Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Lentera Damar Embun Rawa

“Cahaya keemasan berpendar dari kaca lentera berbahan damar murni. Udara beracun yang pekat di sekitar mereka seketika luruh menjadi uap jernih. Siluet monster ilusi yang meliuk-liuk di udara terbakar habis saat tersorot sinar lentera Ghonia.”

 *ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Kabut Getah Merah & Ilusi yang Bernapas

Napas Lembah Jamur Spora Menyala

🌺

Lembah Jamur Spora Menyala membentang bagai perut raksasa yang membusuk dalam keindahan terkutuk. Udara tidak lagi berupa oksigen yang layak dihirup; ia adalah suspensi pekat dari debu spora bioluminesen berwarna lembayung dan sian, melayang lesu di antara batang-batang bakau hitam purba yang getahnya mengalir kental serupa darah arteri yang menghitam. Setiap helaan napas terasa seperti menelan serbuk kaca halus yang dibasahi cuka belerang. Di bawah tapak sepatu kulit mereka yang koyak, serabut miselium menjalar merayap bagai jejaring pembuluh vena purba, berdenyut pelan dalam ritme yang ganjil dan menghipnotis.

Bara Kembara menahan batuk di balik kain penutup wajahnya yang telah menghitam oleh endapan spora. Di pergelangan tangan kirinya, garis-garis hitam keunguan—tanda kutukan segel Asam Tais—mulai berpendar menembus kulit kasarnya. Rasa panasnya menjalar hingga ke belikat, seolah ada logam mendidih yang dituang perlahan ke dalam sumsum tulangnya. “Berapa lama lagi, Ghonia?” suaranya parau, tergerus oleh uap asam yang mengambang di atas lumut rawa. “Paru-paruku terasa seperti diisi pasir basah. Jika lentera damarmu gagal memisahkan ilusi dari kenyataan dalam setengah dupa ini, kita berdua hanya akan menjadi pupuk baru bagi jamur-jamur keparat ini.”

Di sampingnya, berlutut di atas bongkahan akar yang mencuat dari lumpur hisap, Ghonia Rafifah tidak segera menjawab. Tangannya yang ramping namun penuh kapalan alkimia sedang mengencangkan katup kuningan pada sebuah silinder lentera bersegi delapan. Wajah gadis itu pucat pasi di bawah bayang-bayang tudung jubahnya, dibasahi keringat dingin yang berkilau di bawah temaram pendaran spora. Pipinya yang tirus menegang, memperlihatkan rahang yang terkatup rapat oleh ketegangan saraf yang nyaris putus. Di dalam rongga lentera yang dipegangnya, cairan merah menyala bergulung-gulung: Getah Damar Merah, hasil penyulingan getah pohon damar purba berusia tiga abad yang dicampur dengan embun asam rawa berkadar sulfur murni.

“Tutup mulutmu dan jangan menarik napas terlalu dalam, Bara,” desis Ghonia tajam, nadanya sarat urgensi yang tak memberi ruang bagi keluhan. Matanya menatap lekat celah-celah udara di depan mereka, di mana partikel spora mulai membentuk siluet-siluet bengkok yang meliuk di udara. “Rawa ini tidak hanya meracuni darahmu. Rawa ini mempelajari apa yang paling kau tangisi di tengah malam. Spora-spora ini adalah mata dan telinga dari sesuatu yang jauh lebih tua dari takhta kotamu. Jika kau biarkan getaran ketakutanmu merayap ke luar, ilusi rimba ini akan merobek kewarasanmu sebelum racunnya sempat menghentikan jantungmu.”

Saat itu juga, kabut ungu di hadapan mereka bergolak. Udara mendadak terasa dingin membekukan, kontras dengan hawa rawa yang lembap dan menyengat. Dari balik tirai spora yang berpusar lambat, melangkah keluar sesosok bayangan bertubuh tegap berbalut zirah tembaga yang hancur berkarat. Wajah sosok itu kabur, namun lencana elang berkepala dua di dadanya memantulkan kilau yang amat Bara kenali—lencana Raden Aling, sahabat masa kecil sekaligus perwira pengawal takhta yang tangannya terlepas dari genggaman Bara di rawa hisap ini sepuluh tahun silam.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Retrospeksi di Balik Kaca Damar

Dosa Sepuluh Tahun & Darah Penyulut Alkimia

🌺

“Bara...” Gaung suara itu tidak merambat melalui udara, melainkan berdentang langsung di balik tempurung kepala Bara Kembara. Sosok bayangan berzirah tembaga itu mengangkat lengannya yang berlumpur, jari-jemarinya yang hancur menuding tepat ke dada Bara. “Kau meninggalkanku di palung lumpur Asam Tais. Kau berlari membawa lencana segel itu, membiarkan rawa ini menelan jeritanku sementara kau berlutut di hadapan bangsawan penipu di istana! Apakah sekarang kau kembali untuk melihat tulang-tulangku mekar menjadi tudung jamur beracun?”

Lutut Bara gemetar. Telapak tangannya yang menggenggam hulu pedang berlumur getah mendadak basah oleh keringat dingin. Retrospeksi sepuluh tahun silam menghantamnya tanpa ampun: malam berkabut ketika kudeta berdarah merobek kedamaian Asam Tais. Bau darah segar bercampur lumpur rawa yang menggelegak; tangan Aling yang basah licin mencengkeram pergelangan tangannya di tubir rawa hisap; dan keputusan terkutuk Bara untuk melepaskan cengkeraman itu demi menyelamatkan gulungan segel takhta yang dibawanya lari ke pedalaman rimba. Sejak malam itu, setiap kali matanya terpejam, ia selalu merasakan sensasi dingin jari-jemari Aling yang terlepas dan lenyap ke dalam kegelapan pekat.

“Aling... itu bukan kehendakku...” bisik Bara tanpa sadar, suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap bayangan itu, pupilnya melebar oleh fatamorgana yang kian memadat. Bayangan itu kini melangkah maju, memamerkan rongga dada yang bolong tempat anyaman akar jamur tumbuh menggantikan organ tubuhnya. “Aku harus menyelamatkan segel itu... aku harus...”

“Bara, sadarlah! Itu bukan manusia, itu hanya bangkai spora yang memakan rasa bersalahmu!” Teriakan Ghonia memecah kabut tebal, diiringi bunyi desis tajam logam yang bergesekan. Gadis itu tidak membuang waktu. Dengan pisau bedah kecil berujung runcing di tangan kirinya, ia menyayat ibu jari kanannya tanpa ragu. Tetesan darah merah pekat jatuh tepat ke lubang injeksi bagian atas Lentera Damar Embun Rawa.

Begitu tetesan darah Ghonia menyentuh inti getah damar merah cair, sebuah reaksi alkimia yang menakjubkan sekaligus mengerikan terjadi. Getah kental di dalam tabung kuarsa itu bergolak liar bagai magma cair. Asap putih tipis beraroma kemenyan purba dan minyak cemara menyembur dari cerobong kecil lentera. Di dalam bola kaca, cahaya yang semula redup kekuningan mendadak meledak menjadi pendaran merah keemasan yang luar biasa menyilaukan. Udara di sekitar mereka bergetar dengan frekuensi rendah yang membuat gigi bergemeretak.

“Cahaya damar murni tidak bisa dinyalakan hanya dengan minyak batu,” ujar Ghonia dengan napas memburu, bibirnya bergetar menahan perih sayatan. Matanya berkilat dengan determinasi liar warisan para alkemis rimba yang tersingkir dari istana Asam Tais. “Damar merah adalah kristalisasi air mata pohon purba saat rimba ini pertama kali terbakar. Ia butuh esensi kehidupan untuk membuka mata apinya. Pegang gagang lentera ini bersamaku, Bara! Sorotkan langsung ke arah ilusi itu sebelum spora parasit menancapkan miseliumnya ke dalam urat lehermu!”


˚༺☆༻


Lihat selengkapnya