“Tetesan getah hitam dari ranting pohon melelehkan daun kering dengan desis beracun. Bara mengeraskan telapak tangannya dengan lapisan padas tebal, memotong akar-akar penghisap sebelum sempat menyentuh tabung herbal Ghonia.”
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Desis yang Mengikis Kewarasan
🌺
Kabut di Rengas Hulu tidak pernah benar-benar berupa uap air; ia adalah suspensi mikroskopis dari asam damar purba yang membusuk di udara lembap, berbau seperti tembaga terbakar dan bangkai lumut yang diperam ratusan tahun. Kanopi pohon-pohon rengas raksasa—batang-batang kelabu setinggi menara katedral kuno dengan urat-urat kayu memuntir seolah tersiksa—menutup langit secara mutlak. Cahaya mentari yang perkasa di luar sana hanya mampu menembus ke lantai rimba sebagai bias kehijauan yang sakit, membias di atas daun-daun basah selebar perisai perang.
Tetesan getah hitam dari dahan yang melengkung rendah jatuh menimpa dedaunan kering di dekat ujung sepatu Bara.
Cesss.
Suara desis itu pendek, tajam, dan mengerikan. Asap putih tipis membubung saat lamina daun terkarbonisasi dalam sekejap mata, meleleh menjadi lendir tar berbusa yang mendidihkan humus di bawahnya.
Bara Kembara tidak berkedip. Matanya yang sewarna batu obsidian menatap rerimbunan yang membisu dengan kewaspadaan binatang buas. Udara di sekelilingnya bergetar oleh denyut rendah yang tidak tertangkap oleh telinga biasa, melainkan merambat lewat tulang keringnya. Tanah di bawah mereka bernapas.
“Jangan melangkah melebihi bayang-bayang kakiku sendiri,” bisik Bara. Suaranya serak, berat, seperti gesekan dua lempeng batu kali yang digerus arus deras. “Rengas di sini bukan sekadar tegakan kayu. Mereka mencium garam keringat kita. Mereka lapar.”
Di belakangnya, Fariga Nashiha mendengus pelan, jemari lentiknya yang terbungkus sarung kulit biawak mencengkeram gagang belati berukir sulur kencana. Bibirnya yang pucat dipoles seringai getir yang tidak mampu menyembunyikan getar ketakutan di pelipisnya.
“Kita sudah membuang dua hari penuh untuk memutari rawa lintah, Bara,” desah Fariga, matanya menyapu tajam setiap lekuk akar kelabu yang menjalar liar. “Jika kau berniat merayap seperti kura-kura lumpur sementara utusan pamanku mendekati gerbang Takhta Asam Tais dari lereng timur, katakan sekarang. Aku tidak membawa kalian ke neraka basah ini hanya untuk mati membusuk oleh getah pohon keparat ini.”
“Tutup mulutmu, Fariga,” timpal Ghonia Rafifah tanpa menoleh. Tabib muda itu berlutut dengan satu kaki di atas gundukan lumut yang relatif kering, kedua tangannya yang dibalut kain perban rami memegang tabung silinder kaca tebal berpucuk kuningan—wadah ekstrak Daun Penawar Sumpah. Matanya terpejam, hidungnya yang mancung mengendus arah angin dengan kecermatan mengerikan. “Akar di sebelah kirimu bergeser tiga inci sejak kau menyelesaikan kalimatmu. Suara cempreng bangsawanmu menggetarkan serabut mereka.”
Fariga membeku seketika. Manik matanya bergulir ke bawah.
Tepat di samping tumit kirinya, sulur akar seukuran lengan anak-anak yang semula tampak seperti kayu lapuk kering perlahan-lahan merekah. Duri-duri halus berwarna ungu kehitaman mencuat dari kulit kayu, dan dari pori-porinya mengalir cairan hitam pekat yang mendesis pelan saat menyentuh udara.
˚༺☆༻
Bagian 02 : Dosa Padas dan Darah yang Hangus
🌺
Bara memejamkan mata sesaat. Dalam kegelapan batinnya, memori yang terkubur tujuh tahun silam menyeruak dengan kejam—bukan sebagai kenangan samar, melainkan sebagai kobaran api yang membakar kulit dadanya.
Malam jatuhnya Benteng Tais Selatan.
Kala itu, Bara masih mempercayai sumpah setia seorang kesatria padas. Ketika legiun pemberontak memuntahkan minyak tar ke gerbang kota, Bara berdiri di garis terdepan, merapal mantra terlarang untuk mengeraskan seluruh tubuhnya menjadi lempeng batu basal. Ia mengira dirinya adalah benteng tak tertembus. Namun, ia tidak pernah tahu bahwa minyak tar musuh telah dicampur dengan getah rengas purba dari hulu rimba.
Ketika api menyala, reaksi getah itu tidak hanya memanggang dagingnya, tetapi meresap ke dalam sumsum padasnya—mengubah kutukan pelindung menjadi parasit yang perlahan mengkristal di dalam pembuluh darahnya. Dan di hadapannya, adik kandung Ghonia—seorang juru racik muda yang mencoba membasuh luka Bara dengan minyak jarak—terjebak di bawah reruntuhan tiang yang meleleh oleh asam rengas. Bara mendengar jeritan anak itu menembus deru api, tetapi tangannya yang telah membatu terlalu lambat, terlalu kaku untuk mengangkat balok penyangga. Anak itu larut di depan matanya sendiri.
Itulah mengapa Ghonia tidak pernah memandangnya dengan senyuman. Itulah mengapa setiap desah napas Bara di hutan ini terasa seperti hukuman gantung yang diperpanjang.
“Bara!” bentakan Fariga memecah lamunannya.
Bumi bergetar hebat. Bukan gempa tektonik, melainkan pergerakan serentak dari jalinan akar raksasa di kedalaman lima belas hasta. Udara berbau busuk tajam seketika menyeruak saat lapisan tanah gambut terkoyak.
˚༺☆༻
Bagian 03 : Kepungan Sulur Rengas dan Urat Kanibal
🌺
Akar-akar rengas purba tidak merambat seperti tanaman biasa; mereka menyentak seperti tentakel cumi-cumi raksasa purba yang terbangun dari tidurnya. Tiga sulur berduri setebal paha manusia meluncur keluar dari dinding semak berduri, mengarah lurus ke arah Ghonia yang masih berlutut menjaga tabung herbalnya.
“Ghonia, merunduk!” teriak Bara.
Tanpa menunggu persetujuan logikanya, naluri pembunuh Bara mengambil alih. Ia menarik napas panjang, memusatkan denyut jantungnya ke lengan kanan. Pembuluh darah di lengannya menonjol, menghitam, lalu berkerut keras ketika kristal padas abu-abu gelap merambat dari pangkal bahu hingga ujung jemarinya. Kulitnya mengeras menjadi lempeng batu andesit padat berpola retakan api, mengeluarkan bunyi gemeretak purba yang mengerikan.
SYUUUT!
Sulur pertama menyambar, melilit pergelangan kaki Ghonia dan menyeretnya ke arah lubang pohon rengas berlubang yang menganga seperti mulut monster. Tabung herbal terlempar ke udara, berputar di atas semak berduri beracun.
“Amankan tabungnya, Fariga!” raung Bara sembari menerjang maju.
Namun Fariga justru melangkah mundur, matanya membelalak ketakutan saat melihat getah hitam menetes deras dari dahan atas tepat di jalur lintasan tabung tersebut. Fariga menimbang dengan kejam: jika tabung itu pecah, mereka kehilangan penawar kutukan raja; tetapi jika ia melompat menangkapnya, wajahnya yang elok dan nyawanya akan tersiram asam yang mampu mengikis tulang.
“Aku bukan babu rendahanmu, Bara!” pekik Fariga seraya menghunus belatinya hanya untuk memotong sulur kecil yang merayapi jubah suteranya sendiri.