Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Ikrar Pasak Jiwa Baru

“Matahari tenggelam menyisakan cakrawala ungu tembaga. Lima sahabat menancapkan senjata mereka ke tanah lempung di gerbang desa. "Kita tidak menunggu rimba menelan Jiwa Baru," seru Bara lantang. "Kitalah yang akan menembus jantung Asam Tais!"”


 *ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Langit membara dingin, desis getah purba, aroma tembaga dan arang basah.

Cakrawala Ungu Tembaga dan Dosa di Lembah Hangus

🌺

Matahari di ujung horizon barat tidak sekadar terbenam; ia tampak seperti daging mentah yang perlahan membusuk di balik tirai kabut beracun. Sisa-sisa sinarnya menumpahkan sapuan warna ungu tembaga yang mengerikan ke atas pucuk-pucuk kanopi Rimba Rengas. Udara di Gerbang Batas Utama Jiwa Baru terasa tebal, berlendir oleh uap getah hitam yang meruap dari sela-sela akar raksasa. Setiap tarikan nafas menyisakan rasa logam berkarat di pangkal lidah, sebuah pertanda purba bahwa segel penahan yang memancang desa ini selama tiga generasi sedang meregang pada batas elastisitas gaibnya.

Bara Kembara berdiri mematung di ambang palang ulin hitam selebar empat rentangan lengan pria dewasa. Jemari tangan kanannya yang dibalut perban dekil bergetar tanpa sadar di atas hulu pedang 'Bara Senja'. Logam bilah itu, yang ditempa dari arang pohon beringin mati disambar petir, memancarkan denyut hangat samar—seolah pedang itu sendiri gelisah mencium aroma kematian yang merayap mendekat.

Dalam rongga dadanya, Bara merasakan denyut yang sama sekali berbeda: denyut rasa bersalah yang mengunyah kewarasannya perlahan-lahan bagai rayap di tiang penyangga rumah tua. Pemandangan kabut ungu tembaga di depannya menyeret ingatannya kembali ke lima tahun silam di Lembah Hangus. Kala itu, langit senja memiliki warna yang persis sama ketika ia diperintahkan oleh utusan istana untuk memutar kunci gerbang dan berlari menyelamatkan bundel gulungan arsip perbatasan, meninggalkan seratus empat puluh penduduk desa—termasuk kakeknya sendiri—terkunci rapat di dalam pagar pembatas yang terbakar oleh serbuan kabut getah hitam.

"Satu kali melarikan diri, seumur hidup kau menjadi anjing yang menggonggong pada bayang-bayang," bisik Bara pada dirinya sendiri, suaranya parau dan terperangkap di tenggorokan. Matanya yang merah menatap retakan sepanjang tiga jengkal pada tiang pasak utama di sebelah kirinya. Dari celah retakan itu, cairan kental berwarna keperakan menetes lambat-lambat ke atas tanah lempung basah. Setiap tetesan yang jatuh menimbulkan suara mendesis lirih, seakan tanah itu sendiri menjerit kesakitan karena terbakar oleh zat yang seharusnya melindunginya.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Derit kulit lontar lapuk, bau empedu ular rengas, desau angin dingin yang membawa bisikan.

Aksara Empedu dan Batas Kewarasan

🌺

Dua langkah di belakang Bara, Fariga Nashiha berlutut dengan lututnya tenggelam ke dalam lumpur lempung yang dingin. Jemarinya yang pucat dan bernoda jelaga membuka gulungan kulit ular Rengas selebar telapak tangan. Di atas permukaan kulit yang bersisik halus itu, larik-larik aksara purba Takhta Asam Tais tergores dalam tinta hijau pekat berbahan empedu ular rawa. Aksara-aksara itu tidak diam; di bawah sorot redup senja tembaga, guratan garisnya tampak menggeliat halus seperti larva di bawah kulit manusia hidup.

Fariga menekan pelipisnya yang berdenyut hebat. Rasa sakit kepala yang menusuk telah menyiksanya selama empat puluh delapan jam tanpa henti, sejak ia memecahkan bait kelima pada prasasti pasak luar. "Pola pasaknya tidak lagi sinkron, Bara," suaranya bergetar, tercekat di antara ketakutan dan histeria ilmiah yang tertahan. "Pasak tanah di sisi barat telah kehilangan polaritas gaibnya. Frekuensi getarannya turun drastis. Jika kita memaksakan resonansi pasak inti tanpa menyeimbangkan tumpuan barat, segel ini tidak akan pulih... ia justru akan meledak dan merobek batas realitas ruang ini."

Fariga menelan ludah yang terasa pahit. Dalam memorinya yang paling kelam, terbayang kembali wajah sang guru di Biara Pasak Pertama. Sang guru yang terhormat, setelah menyalin baris ketujuh dari kitab rahasia pendirian takhta, tiba-tiba tertawa melengking di tengah malam buta. Fariga mengingat dengan sangat jelas bagaimana jari-jari kurus sang guru dengan tenang dan mantap mencungkil kedua bola matanya sendiri dengan garpu tembaga, seraya bergumam tanpa henti: 'Mataku tidak pantas melihat bagaimana para raja menenun daging kita menjadi benang perisai!'

"Aksara ini... mereka menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar mantra, Bara," Fariga mendongak, matanya yang cekung menatap punggung pemimpin regu itu. Ujung bibir Fariga berdarah karena ia menggigitnya terlalu keras demi menahan dorongan untuk menjerit. "Ada prasyarat berdarah yang dihapus sengaja dari naskah resmi istana. Para bangsawan Asam Tais menyembunyikan pasal pengorbanan ini di bawah cap lak emas kaisar!"


˚༺☆༻


Bagian 03 : Gemuruh halus di bawah permukaan bumi, aroma akar lapuk, denyut nadi gaib yang sekarat.

Denyut Dingin di Bawah Lempung

🌺

Tepat di samping pasak kayu ulin yang retak, Walida Nissa melepaskan sarung tangan kulit rusanya. Tanpa ragu, wanita berambut ikal kelam itu menempelkan kedua telapak tangan telanjangnya langsung ke atas permukaan tanah lempung yang liat dan berbau busuk. Begitu kulitnya bersentuhan dengan bumi, seluruh tubuh Walida tersentak kejang seolah dialiri petir dingin dari kedalaman perut tanah.

Lihat selengkapnya