"Ketika amarah menghunus pusaka di atas palung asam, kau bukan lagi penyelamat—melainkan pasak yang meremukkan segel purba."
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Titian Rapuh di Atas Kawah Belerang
🌺
Uap belerang mengepul pekat dari celah-celah ngarai Sungai Asam, naik ke udara laksana napas naga purba yang terbangun dari tidur ribuan tahun. Bau tajam tembaga terbakar dan kebusukan lumpur purbakala mencekik tenggorokan Bara Kembara. Setiap tarikan napas menggores paru-parunya seperti taburan serbuk kaca. Di bawah telapak kakinya yang beralaskan kulit rusa usang, bentangan jembatan padas itu bukanlah jembatan buatan tangan manusia—melainkan lidah batu kapur purba yang terjulur rapuh melintasi jurang sedalam tiga ratus depa.
Di dasar ngarai yang gelap pekat, riam air asam toska bergolak ganas, memuntahkan busa kekuningan yang mendesis tatkala membakar bongkahan granit yang runtuh.
Angin lembah liar mendadak melolong. Hembusannya datang tidak dari satu arah, melainkan berputar dari dinding-dinding jurang yang menganga, merengkuh jubah kelabu Bara dan mencambuk wajahnya dengan butiran kerikil tajam. Udara lembah ini hidup; ia memiliki kehendak purba yang lapar. Bara menatap ke bawah sekejap, merasakan dengung bergetar di telapak kakinya. Padas ini rapuh. Di bawah lapisan lumut kelabu yang kering, urat-urat batu kapur itu berongga, retak oleh rembesan air asam yang tak pernah berhenti menggerogoti selama ratusan musim. Satu injakan yang salah, dan batu penopang seberat gajah sekalipun akan luruh, meluncur tanpa ampun menuju kubangan kematian yang tak berdasar.
Di seberang titian yang tinggal selebar dua rentangan tangan, sosok itu telah menunggunya.
Zahirul Ikhsan berdiri tegak di tengah jembatan padas yang retak, tak bergeming sedikit pun oleh amukan angin lembah. Jubah suteranya yang hitam pekat berhias sulaman benang emas bermotif pusaran kabut berkibar megah, menantang keganasan alam rimba. Di belakangnya, dalam formasi melengkung laksana sabit pemanen maut, berbaris tujuh prajurit bertopeng serigala bayangan. Topeng-topeng perunggu itu berukir seringai buas tanpa mata, menatap dingin dengan tombak-tombak bermata ganda yang diarahkan tepat ke hulu dada rombongan Bara.
Dentingan logam memecah raungan angin.
*Cring!*
Zahirul membuka kipas besinya dengan satu hentakan pergelangan tangan yang anggun namun mematikan. Bilah-bilah kipas itu tidak terbuat dari sutra atau bambu, melainkan lempengan baja tempaan hitam legam berukir rajah bisa ular sembilu. Cairan hijau pekat berkilap di ujung setiap bilah tipisnya, menguapkan desis halus yang langsung menguningkan rerumputan kerdil di sela kakinya.
"Bara, kau dan ayahmu sama saja—terlalu naif untuk tanah ini," suara Zahirul terdengar tenang, meluncur menembus desau angin ngarai dengan kejelasan yang menusuk sanubari. Matanya yang tajam menyipit, berkilat bagai mata elang lapar di atas bangkai buruan. "Ki Sabrang menghabiskan separuh usianya bersembunyi di balik mantra belas kasih, menolak kenyataan bahwa kekuasaan tidak pernah dimenangkan oleh orang-orang yang gemetar melihat darah. Pengorbanan Jiwa Baru adalah tumbal wajar untuk membuka gerbang takhta Asam Tais!"
˚༺☆༻
Bagian 02 : Pergolakan Batin dan Bayang-Bayang Ki Sabrang
🌺
Kata-kata itu menghantam dada Bara lebih keras daripada kepalan baja.
*Ayah.*
Nama itu seketika meledakkan gelombang panas yang membakar rongga dadanya, disusul rasa dingin yang menggigilkan sumsum tulang. Di balik kelopak matanya yang memicing menahan terpaan debu padas, ingatan lama menyeruak liar—sebuah kenangan yang selama ini ia kunci rapat di dasar jiwanya.
Tujuh musim silam, di sebuah gubuk reyot di tepi rawa sunyi, ayahnya terbaring di atas amben bambu yang berbau rempah kering dan darah basi. Dada Ki Sabrang yang dulu kokoh layaknya banteng rimba telah susut, naik turun tersengal-sengal oleh bisa racun yang mengeroposkan jantungnya. Malam itu, tangan tua yang bergetar hebat itu mencengkeram pergelangan Bara begitu erat hingga meninggalkan bekas biru.
*"Bara... jangan pernah biarkan kakimu melintasi Jembatan Padas Patah..."* bisik sang ayah dengan bibir pecah-pecah yang berlumur darah hitam. *"Zahirul akan datang membawa topeng serigala... ia akan menuntut Jiwa Baru. Tapi dengarkan aku, anakku... jangan gunakan amarahmu untuk membalasnya. Begitu Kala Sungsang kau hunus dengan nafsu membunuh di atas Sungai Asam, kau bukan lagi penyelamat. Kau adalah palu yang meremukkan pasak dunia."*
Kala itu, Bara hanya mengangguk sembari menahan air mata yang tumpah ke punggung tangan ayahnya. Ia mengira kata-kata itu hanyalah racauan seorang lelaki sekarat yang dihantui ketakutan pada musuh bebuyutannya. Ia mengira 'Jiwa Baru' adalah kiasan bagi bayi-bayi atau gadis perawan desa hulu yang kerap dikabarkan hilang diculik faksi bayangan. Namun kini, berdiri di tepi jurang berselimut kabut belerang, dengan dengungan bilah pusaka Kala Sungsang di punggungnya yang terus bergetar tanpa henti, kesadaran dingin merayapi tengkuknya.
Pedang pusaka warisan ayahnya tidak pernah bergetar seperti ini. Bilah berlekuk tujuh yang terbungkus warangka kayu cendana berukir rajah kuno itu seolah bernapas, menyerap uap beracun ngarai dan mengubahnya menjadi panas yang menjalar ke tulang punggung Bara.
"Bara, jangan dengarkan racun lidahnya!"
Suara di sampingnya terdengar tercekat. Fauzan Fardhan melangkah setengah depa di sisi kiri Bara, jemarinya yang pucat mencengkeram erat kotak perunggu bertatahkan aksara Sangkuri kuno. Jubah batik gelap sang juru arsip telah basah oleh keringat dingin, menempel lekat pada tubuhnya yang kurus. Namun ada sesuatu yang ganjil pada sorot mata Fauzan. Lelaki terpelajar yang telah mendampingi perjalanan Bara melintasi rimba perawan selama berminggu-minggu itu tidak menatap Zahirul dengan amarah murni.
Di balik kelopak matanya yang berkedut gugup, terpancar kepedihan yang teramat sangat—sebuah rasa bersalah yang teramat dalam, nyaris menyerupai tatapan seorang algojo yang tengah menghitung detik-detik sebelum melepaskan tali gantungan pada leher orang tak bersalah.
"Fauzan," gumam Bara lirih tanpa menoleh, giginya terkatup rapat. "Kau tahu apa yang dia maksud dengan Jiwa Baru, bukan? Sepanjang jalan dari Lembah Tais, kau menyuruhku mempercepat langkah. Kau bilang kita harus tiba sebelum bulan mati. Kau merahasiakan sesuatu dariku."
Fauzan menelan ludah. Jakunnya naik turun dengan susah payah di tengah kepulan uap belerang. "Bara... demi Hyang Tunggal Penjaga Rimba, pusaka di punggungmu adalah satu-satunya pelindung kita. Jika Zahirul merebut takhta Asam Tais dan membiarkan darah tertumpah ke mata air asam, seluruh kerajaan hulu akan tenggelam dalam lahar racun. Jangan goyah! Fokuskan matamu pada iblis di hadapanmu!"
Jawaban itu licin, terlalu cepat, dan dibalut kepanikan yang janggal. Namun waktu untuk menimbang keraguan telah habis.
˚༺☆༻
Bagian 03 : Ujian Kewarasan di Atas Titian Maut
🌺
Zahirul melipat kipas besinya dengan suara *kletuk* tajam yang bergema di celah tebing. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang pucat—senyum seorang bangsawan yang terbiasa melihat bidak-bidak catur bergerak tepat sesuai kehendaknya.
"Lihatlah dirimu, Bara," ejek Zahirul, jemarinya mengetuk-ngetuk bilah kipas beracun ke telapak tangannya. "Bocah malang yang memikul pedang terkutuk peninggalan pengkhianat. Ayahmu mencuri Kala Sungsang dari perbendaharaan Asam Tais tiga puluh tahun lalu. Dia mengklaim menyelamatkan dunia, padahal dia hanya seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab darahnya! Tidakkah kau mencium baunya, anak muda? Bau belerang ini bukan sekadar tanah vulkanik. Ini adalah napas kakek buyutmu!"