Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Peringatan Nek Halimah

Latar: Senja, 18.20 WIB | Dapur Rumah Panggung Nek Halimah di Tepi Rawa Lebak, Desa Jiwa Baru. Sudut Pandang: Fajrian Nadhiran (27 Tahun)

"Mata yang buta seringkali menatap apa yang ditutup-tutupi oleh kelopak mata yang awas."

*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Kabut Gambut dan Gonggongan Tak Berjejak

Ketika rimba purba menolak kompas dan melepaskan jerat pertamanya

🌺

Senja di atas Rawa Lebak tidak pernah tenggelam dengan damai; ia mati seperti luka tusuk yang membusuk di lambung langit. Semburat jingga terbakar pekat oleh warna ungu lebam dan jelaga, seolah matahari dipaksa menyerah pada rawa gambut yang rakus sebelum waktunya tiba. Jam di pergelangan tangan kiriku berkedip lemah menunjukkan angka 18.20 WIB, namun di dalam kelambu Rimba Rengas yang merapat liar, malam telah lama memenangkan pertempuran.

Napasku tersengal seperti besi tua yang dipaksa memompa uap beracun. Setiap tarikan udara mengirimkan sengatan pedih di dasar paru-paruku—campuran anyir lumut basah, belerang purba, dan bau daun rengas busuk yang menyengat saraf. Lumpur hitam setinggi betis berkecipak menjepit langkahku dengan daya hisap yang lapar. Dua kali aku terperosok ke dalam lubang gambut tersembunyi hingga serpihan akar gelam yang runcing merobek celana kanvasku, menorehkan garis merah yang perih disiram keringat dingin.

Pikiran gilaku terus berbisik bahwa aku telah mati setengah jam yang lalu. Kompas magnetik di tanganku berputar sinting tanpa sumbu, jarum merahnya meliuk liar seperti cacing yang dibakar di atas bara. Di sekelilingku, pepohonan rengas raksasa tegak menjulang menyerupai tiang-tiang penjara kelam. Batang-batangnya yang legam berlekuk-lekuk meneteskan getah hitam pekat—getah rengas yang tersohor sanggup membuat kulit manusia melepuh bernanah hanya dengan embusan uapnya. Sejak kecil, orang-orang tua di Jiwa Baru menanamkan pantangan keramat: jangan pernah menyentuh kulit rengas, jangan pernah menatap terlalu lama ke celah dahan-dahannya, dan demi nyawamu, jangan pernah berada di antara akar-akarnya saat azan Magrib merambat.

Namun di sinilah aku. Fajrian Nadhiran, seorang jurnalis investigasi yang congkak, pemuda berpendidikan kota yang mengira dirinya kebal terhadap takhayul kampung halaman. Aku datang membawa dalih mencari kebenaran tentang hilangnya ayahku dua puluh tahun silam. Ayahku, Bahrum, menghilang di lebak ini tanpa meninggalkan sehelai kain kafan pun—hanya sebuah dayung sampan ketek yang patah terpuntir seperti diremukkan rahang binatang purba.

Rasa bersalah itu adalah belati tumpul yang tak pernah berhenti mengorek ulu hatiku. Malam ketika ayah menghilang, akulah bocah tujuh tahun yang merengek demam tinggi, merintih meminta rebusan akar kayu penawar yang konon hanya tumbuh di bibir rimba terlarang. Ayah mendayung ke dalam kegelapan lebak demi menyambung nyawaku, dan ia tak pernah kembali. Selama dua dekade, setiap kali aku bercermin, aku tidak melihat wajah seorang pria dewasa; aku melihat pembunuh berdarah dingin yang meminjam tangan rimba untuk menenggelamkan ayahnya sendiri.

Lalu, di tengah keputusasaan saat kabut putih pekat mulai merangkak dari permukaan air lebak setinggi pinggang, suara itu membelah kesunyian yang mengerikan: gonggongan anjing. Suaranya serak, parau, dan berulang-ulang dari arah barat laut. Bukan lolongan panjang serigala rimba yang lazim mengiringi mangsa celaka, melainkan gonggongan anjing kampung yang terputus-putus, seolah memandu sebuah jiwa yang tersesat pulang.

Tanpa berpikir waras, aku memaksakan lututku yang gemetar untuk merangsek ke arah suara. Aku merayap melintasi jalinan akar rengas yang licin, tersandung batok kayu mati, hingga napasku nyaris putus saat kepalaku membentur semak resam liar. Dan begitu semak itu tersibak, dunia rimba mendadak terbelah. Di hadapanku terbentang gundukan pematang tanah liat merah yang tinggi, dan di atasnya, berdiri sebuah rumah panggung kayu ulin tua yang condong ke arah rawa seperti orang jompo yang sedang berlutut menanti ajal.

Di serambi sampingnya, tergantung sebuah lampu teplok berminyak tanah dengan kaca semprong yang menghitam oleh jelaga. Cahaya temaram itu bergoyang ditiup angin rawa yang dingin menggigit. Dan yang membuat bulu kudukku berdiri tegak: begitu kakiku menginjak pematang, gonggongan anjing itu lenyap seketika. Tidak ada derap langkah kaki binatang di tanah lumpur yang baru saja kupijak. Tidak ada jejak cakar di tanah liat basah. Hanya ada jejak sepatuku sendiri yang mengucurkan lumpur hitam berbau bangkai vegetasi.

Aku mendongak menatap rumah itu. Di ambang pintu dapur yang terbuka sejengkal, bau asap kayu gelam dan terasi bakar menguar tipis, bercampur dengan dengung serangga malam yang mendadak terbungkam kaku. Aku tahu persis siapa yang mendiami pondok terkucil di batas lebak ini: Nek Halimah. Perempuan paling tua di seluruh tanah Jiwa Baru, saksi hidup dari masa ketika desa ini pertama kali ditebas dari rahim rimba.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Dapur Asap, Tembakau Susur, dan Sentuhan Buta

Ketika jemari tanpa mata menyingkap kutukan yang menempel di serat baju

🌺

Tangga kayu ulin itu berderit pedih di bawah berat badanku, menghasilkan bunyi ngilu seolah pasak-pasaknya yang berkarat enggan menerima tamu asing. Begitu aku melangkahi ambang pintu dapur yang rendah, hawa panas pengap menyergap wajahku. Dapur itu sempit, berlantai bilah-bilah bambu belah yang diikat rotan kusam. Di sudut lantai, abu tungku tanah liat masih menyala merah membara, menjilat pantat kuali besi berisi air rebusan daun sirih dan serai yang mengepulkan uap getir.

Nek Halimah duduk mencangkung di atas bangku dingklik kayu jati yang telah memutih termakan usia. Tubuhnya kurus kering seperti ranting gelam yang dijemur di kemarau panjang, dibalut sehelai kain jumputan Palembang motif bintik tujuh yang pudar hingga warnanya menyerupai tanah liat basah. Sejumput tembakau susur yang hitam berminyak terselip di balik bibir atasnya yang keriput, mencuat di antara gusi yang tak lagi bergigi. Namun yang paling meremukkan keberanianku adalah matanya: sepasang bola mata yang kelabu pekat, tertutup selaput katarak susu tebal yang mati. Mata yang seharusnya tidak sanggup membedakan antara benderang siang dan gelapnya liang kubur.

"Tutup pintunya, Cu," suara itu keluar dari tenggorokan Nek Halimah bukan seperti suara manusia, melainkan seperti gesekan dua bilah bambu kering di tengah angin ribut. "Kancingkan pasak kayu tembesunya rapat-rapat. Yang ikut di belakang tumitmu sedang mengendus-endus celah tangga."

Jantungku berdegup kencang hingga gendang telingaku berdenging. Aku buru-buru memutar badan, merapatkan daun pintu kayu tebal itu, dan menyelipkan balok palang penahan ke sarangnya. Suara 'klak' kayu yang jatuh terdengar seperti menutup peti mati. Saat aku berbalik menghadapnya kembali, wanita tua itu sudah tidak lagi mencangkung. Tangannya yang dipenuhi urat-urat hijau membengkak terjulur ke depan dengan kecepatan yang mustahil bagi seorang renta berusia hampir seratus tahun.

Sebelum aku sempat menghindar, jemarinya yang dingin seperti es batu menyambar pergelangan tangan kananku.

Cengkeramannya membuatku memekik tertahan. Itu bukan pegangan seorang nenek rapuh; tulang-tulang jarinya menjepit urat nadiku dengan kekuatan ragum besi. Napasku tercekat saat Nek Halimah menarik lenganku mendekat ke wajahnya yang berkerut dalam. Ia tidak menatapku—ia tidak bisa—tetapi hidungnya yang bengkok seperti paruh burung bangau mengendus-endus udara di sekeliling kain lengan jaketku dengan dengus pendek-pendek yang liar.

Tiba-tiba seluruh tubuh wanita tua itu tersentak kejang. Gerakan susur tembakau di mulutnya terhenti kaku. Dari tenggorokannya meluncur desisan ngeri yang membuat seluruh bulu romaku berdiri tegak.

"Bau tanah lebak mati..." bisiknya, suaranya bergetar hebat hingga ludah merah sirih menetes di dagunya. "Bukan lumpur pematang huma. Kau baru saja menginjakkan kaki di tanah pelataran pohon Asam Tais, bukan begitu, cucu Bahrum?! Kau membasuh wajahmu di parit yang meminum getah rengas berdarah!"

"Nek... lepaskan, Nek. Sakit!" rintihku, mencoba menarik tanganku sekuat tenaga, tetapi jepitannya seolah mengunci aliran darahku. "Aku hanya... aku mencari jalan setapak yang dulu dilewati Ayah. Aku tersesat saat kabut turun. Sumpah, aku tidak bermaksud lancang melanggar batas lebak!"

Nek Halimah mendengus kasar, lalu dengan sentakan tiba-tiba ia menghempaskan pergelangan tanganku. Aku terhuyung mundur hingga punggungku menabrak tiang dapur. Di pergelangan tanganku, bekas lima jarinya tercetak merah kebiruan, dinginnya meresap hingga ke sumsum tulang.

"Lancang?" Nek Halimah tertawa getir, tawa tanpa kegembiraan yang terdengar seperti rintihan burung kuau di malam buta. "Kau bukan sekadar lancang, Fajrian. Kau bodoh! Sama persis dengan ayahmu yang kepalanya dipenuhi kesombongan buku-buku cetakan kota! Mengira dunia ini hanya selebar kertas koran dan logika akal sehat!"

Batinku menjerit memprotes, namun suaraku tersangkut di jakun. Aku ingin membantahnya dengan tumpukan artikel sains yang pernah kutulis, dengan peta geologi satelit yang kutelaah di kantor redaksi, dengan teori bahwa rawa lebak hanyalah cekungan hidrologi biasa. Tapi hawa dingin yang merambat dari telapak tangan wanita buta ini melumpuhkan seluruh benteng rasionalitasku. Dinding dapur yang doyong ini seolah memeras ruang di sekitarku, menjadikannya sangkar sempit di mana kepintaranku tak lebih dari debu yang siap diinjak.

Wanita tua itu meraba-raba meja kayu di sampingnya, mengambil sepotong pinang kering lalu melumatnya bersama kapur sirih dengan lesung kuningan kecil. Bunyi ketukan alu kuningan itu—'tuk, tuk, tuk'—berirama ganjil di dalam keheningan dapur, menghantam batinku yang kian kalut. Setiap kali alu itu menumbuk dasar lesung, kepalaku berdenyut seakan ada paku yang diketokkan ke ubun-ubunku.

Lihat selengkapnya