Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Kemunculan Puteri Varisha Zafeera

Pulau Karang Tengah Danau Asam Tais — Penebasan Rantai Hitam Meridian dan Pecahnya Segel Sang Luhur Rengas Purba


 *ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Suaka Keheningan Beracun di Pulau Karang

Nafas Danau Asam Tais dan Takhta Kabut Hitam. Suasana: Gemuruh angin malam dingin bercampur uap belerang pedih dan desau getah rengas beracun.

🌺

Malam di Danau Asam Tais tidak pernah datang dengan kedamaian yang wajar. Kegelapan di atas perairan ini merayap bagai tumpahan minyak damar purba—berat, dingin, dan sarat bau belerang mentah yang menggigit pangkal lidah. Di tengah kawah kaldera raksasa yang menampung air asam berwarna tembaga kehitaman itu, Pulau Karang Tengah mencuat ke udara laksana sekumpulan gigi taring kalsium yang patah, congkak menentang keheningan rimba raya Sumatera bagian selatan.

Bara Kembara berdiri terpaku di batas bibir karang. Mantel kulit rusa yang dipakainya telah lama basah oleh embun racun yang melayang dari permukaan danau. Sejak menembus barisan rawa rengas di lingkar luar lembah, pemuda itu sudah merasakan denyut aneh yang merayapi tumitnya—sebuah fibrasi frekuensi rendah yang tidak berasal dari hembusan angin malam, melainkan dari dasar palung yang tak pernah dijangkau oleh tali kail terdalam sekali pun.

Di hadapannya, pada pelataran karang terjal yang diselimuti lumut hitam berlendir, bersemayam sebuah takhta batu megalit lapuk. Di sanalah Puteri Varisha Zafeera berada.

Kemunculan sang puteri membekukan udara di sekitarnya hingga titik nadir. Varisha tidak duduk tegak layaknya ratu yang dimahkotai di balairung istana kencana. Ia terkulai setengah melayang, ditopang oleh jalinan gaun panjang bersulam kabut hitam yang merayap turun dari bahunya, menyapu permukaan cadas basah sebelum akhirnya melarut begitu saja ke dalam air asam yang mendesis pelan. Di kepalanya bertengger mahkota duri hitam yang ditempa dari akar kawat purba, bersilangan dengan sisa lempengan emas kuna yang telah menghitam dimakan uap beracun.

Namun, yang meremukkan dada Bara hingga ke palung terdalam bukanlah mahkota penderitaan itu, melainkan empat sulur Rantai Hitam Meridian. Logam obsidian berurat ungu redup itu tidak sekadar mengikat tubuh Varisha; rantai gaib tersebut menembus pergelangan tangan, melilit tulang selangka, dan mencengkeram pinggangnya dengan kekejaman yang sistematis. Setiap mata rantai dipahat dengan aksara paku pra-Sansekerta yang berdenyut seirama dengan pasang surut danau, lalu menghujam tegak lurus ke dasar air hitam, menambatkan sang puteri pada jantung kegelapan takhta Asam Tais.

Sepasang mata Varisha perlahan terbuka. Iris matanya berwarna ambar pekat, berpendar remang di balik tirai rambut hitam yang terurai kusut. Di dalam tatapan itu, Bara melihat pertarungan abadi yang mengerikan: kerapuhan seorang gadis belia yang haus akan sentuhan hangat fana, bertarung tanpa henti melawan resonansi entitas purba yang telah mengikis kewarasannya selama ratusan musim.

“Air Danau Asam Tais tidak memantulkan bintang, melainkan menelan setiap jengkal cahaya laksana cermin jelaga yang lapar.”


˚༺☆༻


Bagian 02 : Dialog Batin & Retrospeksi Bara Kembara

Sumpah Darah di Balik Bilah Pusaka Naga Kembar. Suasana: Denting halus getaran obsidian meridian, merambat bagai dengungan lebah di dalam tempurung kepala.

🌺

Tangan kanan Bara meremas hulu pedang pusakanya yang tersembunyi di balik selubung kain mori kelam. Pedang Pamor Naga Kembar. Sebuah pusaka yang diwariskan dari mendiang ayahnya tatkala kadipaten mereka rata dengan tanah akibat intrik busuk para tetua lembah tujuh tahun silam.

Ingatan masa kanak-kanak melintas bagai kilatan petir tanpa suara di benak Bara. Ia ingat malam ketika gapura desanya dijilat api; ia ingat bagaimana para tetua bangsawan berjubah sutra emas menunjuk adik perempuannya untuk dijadikan "jangkar pelindung" bagi bendungan raksasa yang retak. Malam itu, ayahnya memilih memberontak—memotong leher para pendeta sesat dan melarikan Bara ke tengah rimba belantara, membayar pembangkangan suci itu dengan luka tombak beracun di lambungnya.

“Bara,” bisik ayahnya di detik-detik terakhir sebelum nafasnya membeku di bawah naungan pohon rengas tua. “Bila suatu hari kau melihat takhta yang menuntut daging manusia untuk berdiri tegak, jangan tunduk. Pusaka kita ditempa bukan untuk menjadi penjaga kezaliman para leluhur, melainkan pemutus rantai yang memperbudak jiwa-jiwa murni.”

Pesan itu telah menjadi sumpah yang mengkristal di dalam sumsum tulang Bara. Selama bertahun-tahun ia mengembara sebagai ksatria tanpa tuan, melintasi belantara bukit barisan, menolak emas dan sanjungan para bupati, hanya untuk mencari kebenaran tentang desas-desus mistis Danau Asam Tais. Kini, kebenaran itu terpampang nyata di depan matanya: bukan sekadar legenda pengantar tidur rakyat jelata, melainkan kejahatan sakral yang dilembagakan.

Bara menatap Varisha. Di bawah balutan kabut hitam yang berdenyut, dada puteri itu naik turun dengan kepayahan yang menyayat hati. Urat-urat di lehernya tampak keunguan, memancarkan racun meridian yang terus-menerus dipompa oleh danau ke dalam peredaran darahnya. Gadis itu adalah saringan hidup—wadah fana yang dipaksa menelan seluruh amarah bumi agar orang-orang di luar rimba dapat berpesta pora di atas lumbung-lumbung padi mereka.

“Apakah keadilan para dewa menuntut siksaan seperti ini?” batin Bara bergejolak, peluh dingin bercampur uap asam mulai menetes di pelipisnya. “Jika para bangsawan menyebut pembiaran ini sebagai kebijaksanaan, maka aku lebih memilih menjadi penjahat paling terkutuk di mata mereka.”

“Ayah pernah berbisik di ranjang kematiannya: pusaka sejati tidak ditempa untuk melestarikan takhta yang meminum air mata manusia.”


˚༺☆༻


Bagian 03 : Peringatan Puteri Varisha & Pilihan Berdarah

Gema Suara Ganda dan Ambang Kehancuran. Suasana: Gemersik daun rengas yang membatu, ditingkahi desis buih asam yang merayap di sela bebatuan karang.

🌺

Bibir Varisha yang pucat kebiruan bergetar. Ketika ia mulai bersuara, hembusan nafasnya mengeluarkan kabut tipis berbau tembaga. Suara yang keluar dari tenggorokannya adalah paduan yang mengerikan—di satu sisi terdengar isak lirih seorang gadis muda yang ketakutan, namun di sisi lain bergaung desau bariton yang berat dan purba, seolah berasal dari rongga gua batu kapur ribuan depa di bawah bumi.

“Kembalilah, ksatria tanah muda,” desah Varisha lirih, getaran suaranya membuat air danau di sekeliling pulau karang membentuk riak konsentris yang teratur. “Tinggalkan tempat ini sebelum kabut asam melarutkan dagingmu. Takhta ini bukanlah tempat bagi mereka yang masih memiliki detak jantung fana.”

Lihat selengkapnya