“Dari dasar mata air bergelembung, menyembul batu amber sebesar kepalan tangan. Sinarnya menari-nari membiaskan warna madu keemasan. Ghonia tertegun saat luka cakar di lengan Bara menutup seketika hanya dengan mendekatkan batu tersebut.”
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Denyut Halimun dan Nanah Hitam Rimba Rengas
Kabut yang Mengunyah Paru-Paru dan Keheningan yang Mencekam
🌺
Kabut tebal Halimun Rengas tidak pernah sekadar turun dari langit; ia merayap keluar dari liang-liang tanah basah laksana napas busuk binatang raksasa yang sedang sekarat. Di ketinggian hulu rimba ini, molekul udara terasa berat, pekat oleh uap belerang purba dan asam getah pohon rengas yang mampu meluluhkan kulit manusia menjadi serpihan abu kelabu dalam hitungan menit. Setiap tarikan napas Bara Kembara adalah siksaan yang terukur. Paru-parunya serasa digerus pecahan kaca halus, sementara kain kafan penutup wajah yang ia lilitkan tiga lapis sudah basah oleh embun beracun yang berbau cuka busuk dan tembaga berkarat.
Di hadapannya, beberapa langkah dari bibir tebing batu cadas yang licin berlumut hitam, terbentang telaga yang selama tiga abad hanya disebut dalam bisik-bisik ketakutan para penjelajah gila: Mata Air Emas Hitam Rengas. Permukaan air itu tidak memantulkan langit yang kelabu temaram, melainkan bergolak lambat dalam kekentalan yang ganjil—seperti minyak bumi mentah yang dicampur lelehan madu beracun. Gelembung-gelembung gas sebesar kepala anak kecil menyembul dari dasarnya, pecah tanpa suara, melepaskan kepulan asap kuning keemasan yang langsung ditelan oleh dinding kabut yang mengepung mereka dari empat penjuru angin.
Pohon-pohon rengas raksasa yang mengelilingi mata air itu tampak seperti pilar-pilar katedral terkutuk yang hangus terbakar. Batang-batangnya yang meliuk bengkok setinggi tiga puluh depa diselimuti sulur-sulur hitam yang meneteskan getah kental. Getah itu jatuh ke bebatuan kali dengan desis pelan yang mengerikan, melubangi batu cadas keras seolah-olah batuan purba itu hanyalah bongkahan lemak dingin. Alam di tempat ini tidak sekadar bermusuhan; tempat ini menolak eksistensi segala sesuatu yang bernyawa dan berdarah hangat.
Bara menahan erangan yang hendak lolos dari sela giginya yang bergemeletuk. Tangan kanannya gemetar hebat. Di balik balutan perban kain rami yang kotor berlumur lumpur, luka cakar binatang penjaga gerbang asam terus berdenyut panas, menyebarkan sengatan racun yang kini telah menjalar hingga ke pangkal bahunya. Kulit di sekitar luka itu mulai merekah, mengeluarkan cairan bening keemasan yang berbau manis memabukkan—tanda tak terbantahkan bahwa dagingnya sedang bersiap untuk membusuk dari dalam, menyatu dengan kebusukan rimba Rengas.
---
Mengapa ia harus bertahan hidup sejauh ini? Pertanyaan itu menghantam dinding nurani Bara dengan kejam, lebih menyakitkan daripada nanah asam yang membakar urat lengannya. Setiap kali kepalanya pusing akibat racun halimun, kenangan tujuh tahun silam selalu menyeruak tanpa ampun, tajam dan dingin laksana mata pedang yang dibenamkan perlahan ke ulu hati.
Malam itu, Balairung Kaca Asam Tais tidak berbau getah pohon, melainkan bau dupa gaharu yang dipadamkan oleh semburan darah hangat para pengawal wangsa. Ayahandanya, Sri Paduka Kertajaya Tais, duduk kaku di atas singgasana kayu cendana berukir naga asam dengan mata yang telah memutih tanpa jiwa. Bara yang saat itu baru berusia tujuh belas tahun, dipaksa menyaksikan ibundanya—Permaisuri Ratna Kemuning—diseret menuruni tangga pualam oleh orang-orang berjubah sutra hitam milik dewan bangsawan. Bara masih ingat betul bunyi gesekan kuku-kuku jari ibunya yang mencakar lantai marmer dingin, berusaha menggapai jubahnya, meninggalkan garis-garis darah tipis yang tak pernah terhapus dari benak sang pangeran.
'Lari, Bara! Jangan biarkan mereka mengambil jantungmu untuk mustika kedua!' lolong ibunya malam itu sebelum pintu besi ruang bawah tanah berdentum menutup. Suara jeritan terakhir ibunya terpotong oleh dentang genta perunggu istana yang mengabarkan pergantian takhta secara paksa. Sejak fajar berdarah itu, Bara bukan lagi seorang pangeran pewaris mahkota agung; ia adalah buronan yang hidup di antara kotoran kuda dan semak belukar liar, menukar nama aslinya dengan julukan 'Kembara'—sebuah pengingat abadi bahwa ia hanyalah sebutir debu terkutuk yang melarikan diri dari takdir darahnya.
Kini, berdiri di tepi Mata Air Emas Hitam, Bara menyadari kebenaran yang mengerikan: ia tidak sedang melarikan diri lagi. Seluruh langkah kaki yang ia ayunkan melintasi rawa berduri dan jurang terjal selama tujuh tahun pengasingan, secara gaib selalu menuntunnya kembali ke rahim kutukan leluhurnya. Darah wangsa Tais di dalam tubuhnya bereaksi terhadap getah rengas purba. Nadi di pergelangan tangannya berdenyut seirama dengan gelembung air hitam di hadapannya, seakan-akan lumpur di dasar telaga mengenali anak hilang yang membawa kunci pembuka rantai purba.
˚༺☆༻
Bagian 02 : Ghonia Rafifah: Denyut Nadi yang Membisu
Sumpah Sang Tabib di Bawah Ancaman Pembusukan Hitam
🌺
Di sebelah kiri Bara, berlutut seorang gadis yang napasnya tersengal pendek di balik selendang tenun kumal. Ghonia Rafifah merapatkan kedua tangannya di dada, jemarinya yang lentik menggenggam erat sebuah botol porselen hijau lumut yang hampir kosong. Minyak penawar sari daun pegagan liar yang ia racik semalam di bawah lindungan gua batu telah habis tandas, tak berdaya melawan kebuasan halimun yang kian pekat menekan rongga dada mereka.
Namun bukan ketiadaan obat yang membuat tubuh Ghonia menggigil tak terkendali. Di balik lengan bajunya yang longgar, tersimpan rahasia yang ia tutupi dengan kepedihan membisu. Tiga malam lalu, saat ia nekat menerobos semak duri beracun demi mengambil lumut perak untuk mengompres dahi Bara yang demam tinggi, sebutir tetesan getah rengas murni telah memercik ke urat nadi pergelangan tangan kirinya. Garis hitam tipis kini telah merayap naik hingga ke siku, bercabang-cabang seperti akar tanaman iblis yang sedang menancapkan cengkeramannya ke dalam pembuluh darah intinya.
Ghonia tahu persis ilmu patologi rimba ini. Gurunya, Ki Wilis Sembung, telah memperingatkannya berulang kali sebelum mati diracun oleh telik sandi istana: 'Jika getah asam rengas telah menembus batas siku seorang tabib, maka setiap herba yang disentuhnya tidak lagi membawa kesembuhan, melainkan percepatan pembusukan.' Ghonia telah menguji teori itu tadi pagi ketika daun sirih hutan yang ia remas seketika menghitam dan hancur menjadi serbuk abu di telapak tangannya.
Dialog batinnya berteriak histeris di balik topeng ketenangan seorang penyembuh. 'Bara tidak boleh tahu,' bisiknya berulang kali dalam gelap jiwanya. 'Lelaki ini memikul rasa bersalah atas seluruh kematian di dunia. Jika ia tahu aku sekarat karena mencoba mengobatinya, ia akan melempar dirinya sendiri ke dalam mata air ini hanya untuk menyelamatkanku.' Ghonia menatap punggung tegap Bara yang dipenuhi bekas luka cambuk dan sayatan pedang. Ada rasa cinta yang begitu getir dan terlarang di dalam dadanya—cinta seorang anak keturunan algojo istana kepada pangeran yang keluarganya telah dibantai oleh leluhurnya sendiri. Tato samar berbentuk bunga teratai hitam di punggung leher Ghonia adalah cap aib yang membakar kulitnya setiap kali angin halimun berembus.
---
Sementara itu, lima langkah di belakang mereka, Fajri Nadhir berdiri kaku dengan kedua mata menyipit tajam menembus tabir halimun. Cendekiawan istana berusia tiga puluh lima tahun itu memeluk gulungan naskah lontar berlapis lilin lebah dengan kehati-hatian seorang penjudi yang mempertaruhkan nyawa terakhirnya di atas meja taruhan. Jubah abu-abunya yang compang-camping dihiasi lambang burung camar bersayap patah—segel resmi Arsip Terlarang Kerajaan Asam Tais.