Latar: Tengah malam, 01.10 WIB | Kamar Tidur Rumah Panggung Fajrian, Tepi Rawa Rengas. Sudut Pandang: Fajrian Nadhiran (Sudut Pandang Orang Pertama)
Kutipan: "Di alam mimpi, jiwa tak memiliki tameng untuk menolak tamu yang tak diundang."
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Besi Dingin di Bawah Bantal
Adegan Pembuka & Retrospeksi Warisan Kelam Sang Ayah | Waktu: 01.10 WIB
🌺
Jarum detik pada jam dinding kayu jati berdetak seperti ketukan kuku kurus yang tak sabar di ambang pintu: tik, tik, tik. Tepat pukul satu lewat sepuluh menit dini hari. Di luar, Rimba Rengas membentang laksana raksasa purba yang sedang menahan napas dalam kegelapan pekat. Tidak ada desau angin malam yang ramah, tidak pula ada lengkingan jangkrik atau kuak katak pohon yang lazim memecah kesunyian rawa gambut. Kesunyian itu bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan sebentuk keheningan yang berniat jahat—seolah seluruh penghuni hutan sedang bersembunyi dari sesuatu yang baru saja merayap keluar dari kubangan air hitam bergetah beracun.
Aku berbaring telentang di atas kasur kapuk yang tipis dan lembap oleh uap rawa yang merembes melewati celah-celah papan lantai kayu ulin. Setiap jengkal otot di tubuhku berdenyut nyeri. Seharian penuh aku menyusuri tepian parit mati di pedalaman Rengas, menebas semak belukar berduri yang merobek celana jins dan kulit lenganku, hanya demi mencari sepotong petunjuk: jejak kaki bersepatu bot ukuran empat puluh satu, sobekan kain kemeja flanel biru, atau puntung rokok kretek kesukaan Rafan. Namun rimba itu seakan menelan sahabat karibku bulat-bulat tanpa menyisakan riak sekecil debu di permukaan lumpur hisapnya.
Kelelahan telah mengikis ketahanan ragawi hingga ke batas paling rapuh, tetapi kepalaku menolak menyerah pada kantuk. Rasa bersalah bersarang di rongga dadaku seperti segumpal jelaga panas. Seandainya saja lima hari lalu aku tidak membiarkan Rafan pergi sendirian ke hulu Sungai Tais untuk memeriksa patok batas konsesi tua itu. Seandainya saja aku tidak menertawakan racauannya tentang 'wanita bergelang akar yang memanggil namanya dari balik pohon rengas bungkuk'. Kini, setiap hembusan nafasku terasa seperti utang nyawa yang bunganya kian membengkak.
Dengan tangan kanan yang bergetar samar oleh sisa kebas, aku menyelusupkan jemariku ke bawah bantal kapuk. Di sana, bilah besi itu menanti dalam diam. Sebuah belati tua berhulu tanduk rusa yang telah menghitam dimakan usia—satu-satunya peninggalan almarhum Ayah sebelum beliau ditemukan tewas mengambang di pusaran Lubuk Rengas dua belas tahun silam tanpa setetes air pun di dalam paru-parunya.
Orang-orang tua di kampung selalu berbisik bahwa menaruh besi tua bertuah di bawah kepala saat tidur adalah ikhtiar penolak bala terampuh. Mereka percaya bahwa pusaka yang pernah bersumpah dengan pemilik aslinya dapat memagari batas antara alam nyata dan jerat mimpi. Telapak tanganku menggenggam gagang tanduk rusa yang kasar itu. Dinginnya menusuk langsung ke pergelangan tangan, membakar saraf dengan kepedihan yang aneh sekaligus menenangkan.
"Jangan pernah lepaskan belati itu jika malam telah kehilangan suara serangganya, Fajri," suara parau Ayah mendadak bergema di relung ingatanku, ditarik dari kuburan kenangan masa kanak-kanak yang kelam. Malam itu, sebelum Ayah lenyap ke dalam rimba untuk selamanya, matanya merah menyala oleh ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Hutan rengas tidak pernah puas dengan satu persembahan. Jika mereka tidak bisa mengambil darahmu saat terjaga, mereka akan datang saat nafasmu melambat di ambang lelap."
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma anyir minyak kelapa sawit tengik yang kulaburkan pada bilah belati itu petang tadi untuk menahan karat. Rasa kantuk yang ganjil mulai turun menimpa kelopak mataku seperti selimut wol basah yang dijatuhkan dari langit-langit. Berat, lengket, dan tak tertahankan. Jemariku yang masih mendekap hulu belati perlahan mengendur tanpa kerelaanku. Di luar, kabut ungu keperakan yang mengapung di atas rawa mulai menjilati kaca jendela kamarku. Aku terpejam, tanpa menyadari bahwa tameng jiwaku telah runtuh tepat saat detak jam dinding tiba-tiba membisu.
˚༺☆༻
Bagian 02 : Banjir Hitam dan Dada yang Tertindih
Eskalasi Konflik : Terperangkap dalam Jerat Sleep Paralysis | Waktu: 01.28 WIB
🌺
Kesadaran itu tersentak kembali bukan karena cahaya fajar, melainkan karena hawa dingin yang luar biasa ganjil menusuk tepat di ujung-ujung jemari kakiku. Mataku terbuka seketika. Namun, duniaku telah bergeser ke dalam mimpi buruk yang berpori-pori padat.
Aku terbangun, tetapi tubuhku mati.
Kucoba menarik napas, namun sepasang paru-paruku seakan telah dicor dengan semen basah. Rusukku terkunci rapat, dihimpit oleh beban raksasa tak kasat mata yang duduk mengangkangi dadaku dengan bobot ratusan kilogram. Setiap inci serat otot dari leher hingga ujung kaki menolak perintah otak. Aku mencoba menggerakkan ujung jari telunjuk kananku—berharap bisa menyentuh kembali gagang tanduk rusa di bawah bantal—tetapi saraf motorikku terputus total. Yang tersisa hanyalah bola mataku yang meliar ketakutan di dalam rongganya.
Dan kemudian, bau itu menyeruak.
Bukan bau apak kasur kapuk tua atau asap obat nyamuk bakar, melainkan aroma tanah gambut busuk yang pekat, bercampur dengan anyir getah pohon rengas yang telah membusuk di dasar parit selama puluhan tahun. Dari bawah celah-celah papan lantai kamarku, air hitam legam mulai merembes naik. Mula-mula hanya berupa tetesan berkilat seperti peluh orang sekarat, lalu berubah menjadi genangan air rawa berbusa kuning kusam yang meluap pelan tanpa suara riak sedikit pun.
Air itu dingin laksana lelehan es kutub. Dalam hitungan detik yang terasa abadi, permukaan air ilusi itu telah menggenangi dipan kayu, merendam seprei, lalu merayapi pinggangku. Dinginnya tidak sekadar menyentuh kulit, melainkan menusuk langsung ke sumsum tulang belakang, membekukan aliran darahku. Aku bisa merasakan kebas yang mengerikan menjalar saat permukaan air hitam itu naik setinggi ulu hati, lalu menekan tulang rusukku hingga terdengar bunyi retakan halus di dalam kepalaku.
Jeritan tertahan melolong di tenggorokanku: *Ibu! Ayah! Tolong!* Namun pita suaraku telah kaku membatu. Tidak ada getaran suara yang lolos melewati bibirku yang membiru. Yang keluar hanyalah desis udara tipis yang tercekat, seperti hembusan angin terakhir dari binatang buruan yang terperangkap jerat kawat duri.