Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Danau Hitam Asam Tais

Regu tiba di bibir Danau Hitam Asam Tais yang legendaris. Permukaannya tenang bagai cermin obsidian pekat, namun menyembunyikan pusaran energi gelap luar biasa yang menuntut pengorbanan batin tak terelakkan.


 *ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Di Bibir Cermin Obsidian

🌺

Langkah kaki mereka akhirnya terhenti di tepi batas dunia yang dikenal. Udara mendadak terasa lima derajat lebih dingin, namun bukan dinginnya embun pegunungan yang menyegarkan raga, melainkan dingin lembap yang merayap turun dari ulu hati hingga menusuk ke sumsum tulang. Tanah gambut di bawah sepatu kulit Bara Kembara melesak lembut—mengeluarkan suara mendesis pelan saat asam sulfat pekat dari rawa merembes membasahi sol bajanya. Bau tajam belerang busuk berpadu damar hitam yang terbakar menyengat hidung, menuntut paru-paru mereka bekerja dua kali lebih berat hanya untuk menghirup oksigen yang tipis.

Di hadapan mereka membentang Danau Hitam Asam Tais. Air danau itu tidak mengalir, tidak bergulung, dan tidak mencerminkan langit senja sebagaimana mestinya air di bumi ciptaan para dewa. Permukaannya pekat bagai jelaga yang diaduk bersama minyak damar mentah—hitam legam, licin, dan mematikan bagai lempengan cermin obsidian raksasa. Tidak ada riak. Tidak ada desau angin yang sanggup mengusik kulit airnya yang kental. Bahkan serangga rawa yang paling liar pun menolak hinggap di atasnya, seolah naluri binatang tahu bahwa setetes saja air danau itu menyentuh sayap, mereka akan larut menjadi abu tanpa sisa.

Namun yang paling mencekik kesadaran bukanlah keheningan itu sendiri, melainkan apa yang bertakhta di pusat kehampaan. Di tengah danau, menyembul sebuah pulau karang kecil berupa tumpukan batu basalt runcing berwarna arang. Dari celah-celah karang tersebut, memancar sebuah tiang cahaya ungu mistis yang berdiri tegak lurus, menembus kabut halimun tebal dan membelah awan kelabu yang menggantung rendah di langit rimba. Pendar ungunya berdenyut pelan, bagai detak jantung raksasa yang tertidur di kedalaman bumi—terkadang meredup suram, terkadang berpijar membutakan dengan dengungan gaib frekuensi rendah yang membuat telinga berdenging sakit.

“Kita sudah berdiri di ambang neraka yang diceritakan kakekku,” bisik Bara pelan. Suaranya serak, tertahan oleh kain penutup hidung yang basah oleh keringat dingin. Sarung tangan batu basal di tangan kirinya—senjata pusaka yang mengikat jiwanya dengan elemen tanah—mulai bergetar tipis. Getaran itu bukan tanda perlawanan terhadap musuh, melainkan resonansi ketakutan dari batu karang itu sendiri yang menolak menyentuh zat cair danau di depan mereka.

“Tidak ada ombak, tidak ada desau angin. Air danau berwarna sepekat jelaga bercampur minyak damar. Di tengah danau, sebuah pulau karang kecil menyembul, memancarkan tiang cahaya ungu mistis yang menembus awan kelabu tebal.”-------------------


˚༺☆༻


Bagian 02 : Gesekan Jiwa dan Retrospeksi Berdarah

🌺

Di samping Bara, Nashiha Salma berdiri kaku bagai patung marmer. Jubah sutra birunya yang biasa anggun kini ternoda lumpur peat kering di bagian ujungnya. Kedua tangannya meremas erat sebuah gulungan perkamen berkepala kayu cendana—arsip rahasia Wangsa Salma yang ia curi dari bilik rahasia kakek buyutnya di ibukota. Bibir tipis gadis bangsawan itu memucat, nyaris menyamai warna kabut halimun yang mengambang di sekitar pergelangan kakinya.

Matanya menatap tiang cahaya ungu itu dengan tatapan ngeri yang sukar dilukiskan kata-kata. Bukan karena keagungan energi mistisnya, melainkan karena pola jalinan aksara kuno yang berputar-putar di dalam pilar tersebut. Itu adalah glif pengikat jiwa Dinasti Asam Tais. Setiap simbol yang berpendar di udara malam adalah bukti nyata dari kebohongan sejarah yang selama dua puluh tahun dicekokkan ke benaknya: bahwa wangsa mereka adalah pelindung suci perbatasan, bukan pembantai yang menanam tumbal.

“Nashiha,” potong sebuah suara dingin yang setajam ujung pisau sembelih. Ghonia Rafifah melangkah maju setengah depa. Tudung hitamnya tersibak sedikit oleh kepulan uap asam, memperlihatkan separuh wajahnya yang dipenuhi bekas luka goresan ranting rawa masa kecil. Busur komposit berukir tulang burung pemakan bangkai sudah berada di tangannya, anak panah berujung perak telah terpasang pada tali busur yang ditarik setengah.

“Jangan berpura-pura terkejut melihat pilar itu, Tuan Putri,” desis Ghonia. Giginya bergemeletuk menahan amarah yang telah mengkristal selama belasan tahun. “Bau manis busuk ini... ini bau yang sama ketika para penunggang kuda berpanji bunga teratai milik keluargamu menyiramkan minyak damar ke gubuk-gubuk klanku di Rawa Asam Kelabu. Kau bilang kita ke sini untuk memperkuat segel yang retak demi keselamatan rakyat. Tapi aksara ungu itu... itu aksara perbudakan sukma!”

“Jaga lisanmu, Ghonia!” bentak Nashiha, suaranya tercekat di tenggorokan, namun ada getaran kerapuhan yang tak mampu ia sembunyikan. “Aku tidak tahu tentang masa lalumu hingga kita membaca gulungan kedua di kuil perbatasan. Ayahku... leluhurku... mereka bersumpah bahwa segel ini mengurung Iblis Rawa Purba yang hendak menenggelamkan tujuh kadipaten!”

“Iblis?” Ghonia tertawa hambar, suara tawanya kering dan parau bagai gesekan dahan mati. “Satu-satunya iblis di rimba ini mengenakan mahkota emas dan duduk di takhta Asam Tais dengan permadani yang dicuci memakai air mata anak-anak rawa!”

“Satu-satunya iblis di rimba ini mengenakan mahkota emas dan duduk di takhta Asam Tais dengan permadani yang dicuci memakai air mata anak-anak rawa!” — Ghonia Rafifah


˚༺☆༻

Lihat selengkapnya