Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Gugurnya Pengawal Setia Lubay

"Seorang prajurit muda relawan gugur melindungi tabung penawar racun Ghonia dari tusukan licik komandan bawahan Zahirul di ceruk Lembah Batu Pualam Hitam, memicu prahara batin dan membongkar konspirasi busuk di balik takhta Asam Tais."


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01: Ketegangan Dingin & Kabut Fajar

🌺

Kabut fajar beringsut lamban bagai kafan basah yang diseret melintasi celah-celah tebing Lembah Batu Pualam Hitam. Dinding-dinding batu raksasa berwarna jelaga pekat itu tampak mengilap dingin, membiaskan semburat cahaya keemasan bercampur toska pucat—sebuah fenomena alam langka yang oleh para sesepuh Asam Tais dijuluki sebagai Fajar Jiwa Baru. Namun bagi Bara Kembara, tak ada yang baru dari fajar ini selain aroma anyir besi karat yang merambati tenggorokan dan denyut pedih dari otot-ototnya yang nyaris putus terpelintir. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan kaca tajam yang menggores dinding dadanya tanpa ampun.

Sepanjang malam mereka diburu tanpa jeda melintasi labirin purba yang tak pernah memaafkan kesalahan langkah. Di bawah naungan kanopi hutan basah yang seolah menolak bernapas, ranting-ranting berduri telah merobek jubah zirah kulit mereka, dan tanah lempung basah menelan tiap derap langkah dengan dengkuran liat yang melelahkan. Di belakang mereka, lolongan anjing pelacak komandan bawahan Zahirul—sang algojo berdarah dingin bernama Raqib—terus menggema di dinding pualam, memantul menjadi beribu jeritan yang mengaburkan arah mata angin dan merongrong batas kewarasan mereka.

Bara bersandar pada bongkahan pualam setinggi pundak. Permukaan batu itu sedingin es kuburan, namun di balik kerapatannya yang pejal, Bara yang mewarisi kepekaan darah klan penjaga dapat merasakan getaran halus laksana denyut jantung raksasa purba yang terperangkap dalam lelap berabad-abad. Dadanya naik turun dengan dengusan berat. Tangan kanannya mencengkeram gagang pedang berhulu tanduk rusa purba, sementara buku-buku jarinya memutih, gemetar hebat menahan amarah yang telah tertahan berjam-jam di bilik batinnya.

Di sampingnya, Fauzan Fardhan berlutut dengan satu kaki di atas hamparan lumut basah, membuka gulungan peta kulit domba yang tepi-tepinya telah luntur oleh keringat dingin bercampur tetesan air embun. Mata Fauzan yang tajam, cekung, dan diarsir lingkaran hitam kelelahan melirik ke balik bahunya, menakar sudut sergapan musuh dengan perhitungan matematis yang membeku dingin. Tak ada ruang bagi getar ketakutan dalam mata Fauzan, namun Bara mengenal sahabatnya ini cukup lama untuk melihat bahwa di balik kedalaman pupil itu, tersimpan keputusasaan seorang pengatur siasat yang mulai kehabisan pion di papan catur takdir.

"Jarak mereka tak lebih dari tiga ratus tombak di belakang ceruk ini, Bara," bisik Fauzan, suaranya parau tertahan namun teratur bagai derak jarum jam air di ruang perjamuan keraton. "Raqib memecah pasukannya menjadi formasi sabit menyilang. Mereka sengaja mengarahkan kita ke lorong buntu pualam ini. Jika kita memaksakan diri memanjat Pematang Gaharu sebelum matahari menyentuh puncak tebing, bayang-bayang kita akan menjadi sasaran empuk bagi para pemanah busur panah bertali urat kerbau milik Zahirul. Kita akan dipetik bagai buah masak yang membusuk di tangkai."

"Kita tidak bisa memutar balik ke arah rawa lintah," sela sebuah suara lirih namun bergetar dengan daya magis yang pekat dan menusuk kalbu. Fariga Nashiha melangkah perlahan dari balik tirai lumut gantung yang basah kuyup. Jemarinya yang ramping dan pucat menyeka embun dari jubah hijau zamrudnya yang telah koyak di bagian keliman bawah. Tongkat kayu hitam berukir aksara Tais di tangan kirinya berpendar temaram dengan cahaya hijau lumut, beresonansi dengan urat-urat mineral batu pualam hitam di bawah kaki mereka. "Rimba ini telah dikotori oleh desikasi kabut Ghonia. Racun itu bukan hanya ditebarkan ke sumur-sumur desa Lubay, Bara... tanah tempat kita berpijak ini pun mulai membusuk dari dalam. Setiap akar pohon menangis, menolak mengalirkan getah."

Bara tak langsung menjawab. Tatapannya tertancap lurus pada seorang pemuda kurus yang terduduk terengah-engah di ceruk batu paling terlindung di balik punggung mereka. Namanya Andika Lubay—anak lelaki bungsu dari pandai besi tertua di desa Lubay yang bersikeras ikut serta dalam ekspedisi maut ini. Di kedua telapak tangannya yang lecet dan berlumur jelaga arang, pemuda berusia belum genap delapan belas tahun itu mendekap erat-erat sebuah tabung kaca kristal tebal dengan lilitan kawat tembaga purba: satu-satunya bejana penawar racun Ghonia yang berhasil mereka renggut dari tenda perkemahan benteng terdepan pasukan Zahirul dengan taruhan nyawa belasan kawan seperjuangan yang telah mendahului mereka ke alam baka.

Bara memandang napas Andika yang tersengal-sengal. Ada lingkaran merah muda di sekitar hidung dan mata pemuda itu—tanda bahwa partikel racun Ghonia di udara lembah mulai menyusup ke paru-parunya. Namun di bibir kering yang pecah-pecah itu, Andika berusaha memaksakan sebuah senyum kecil untuk meyakinkan Bara bahwa dirinya sanggup melangkah selangkah lagi. Ketulusan yang teramat polos itu justru menorehkan luka batin yang lebih perih ke relung sanubari Bara daripada tusukan belati musuh mana pun.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Duka Ksatria & Kerapuhan JiwaAdegan Darah Meresap Aktif

🌺

Keheningan fajar di Lembah Pualam Hitam pecah dalam hitungan sepersekian detik. Bukan oleh derak langkah kaki di atas semak, melainkan oleh desing maut anak panah hitam berlumur bisa viper tanah yang meluncur dari celah rekahan tebing di atas mereka tanpa peringatan.

"Awas!" jerit Fariga sembari menghentakkan tongkat kayunya ke tanah lempung. Gelombang kejut energi toska meledak dari ujung tongkatnya, membentuk pusaran angin penepis yang berhasil membelokkan dua anak panah pertama hingga menancap dalam-dalam ke dinding batu pualam, mengeluarkan desis uap asam yang menghanguskan lumut.

Namun bahaya sesungguhnya tidak datang dari atas langit tebing. Dari balik bayangan kabut fajar yang memadat di sela ceruk bebatuan sempit, melesat sesosok bayangan berzirah sisik besi hitam pekat. Komandan Raqib sendiri! Sang jagabaya kepercayaan Zahirul itu bergerak tanpa suara bagai siluman rawa, matanya menyala merah di balik topeng besi berukir moncong serigala. Di tangan kanannya tergenggam belati bergerigi beracun, dan lintasan serangannya terarah lurus bukan ke jantung Bara yang sedang bersiap menangkis, melainkan langsung ke tabung kaca kristal di pelukan Andika Lubay!

"Mati kau, tikus-tikus pengelana!" desis Raqib dengan dengus tawa yang melengking licik.

Lihat selengkapnya