“Asap ungu membumbung dari kawah belerang rawa. Suara tawa gila Zahirul berpadu dengan jeritan urat-urat bumi yang dipaksa membuka. Tanah berguncang dalam skala yang belum pernah tercatat dalam sejarah Sumatera Selatan.”
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Jeritan Urat Bumi & Lembayung Belerang
🌺
Hujan abu vulkanik dari bibir Kawah Asam Tais turun menyerupai tirai kelabu yang terbakar lambat di udara pengap. Setiap butirannya halus dan menggigit, mengendap di pundak zirah baja tipis Bara Kembara seperti bubuk belerang yang siap memantik api pada gesekan pertama. Di kedalaman tiga ratus tombak di bawah perakaran Rimba Rengas, waktu kehilangan poros edarnya. Di sini tidak ada pagi, tidak ada temaram petang; hanya ada remang lembayung kusam yang dipancarkan oleh danau lumpur gambut mendidih di dasar rekahan.
Udara di palung rawa ini berasa tajam di ujung lidah—campuran tembaga berkarat, asam belerang pekat, dan bau anyir purba yang mengisyaratkan sesuatu yang membusuk sekaligus hidup selama beribu-ribu musim. Setiap kali Bara menarik napas, paru-parunya serasa digores oleh ribuan duri rengas renik. Namun langkah kakinya tidak menyurut. Sepatu bot kulit banteng yang membalut kakinya berdecit menapak batuan basaltik yang basah oleh lendir asam. Di depan sana, celah gua melebar membentuk katedral alam yang mengerikan: Kawah Bawah Tanah Rimba Rengas.
Guncangan tektonik kedua menghantam lantai gua dengan tenaga yang meluluhlantakkan lutut. Dinding-dinding stalaktit di kubah gua menjatuhkan serpihan batu cadas sebesar perisai perang, menghantam kubangan lumpur mendidih dengan deburan yang mendesis murka. Bumi tidak sekadar bergetar; bumi sedang mengerang, seperti raksasa tidur yang dagingnya disayat pisau tumpul secara perlahan. Bunyi gemeretak urat bumi itu merambat naik melalui tumit Bara, beresonansi dengan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Di tengah-tengah cekungan danau belerang, bertengger sebuah pulau karang hitam berbentuk kura-kura raksasa. Dan di punggung pulau karang itulah berdiri Altar Selodang Purba—sebuah monolit obsidian pekat setinggi manusia dewasa yang dikelilingi oleh ukiran sulur-sulur pohon rengas bercabang sembilan. Glif-glif purba di permukaan batu itu menyala dalam rona ungu menyengat, berpendar selaras dengan ritme dengus magma di bawah kerak bumi.
Lalu terdengarlah suara itu. Tawa melengking, terputus-putus oleh batuk kering, bergema memantul di dinding-dinding basaltik yang lembap. Tawa Zahirul Ikhsan. Sosok yang pernah menjadi sarjana paling cemerlang di seluruh lembah Musi hulu, kini berdiri di samping altar dengan jubah abu-abu yang koyak-moyak dan tangan berlumur jelaga ungu.
Mata Bara menyipit memandang siluet Zahirul. Ia masih mengingat dengan jelas hari di mana Zahirul menerima anugerah Selendang Perak dari dewan istana—seorang pemuda pendiam yang lebih suka menghabiskan malam di perpustakaan lontar daripada bersulang arak di balai perjamuan. Bagaimana mungkin nalar yang begitu jernih kini terjerembap ke dalam jurang kegilaan yang sedemikian pekat?
Bara Kembara: ‘Bumi ini tidak sedang runtuh oleh bencana alam biasa. Ini adalah luka yang disengaja. Zahirul sedang mencongkel koreng sejarah yang selama ini ditutupi oleh permadani sutra istana Asam Tais. Jika aku salah melangkah, bukan hanya nyawa Varisha yang melayang, tetapi seluruh lembah di hilir akan menjadi kuburan massal air rawa beracun.’
˚༺☆༻
Bagian 02 : Retrospeksi Luka dan Sumpah yang Ternoda di Gerbang Hulu
🌺
‘Kau terlambat lima tahun, Bara Kembara!’ raung Zahirul menembus desis uap beracun. Suaranya serak, sarat kebencian yang telah difermentasikan oleh kesendirian dan kegelapan rimba. Di tangan kanannya berkilat sebilah belati perak bergagang gading hitam—belati pusaka yang dulu menjadi lambang kehakiman istana. ‘Dulu kau datang terlambat untuk mencegah rumah keluargaku dibakar oleh suruhan para tetua! Dan hari ini, kau datang terlambat untuk menghentikan keadilan yang sesungguhnya!’
Ingatan Bara terlempar dengan kekerasan yang menghancurkan ke masa lima tahun silam. Gerbang Hulu Asam Tais. Malam di mana hujan badai menenggelamkan jeritan anak-anak dusun perajin kain. Bara berdiri di bawah guyuran air mata langit dengan pakaian zirah pengawal yang basah kuyup, memegang titah bertanda stempel lilin merah dari Pangeran Mahkota. Titah itu tertulis rapi di atas sutra: ‘Bersihkan kaum pembelot yang menyebarkan fitnah pencemaran tambang belerang.’
Kala itu, Bara mematuhi titah tersebut. Ia meyakini dogmatisme keprajuritan yang ditanamkan sejak ia dipungut dari asrama yatim piatu: ketaatan adalah mahkota kehormatan seorang ksatria. Bara memimpin pasukannya meratakan permukiman di lembah. Namun di balik dinding rumah Zahirul yang terbakar, Bara menemukan gulungan-gulungan catatan rahasia yang tidak pernah diizinkan sampai ke meja sidang. Catatan itu memuat nama-nama bayi bangsawan yang meninggal karena kutukan darah dan daftar tumbal pemuda desa yang dilemparkan ke Palung Rawa setiap tahun.
Malam itu, di pintu air kanal pelarian, Bara melepaskan Zahirul. Ia membiarkan sahabat masa mudanya itu menghilang ke dalam pekatnya Rimba Rengas. Ia mengira telah menyelamatkan nyawa Zahirul. Kini Bara menyadari dengan ngeri bahwa menyelamatkan raga seseorang tanpa menyembuhkan jiwanya hanyalah menunda malapetaka yang jauh lebih buas.