Roda kereta berlapis kuningan mencuat dari lumpur hitam hangus. Fajri memungut belati yang tertinggal di dekat abu pembakaran. \"Besi tempa ini memakai cap dewan elit Zahirul Ikhsan. Mereka sendiri yang membantai para saksi mata pengiriman kristal!
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Kabut Rengas dan Jerit Hening di Lembah Hitam
🌺
Udara di sepanjang Jalan Setapak Kuno Lembak-Rengas berasa seperti tembaga berkarat dan lumut basah yang membusuk di bawah terik samar matahari pegunungan. Setiap tarikan napas menggores tenggorokan dengan kepedihan getir; getah pepohonan rengas purba yang menjulang laksana dinding raksasa menetes perlahan, hitam berkilau bagai tetesan darah beku para martir yang tak tercatat dalam kronik takhta Asam Tais. Di tempat ini, keheningan bukanlah ketenteraman, melainkan ketiadaan yang mencekam—tiada siulan burung jalak rimba, tiada derit serangga dahan, hanya bisikan dingin angin yang tersaring melalui celah kanopi lumut setebal selimut pemakaman.
Bara Kembara melangkah dengan lutut yang terasa berat, seolah setiap jengkal tanah lumpur yang ia pijak menuntut tebusan darah. Lengan kirinya, yang terbebat kain rami cokelat kusam hingga ke pergelangan, kembali berdenyut perih. Rasa sakit itu bukan luka fisik baru, melainkan gema dari Segel Sumpah Takhta yang tertanam di balik dagingnya—sebuah ikatan purba yang terikat pada eksistensi Kristal Segel Asam Tais. Setiap kali frekuensi kristal terganggu atau dirusak dengan kekerasan, saraf-saraf di sepanjang urat peraknya terbakar bagai ditusuk jarum panas menyala.
"Berhenti sejenak, Bara," bisik Nashiha Salma dari belakang. Langkah wanita itu nyaris tanpa suara, namun napasnya tersengal di balik kerudung sutra kelabu yang mulai ternoda jelaga hutan. Ujung jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis menggenggam tabung kuningan penunjuk anomali resonansi. Jarum perak di dalamnya berputar liar tak tentu arah, berguncang seperti kompas di pusaran badai magnetik. "Getaran eternya... teramat kacau. Bukan hanya pecah, ini adalah pembongkaran paksa yang disengaja. Seseorang merobek anyaman gaibnya beberapa jam yang lalu."
Bara tidak menoleh, namun rahangnya mengeras. Pikirannya terseret ke belakang, ke lorong-lorong batu dingin di Balai Pertemuan Kota Asam Tais enam tahun silam, saat Zahirul Ikhsan masih meletakkan tangannya di atas pundak Bara dengan senyum seorang paman yang penuh kebapakan. *‘Takhta membutuhkan pengorbanan yang tak terlihat oleh rakyat jelata, anak muda,’* kalimat Zahirul saat itu berdengung kembali di pelipisnya dengan kepekatan racun. Dulu, Bara mengira pengorbanan yang dimaksud adalah kepatuhan buta pada hukum dewan. Kini, menatap kabut kelam Lembak-Rengas yang menyembunyikan aroma daging hangus, Bara mengerti bahwa pengorbanan bagi Zahirul tak lebih dari sekadar angka dalam neraca pembantaian para saksi.
˚༺☆༻
Bagian 02 : Abu Api Hitam dan Puing Karavan Bangsawan
🌺
Mereka menuruni ceruk sempit berbatu cadas yang licin oleh lumut berminyak hingga tiba di sebuah tikungan tajam yang terhalang reruntuhan batang pohon tumbang. Di sanalah pemandangan mengerikan itu membentang tanpa tedeng aling-aling.
Sebuah karavan mewah bangsawan kota—yang seharusnya berderap gagah dengan kawalan lapis baja dan panji sutra keemasan Dewan Asam Tais—kini tak lebih dari rongsokan gosong yang mengenaskan. Tiga kereta roda empat berukir lambang sulur teratai kerajaan hancur luluh lantak, terbelah menjadi serpihan kayu arang yang masih mengepulkan asap tipis berwarna kelabu keunguan. Bau sangit daging terbakar berpadu memuakkan dengan aroma belerang dan wangi dupa pengawet mayat kelas ningrat.
Namun yang membuat darah Bara tersirap bukan sekadar kehancurannya, melainkan substansi yang melumuri tanah di sekeliling puing. Tanah liat pegunungan yang biasanya merah kekuningan telah bermutasi menjadi lumpur hitam pekat yang dingin membeku saat dipandang, namun memancarkan riak hawa panas yang membubung tak kasat mata. Abu di atasnya bukan abu putih kayu hutan yang rapuh, melainkan serpihan halus berwarna jelaga arang obsidian yang tidak terhembus embusan angin gunung.