta. Uap napasnya mulai mengepul tipis dari sela bibirnya yang pucat. Keringat di pelipisnya mengering seketika, meninggalkan lapisan kristal garam yang perih di pelupuk matanya.

Langkah keenam: ia menoleh ke belakang melalui celah bahunya. Patok bambu kuning itu masih berdiri di sana, hanya berjarak enam langkah normal di belakangnya. Namun warna kuning bambu itu mendadak tampak kusam dan kelabu, seolah dipisahkan oleh selembar kaca akuarium tebal yang buram dan bernoda lumut lumpur.

Dan kemudian... langkah ketujuh.

Ketika tumit botnya menekan lapisan lumut tebal di langkah ketujuh, dunia sekelilingnya meledak dalam kehampaan.

Bukan oleh dentuman petir atau gemuruh gempa bumi, melainkan oleh lenyapnya suara secara mutlak.

Kokok ayam jantan lenyap dalam satu kedipan mata. Deru knalpot motor lenyap. Kicau burung punai, derit serangga tonggeret, desau angin di tajuk meranti, bahkan desik gesekan ranting berduri di kain jaket kanvasnya sendiri—semuanya terputus dalam hitungan persekian detik, persis seperti pita kaset pita magnetik yang digunting paksa oleh tangan dingin tak kasat mata.

Kesunyian itu bukan sekadar ketiadaan bunyi biasa; ia adalah massa padat yang menekan gendang telinganya dari luar ke dalam dengan bobot berton-ton. Telinga Fajrian mendadak berdenging melengking di frekuensi tinggi—empat ribu hertz dengung tinitus yang mengerikan, suara dari sistem saraf tubuhnya sendiri yang memprotes panik ketika gelombang akustik alam semesta dicabut paksa.

"Halo?!" Fajrian mencoba berteriak.

Suara teriakannya sendiri terdengar teredam ganjil di dalam rongga tengkoraknya, seolah pita suaranya dibungkus oleh segumpal kapas basah. Tidak ada gema. Tidak ada pantulan suara dari batang-batang pohon rengas sebesar pilar candi di hadapannya. Hutan itu menelan setiap getaran suara sebelum bunyi itu sempat merambat sejengkal dari bibirnya.

Fajrian mematung. Detak jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa tulang dadanya akan retak. Ia melirik kembali ke arah patok bambu kuning di belakangnya.

Namun patok itu telah hilang.

Di tempat di mana beberapa detik lalu jalan kampung membentang, kini hanya ada hamparan semak duri hitam yang saling membelit rapat, menjulang hingga setinggi dua meter. Seolah-olah jalan setapak yang baru saja ia lalui telah dikunyah dan dicerna oleh tanah purba itu dalam sekejap mata.

Wak Usman, pawang tua yang lumpuh separuh badannya, pernah memperingatkan di kedai kopi: "Rimba Rengas tidak punya pagar kawat, Buyung. Batasnya ada di langkah ketujuh. Kalau kau sudah melangkah tujuh kali dan telingamu mendadak tuli dari suara dunia, itu tandanya kau sudah masuk ke dalam perutnya. Di sana, waktu berjalan melingkar seperti ular menelan ekornya sendiri."

Fajrian menelan ludah. Rasa pahit tembaga mengendap di pangkal lidahnya.


Lihat selengkapnya