Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Pengkhianatan Dewan Bangsawan

"Pintu pasokan ditutup atas perintah langsung Tuan Zahirul!" teriak komandan garnisun dari atas benteng kayu. Fauzan mengepalkan tinjunya hingga berdarah. Fariga melepaskan anak panah peringatan tepat di tiang bendera bangsawan. "Kalian kira kalian bisa mengubur kami di sini?"

 *ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Jeruji Besi dan Dentang Palang yang Menghukum

🌺

Udara malam di tepian jurang perbatasan tidak pernah benar-benar hangat, namun malam itu hawa dingin yang turun dari punggung Pegunungan Asam Tais terasa berbeda. Dingin itu bukan sekadar penurunan suhu alami yang membekukan embun di ujung dedaunan paku raksasa; ia merambat layaknya cairan timah cair beku yang menyusup ke sela-sela baju zirah baja, meraba tulang belulang dengan kepastian yang mengerikan.

Di hadapan mereka, gerbang kayu ulin setinggi enam tombak—benteng pertahanan terakhir yang memisahkan peradaban makmur ibukota dari rimba purba yang tak bertepi—berdebam tertutup dengan suara yang menggemuruh laksana guntur di dasar ngarai. Palang-palang besi tempa seukuran paha pria dewasa meluncur ke relnya dengan derit memilukan, mengunci rapat gerbang perbekalan dari dalam.

“Pintu pasokan ditutup atas perintah langsung Tuan Zahirul!” teriak komandan garnisun dari atas benteng kayu. Suaranya melengking menembus deru angin lembah, dingin dan pongah, terbungkus aman di balik pagar runcing dan deretan perisai bersepuh perak milik Dewan Bangsawan. "Mulai detik ini, pos terdepan dinyatakan berada di bawah karantina penuh! Tidak ada ransum, tidak ada gandum, dan tidak ada jalur mundur bagi siapa pun yang telah terkontaminasi kabut rimba!"

Fauzan Fardhan mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, lalu retak dan mengucurkan darah segar ke gagang perisai serigala besinya. Bunyi kulit terobek terdengar samar di bawah gemuruh angin, namun rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibanding amarah yang meluap di dadanya. Pria bertubuh raksasa itu melangkah maju dua langkah, menghantamkan perisai besinya ke dinding gerbang bawah hingga menghasilkan dengungan getaran yang menggetarkan kerikil di tanah lumpur.

"Pengecut terkutuk!" raung Fauzan, urat lehernya menonjol seperti akar pohon beringin tua. "Kami bertarung tiga puluh hari menahan serbuan binatang buas dan gerombolan penjarah rimba demi melindungi jalur tambang kalian! Prajuritku membusuk di parit ini tanpa garam dan perban, dan sekarang kalian mengunci kami di luar seperti anjing berpenyakit?!"

Di samping kirinya, tanpa sepatah kata pun terucap, Fariga Nashiha telah bergerak dengan keanggunan yang mematikan. Jemari lentiknya yang terbalut sarung kulit rusa menarik tali busur eboni ke belakang telinga. Angin kencang yang meniup rambut kepangnya tidak sedikit pun menggoyahkan bidikannya. Di ujung anak panah obsidian yang dipasangnya, seberkas cairan biru kehijauan berkilau redup di bawah temaram lentera pos—ekstrak lumut biru maut yang hanya tumbuh di rawa terdalam Asam Tais.

Tali busur berdenting. Anak panah itu melesat membelah tirai hujan gerimis dengan desis melengking, menancap tepat di tiang bendera kayu tempat panji bergambar kepala rusa tanduk emas berkibar—hanya berjarak sejengkal dari leher komandan garnisun. Getaran panah itu membelah kayu tiang menjadi dua bagian, merobek bendera kebanggaan bangsawan hingga jatuh berkibar ke dalam lumpur basah.

"Kalian kira kalian bisa mengubur kami di sini?" bisik Fariga. Suaranya tidak keras, namun ketenangannya yang dingin memotong raungan Fauzan dan tawa para prajurit di atas tembok laksana mata pisau bedah. Matanya yang kelam menatap lurus ke celah bidik benteng, tak berkedip, memancarkan kepastian bahwa anak panah berikutnya tidak akan lagi menyasar sebatang kayu mati.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Dialog Batin Bara Kembara & Retrospeksi Perjanjian Berdarah

🌺

Bara Kembara tidak berteriak. Ia berdiri mematung di antara kedua rekannya, tangan kanannya bertumpu pada hulu belati baja hitam yang tersampir di pinggang kirinya. Sentuhan logam dingin itu selalu memberinya ketenangan ganjil—baja yang sama yang dahulu digunakan ayahnya saat menorehkan peta perbatasan pertama kerajaan, sebelum nama Kembara disingkirkan dari daftar kehormatan istana.

Di dalam rongga dadanya, sebuah badai sunyi berkecamuk. Sejak fajar menyingsing, naluri perangnya yang telah terasah oleh belasan pertempuran berdarah telah mencium aroma busuk pengkhianatan ini. Ia ingat dengan sangat jelas aroma dupa gaharu yang menyengat di Balairung Sayap Selatan tiga purnama lalu, saat Tuan Zahirul sendiri yang menuangkan anggur plum ke cawan peraknya.

*“Bara, sahabat mudaku,”* suara Zahirul terngiang kembali di benaknya, halus laksana sutra istana namun menyembunyikan bisa kalajengking di balik setiap patah katanya. *“Dewan Bangsawan mempercayakan Pos Terdepan ini hanya kepadamu. Kau memiliki darah penjelajah, dan kau tahu bagaimana menundukkan kebuasan rimba Asam Tais. Bertahanlah di sana selama musim kabut, dan ketika panen kristal selesai, namamu akan dipulihkan di hadapan takhta.”*

Saat itu, Bara menatap senyum Zahirul dan mengira pria paruh baya itu tulus. Betapa bodohnya dia. Betapa naifnya seorang prajurit yang mengira pengorbanan di parit berlumpur akan dihargai oleh para bangsawan yang jemarinya tak pernah kapalan memegang gagang pedang. Kini ia mengerti arti tatapan Zahirul hari itu: itu bukan tatapan seorang pemimpin yang mengutus ksatria terbaiknya, melainkan tatapan seorang saudagar serakah yang sedang menghitung laba dari seekor domba yang hendak disembelih di meja jagal.

Pengkhianatan ini bukan keputusan mendadak yang lahir dari ketakutan wabah rimba. Ini adalah skenario yang telah dirancang dengan presisi mengerikan. Dewan Bangsawan tidak pernah berniat memulihkan nama keluarganya. Mereka mengirim regunya ke pos terdepan ini bukan untuk menjaga perbatasan, melainkan untuk menjadi penangkal petir—perisai daging yang akan dihancurkan oleh kegelapan rimba sementara para bangsawan mengamankan jalur rahasia penambangan kristal asam di lembah bawah.

*‘Dan ayahku...’* batin Bara mencengkeram erat hulu belatinya hingga buku jemarinya ngilu, *‘apakah ayahku dahulu juga ditinggalkan dengan cara yang sama di lereng bukit berkabut ini? Apakah kematiannya yang dicatat sebagai "gugur dalam tugas" sesungguhnya adalah pembunuhan terencana demi menutup mulut seorang jenderal yang tahu terlalu banyak?’*

Sebuah kilatan petir tanpa suara membelah langit timur, menyinari siluet pepohonan raksasa di belakang mereka. Bayang-bayang pohon itu tampak seperti barisan raksasa purba yang sedang merunduk, siap menelan siapa saja yang tak memiliki tempat bernaung.


˚༺☆༻


Bagian 03 : Atmosfer Halimun Rimba dan Bisikan Kematian

🌺

Itu adalah fenomena yang hanya diketahui oleh mereka yang telah menghabiskan separuh hidupnya di perbatasan. Setiap kali matahari tenggelam sempurna di balik cakrawala, kabut yang semula berdiam di dasar jurang mulai merayap naik, tebal dan pekat, membawa aroma lumut busuk yang bercampur dengan keharuman manis getah bunga bangkai raksasa. Kabut itu berwarna putih keperakan di permukaannya, namun di lapisan bawah yang menyentuh tanah, ia berpendar dengan rona biru safir—cahaya dingin dari spora purba yang mampu mematikan saraf pernapasan dalam beberapa tarikan napas jika tidak diantisipasi.

Lihat selengkapnya