Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Keris Pasak Jagat Lubay Bangkit

“Bilah keris berpamor meteorit itu menyala merah membara sebelum meredam menjadi abu-abu andesit yang mematikan. Saat jemari Bara menggenggam hulunya, tanah sejauh sepuluh mil bergetar dalam nada patuh.”


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Halimun Rengas dan Bau Karat di Udara

Lekang Danau dan Runtuhnya Langit Air. Atmosfer: Uap belerang kehijauan mengepul dari rekahan lumpur kering; udara terasa tebal laksana timah cair.

🌺

Air Danau Asam Tais tidak sekadar surut; danau itu ditelan oleh kerongkongan bumi yang mendadak menganga. Lumpur hitam yang selama tiga abad terlelap di dasar air kini mengerang, mengelupas menjadi lempengan-lempengan kering yang menyerupai sisik naga purba yang mati terbakar. Setiap tarikan napas Bara Kembara terasa seperti menelan serbuk kaca yang dibakar belerang. Di sekeliling mereka, pilar-pilar batu andesit menjulang menembus kegelapan, menopang kubah danau yang kini hanya menyisakan tirai air menggantung—seolah-olah hukum gravitasi sedang dipertaruhkan oleh kutukan yang jauh lebih tua daripada takhta manusia.

Di belakangnya, bunyi gemeretak kain sutra bersulam benang kencana milik Puteri Varisha Zafeera terdengar gelisah. Langkah sang putri terhenti di atas tubir batu apung yang rapuh. Jubah kebesarannya telah ternoda jelaga hitam pekat, namun sepasang matanya yang berwarna cokelat madu tetap berkilat dingin, menolak untuk menampakkan sejumput pun rasa gentar yang sesungguhnya sedang menggerogoti dadanya.

"Jika kau salah melangkah sejengkal saja, Bara," suara Varisha bergetar pelan, teredam oleh desau uap magma yang menderu jauh di bawah telapak kaki mereka, "seluruh sisa air di kubah atas akan runtuh dan menenggelamkan kita bersama rahasia klanmu yang terkutuk ini. Jangan kira pengorbanan lima ratus prajurit pengawalku di bibir rimba tadi adalah tiket cuma-cuma bagimu untuk memuaskan rasa penasaranmu."

Bara tidak menoleh. Telapak tangannya yang kapalan meraba sebuah pahatan relief di dinding gua—ukiran sulur daun sembilan lekuk yang dipahat oleh tangan-tangan pandai besi Lubay ratusan musim silam. Rasa dingin yang janggal merayapi ujung jemarinya, sebuah sensasi hampa yang berbanding terbalik dengan panasnya hawa belerang di sekitarnya. Di sinilah, tepat di pusaran rahim bumi ini, darah para leluhurnya pernah ditumpahkan bukan untuk memuja dewa, melainkan untuk memaku sesuatu yang tidak boleh bangkit.

Fajri Nadhir terseok-seok menyusul, kedua tangannya mendekap erat bungkusan kulit kambing berisi naskah-naskah lontar lapuk. Kacamata bulat bertangkai tembaga yang bertengger di hidungnya telah berembun pekat karena uap asam. Napas pemuda kutubuku itu putus-putus, nyaris tercekik oleh kepanikan intelektual yang bercampur dengan rasa takut purba.

"Bara... demi Hyang Jagatnata, perhatikan garis patahan ini!" Fajri menuding lantai gua dengan jari bergetar. "Magma di bawah kita tidak mengalir... ia membeku dalam konfigurasi spiral penangkal. Ini bukan formasi alamiah. Seseorang telah menyegel letusan dahsyat dengan mengorbankan inti jiwa sebuah pusaka! Jika kau mencabut pasak itu sembarangan, kita bukan hanya membangunkan senjata perang; kita merobek urat nadi pulau ini!"

Narasi Retrospeksi: Kilas Balik Batin·Pemicu: Sentuhan pada pahatan sulur sembilan lekuk.

“Dua belas tahun silam, di malam terbakarnya Desa Lembah Lubay, ayahnya memaksanya menelan sejumput abu pamor keris sebelum mendorongnya ke dalam sumur persembunyian. 'Ingat, Bara,' bisik lelaki renta berlumur darah itu seraya menutup mulut sumur dengan batu nisan, 'besi tidak pernah mengkhianati tanah asalnya. Yang mengkhianati tanah adalah keserakahan manusia yang haus darah kembara.' Suara derak tulang ayahnya yang ditebas pedang prajurit takhta masih berdenging di telinga Bara setiap kali tanah bergetar.”


˚༺☆༻


Bagian 02 : Lorong Rongga Stalaktit — Gerbang Penjaga Rahasia

Gema Tangis di Lorong Andesit. Atmosfer: Tetesan air asam menetes ritmis laksana jam kematian; dinding batu berbisik dengan gema suara yang tak bertuan.

🌺

Varisha Zafeera mencengkeram hulu pedang rapier peninggalan ibundanya hingga buku-buku jarinya memutih. Bau anyir yang mengambang di rongga ini bukan berasal dari bangkai binatang; ini adalah aroma ozon dan darah tua yang terperangkap dalam batu porfiri selama ratusan tahun. Sejak melangkahkan kaki menuruni tangga undakan purba di dasar danau, sebuah kecurigaan yang menyiksa telah membakar rongga dadanya. Mengapa arsip kerajaan di Asam Tais sama sekali tidak mencatat keberadaan rongga sebesar ini? Mengapa mendiang ibunya, Ratu Kemala, selalu melarang siapa pun berlayar ke tengah danau saat bulan mati?

Di depannya, punggung Bara yang telanjang tampak berlepotan jelaga dan keringat. Otot-otot pemuda itu tegang, setiap langkahnya diatur oleh insting hewan pemangsa yang terluka. Varisha tahu lelaki ini membenci darah bangsawannya. Bagi Bara, setiap titah dari istana adalah racun yang telah membantai sukunya. Namun di tempat terkutuk ini, status darah biru Varisha tak lebih berharga daripada butiran pasir yang terinjak.

"Kau menyembunyikan sesuatu dari kami, Fajri," desis Varisha tajam, menghentikan langkah sang cendekiawan dengan ujung sarung pedangnya. "Di halaman empat puluh dari Kitab Rajah Andesit yang kau baca semalam, ada segel cap lilin bergambar bunga teratai emas berujung lima. Itu adalah cap pribadi ruang rahasia ibundaku. Dari mana kau mencuri lembaran itu?"

Fajri terlonjak, nyaris menjatuhkan lentera minyak kelapanya. Bayangan wajahnya di dinding gua memanjang dan terdistorsi, tampak seperti hantu yang ketakutan. "Puteri... hamba... hamba tidak mencurinya! Lembaran itu diselipkan ke dalam bilik perpustakaan hamba sesaat sebelum kita melarikan diri dari kudeta paman baginda! Ada pesan tertulis di sana: 'Hanya keturunan Lubay yang bisa membuka pasak, tapi hanya keturunan Zafeera yang tahu harga tebusannya.'"

Udara mendadak terasa membeku. Bara berhenti melangkah. Perlahan, pemuda buronan itu membalikkan badannya. Sorot matanya yang liar mengunci wajah Varisha dengan intensitas yang membuat sang putri terkesiap mundur setengah tindak.

"Harga tebusan?" bisik Bara, suaranya begitu rendah hingga terdengar seperti geraman harimau di tengah malam buta. "Keluargamu telah membakar seluruh lembahku, membantai anak-anak dan wanita hanya untuk merebut dongeng tentang keris ini. Dan sekarang kau bicara tentang harga tebusan, Yang Mulia? Jika keris ini menuntut tumbal darah raja untuk bangkit, aku bersumpah tidak akan ragu menyayat lehermu di atas altar ini."

Narasi Retrospeksi: Kilas Balik Batin·Pemicu: Ujung sarung pedang rapier yang bertatahkan batu delima ungu.

Lihat selengkapnya