Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Jebakan Rawa Serigala Lumpur

Tujuh tahun lalu, Bara ragu selama setengah detak jantung ketika adiknya, Raka, terperosok ke dalam lubang isap Bukit Kelabu. Tangannya hanya sempat menyentuh cincin perak di jari Raka sebelum lumpur menelannya. Sejak malam itu, Bara bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapa pun tenggelam di depan matanya—meski ia harus meruntuhkan seluruh gunung.

“Mata merah menyala di balik semak bakung rawa. Serigala berbulu lumpur mengaum, melompat serentak menerkam Fauzan. Bara menghentakkan tumitnya, memicu bebatuan tebing runtuh menimpa kawanan buas tersebut.”

 *ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Nafas Hitam Sembilan Telaga dan Lumpur

🌺

Kabut di Rawa Gambut Sembilan Telaga tidak berhembus mengikuti takdir angin; ia merayap serupa binatang melata yang kehausan darah dingin. Udara menggantung pekat, sarat dengan uap belerang busuk dan aroma bangkai vegetasi purba yang telah terperam selama seribu musim di bawah lapisan gambut asam. Setiap tarikan nafas terasa membakar tenggorokan, meninggalkan sensasi lendir beracun yang mengendap di rongga dada. Permukaan air sembilan telaga di sekeliling mereka tidak memiliki riak—ia sepekat tinta batu hitam, memantulkan bayangan langit senja tembaga yang tampak sekarat di balik tudung kanopi pohon besi.

Bara Kembara menghentikan langkahnya di tubir gundukan tanah lumut yang bergetar. Sepatu bot kulit berlapis lempeng baja yang membalut kakinya telah terbenam hingga batas mata kaki ke dalam lumpur hisap yang terus mendesah pelan, seolah bumi di bawah telapaknya memiliki paru-paru raksasa yang sedang megap-megap kehabisan daya hidup. Pandangan matanya menyapu vegetasi gelagah dan bakung rawa yang tingginya melampaui kepala manusia dewasa. Ada sesuatu yang salah dengan keheningan ini. Hutan basah ini tidak memiliki kicau burung malam ataupun derik jangkrik rawa. Keheningan di Telaga Keempat ini adalah keheningan yang dipaksakan—sebuah jeda hening yang hanya tercipta saat seisi rimba sedang menahan nafas karena predator tertinggi sedang merayap mendekat.

Di belakangnya, bunyi terengah yang berat dan patah-patah memecah sunyi. Fauzan Fardhan berlutut dengan satu kaki, bersandar pada sebatang dahan pakis purba yang rapuh. Jubah sutra berbordir benang emas khas bangsawan Asam Tais yang dikenakannya kini tak lebih dari secarik kain compang-camping berlumuran jelaga gambut dan darah pekat. Tangannya yang gemetar menekan rusuk kiri—di balik robekan zirahnya, tiga jalur luka menganga terus merembeskan cairan kental yang berkilau aneh dalam remang senja. Darah biru-keemasan milik garis keturunan Fardhan bukanlah darah biasa; ia menetes ke atas lumut rawa dan seketika membuat lumut tersebut mendesis, mengeluarkan gelembung busa keperakan yang menguarkan aroma manis memuakkan.

'Bara... berhenti,' bisik Fauzan, suaranya parau tersendat oleh rasa sakit yang menusuk diafragma. 'Kakiku... lumpur ini tidak membiarkanku mengangkat tumit. Rasanya ada ratusan jemari es di bawah sana yang sedang menarik betisku ke liang kubur.'

Fariga Nashiha bergegas mendekat, jubah mistikusnya yang berwarna abu-abu arang berdesir menyapu semak basah. Matanya yang tajam dan dinaungi lingkaran hitam kelelahan menatap cemas ke arah tanah di sekitar Fauzan. Di dadanya, terbungkus kain sutra bermantra pelindung, sebuah gulungan perkamen kayu berderit lirih memancarkan pendar cyan tipis. 'Jangan banyak bergerak, Pangeran Fauzan!' seru Fariga dengan desis tertahan namun penuh ketegasan yang menggigit. 'Ini bukan lumpur endapan biasa. Ini adalah Gambut Hisap Sembilan Telaga—lumpur purba yang diikat oleh kutukan darah seratus tahun lampau. Semakin kau melawan dengan kepanikan darah bangsawanmu, semakin lapar ia menelan daging dan tulangmu!'


˚༺☆༻


Bagian 02 : Mata Delima di Rerimbunan Bakung

🌺

Tepat ketika Fariga menyelesaikan kalimatnya, bau anyir besi berkarat bercampur tanah beku tiba-tiba menyengat hidung mereka dengan intensitas yang melumpuhkan syaraf. Dari balik barisan bakung rawa yang berjarak tak lebih dari dua puluh langkah di sebelah barat, daun-daun basah tersibak tanpa suara. Cahaya senja yang temaram seketika terpantul pada sepasang titik merah menyala.

Lalu sepasang lagi. Tiga. Enam. Sembilan pasang mata merah delima berkilat di kegelapan semak belukar, menyala seperti bara api yang ditiup di dalam gua kuburan. Suara geraman rendah yang bergetar merambat bukan melalui udara, melainkan melalui getaran lumpur basah yang merayapi telapak kaki ketiga orang itu.

Mereka muncul perlahan dari dalam rawa, seolah tercipta dari lendir dan lumpur itu sendiri. Serigala-serigala itu bertubuh sebesar lembu jantan muda. Bulu mereka tidak lagi terbuat dari serat helai rambut, melainkan dilapisi kerak lumpur gambut hitam yang mengeras membatu, membentuk pelat-pelat zirah cadas bergerigi di sepanjang punggung dan tengkuk mereka. Ketika mereka melangkah, lelehan lumpur kental bercampur asam rawa menetes dari surai mereka, membakar tanaman air yang mereka injak hingga hangus menghitam. Moncong mereka memanjang dengan gigi-gigi taring yang terbuat dari patahan batu gamping tajam, meneteskan liur berbusa abu-abu.

'Serigala Lumpur Beku...' desah Fariga, pupil matanya melebar ketakutan saat tangannya meraba jimat aksara di dadanya. 'Mereka bukan sekadar binatang buas pemburu. Mereka adalah penjaga lapis keempat. Mengapa mereka bangkit serentak sebelum kita menyentuh air telaga kelima?'

'Darahnya,' potong Bara dingin, suaranya mantap tanpa secuil pun keraguan meski otot-otot lehernya menegang kencang seperti kawat baja yang ditarik batas lentur. 'Darah keemasan keturunan Fardhan di tubuh Fauzan adalah kunci sekaligus racun bagi rawa ini. Bagi mereka, aroma darah itu adalah panggilan untuk menagih hutang nyawa masa lalu.'

Serigala pemimpin—sosok mengerikan berbulu cadas abu-abu dengan bekas luka cakaran di mata kirinya—mengangkat moncongnya ke langit senja. Sebuah lolongan memecah kesunyian rawa. Bukan lolongan serigala biasa, melainkan derit batu yang saling bergesekan dengan kecepatan tinggi, bergema memekakkan telinga hingga permukaan sembilan telaga di sekeliling mereka memercikkan air hitam setinggi lutut.

Tanpa aba-aba tambahan, tiga serigala di barisan terdepan melenting ke udara. Tubuh mereka yang terbungkus zirah lumpur batu meluncur lurus ke arah Fauzan yang masih terperangkap hingga lutut di dalam kubangan hisap!


Lihat selengkapnya