Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Mahkota Rawa Berduri Hitam Terlepas

“Duri-duri beracun mencabut diri dari meridian dahi sang Puteri dengan gemeretak pelan. Mata Varisha kembali jernih memancarkan warna hijau zamrud. "Terima kasih, Bara. Sekarang, takhta ini bukan lagi tempat pasung, melainkan palu pengadil!"”


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Napas Halimun Rengas dan Denyut Logam Hitam

Tubir kawah palung bawah tanah yang mengikis kewarasan — Fokus Psikologis: Bara Kembara (Kelelahan ekstrem dan halusinasi rasa bersalah)

🌺

Kabut tebal halimun rengas merayap laksana kawanan ular berkulit pucat, melata di atas bebatuan kawah yang merekah berlumur belerang mendidih. Di kedalaman palung bawah tanah ini, waktu tidak dihitung dengan ayunan bandul jam atau terbitnya fajar, melainkan oleh tetesan asam kental yang mendesis setiap kali mencium bibir jurang tanpa dasar. Setiap tarikan napas Bara Kembara terasa bagai menelan serpihan kaca panas; getah rengas purba yang menguap dari lumut-lumut hitam di dinding gua telah menempel di dinding tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit tembaga yang memabukkan kewarasan.

Langkah kakinya terseret gontai. Sol sepatu kulit rusa yang ia kenakan telah lama hangus, tergerus oleh panas basal yang memancar dari kerak kawah. Namun, rasa nyeri di telapak kakinya yang melepuh bukanlah beban yang meremukkan dadanya. Beban itu bersarang di balik rongga tulang rusuknya—sebuah rasa bersalah purba yang telah membusuk selama dua dekade, semenjak malam nahas di mana seluruh desa tepi rawanya dibakar rata dan ia melarikan diri bagai anjing pengecut.

“Tinggal beberapa depa lagi, Bara…” bisik batinnya sendiri, sebuah suara serak yang nyaris tak mampu ia kenali. “Jika engkau roboh di tubir ini, maka kutukan Asam Tais tidak hanya memusnahkan dirinya, melainkan menelan habis sisa kehormatan jiwamu.”

Di hadapannya, menjulang Takhta Asam Tais. Itu bukanlah singgasana megah bertatah permata zamrud dari istana-istana tanah datar, melainkan sebuah bongkahan monolit basal hitam legam yang dipahat kasar di bibir tebing curam. Dan di sana, di tengah kepungan sulur belerang yang berpendar suram, duduk Puteri Varisha Zafeera. Ratusan tahun telah berlalu sejak gadis itu dikabarkan hilang dari catatan sejarah kerajaan, namun tubuhnya tetap membeku di sana—seperti lukisan kesedihan abadi yang dipakukan langsung ke jantung bumi.

Kepala sang Puteri tertunduk lemah. Helai rambutnya yang sekelam jelaga jelantah menjuntai menutupi sebagian wajah pualamnya yang retak-retak oleh kelembapan asam. Dan di atas kepalanya, mencengkeram erat bagai mahkota kematian, bertengger Mahkota Rawa Berduri Hitam. Logam meteorit terkutuk itu tidak sekadar diletakkan di atas rambut, melainkan telah menancapkan duri-duri bergerigi sedalam tiga ruas jari, menembus langsung ke dalam meridian dahi, mengunci urat-urat kesadarannya ke dalam kepasifan yang menyiksa.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Gema Rasa Bersalah di Bibir Palung

Dialog batin Bara dan tatapan mata yang terpasung — Fokus Psikologis: Bara Kembara (Obsesi penebusan dosa dan pengabaian insting)

🌺

Ketika Bara melangkah semakin mendekat, batu kerikil yang tersenggol ujung lututnya terjatuh ke dalam palung kawah, meluncur bebas ke dalam kegelapan abadi sebelum terdengar suara desis letupan magma dingin di bawah sana. Bunyi itu membuat sang Puteri tersentak pelan. Gerakan kepalanya lambat, kaku, diiringi bunyi gesekan logam duri yang mengikis tulang tengkorak dahi—sebuah gemeretak dingin yang mengirimkan rasa ngilu ke dasar sumsum tulang Bara.

Varisha mengangkat wajahnya. Kulitnya sepucat embun kematian, namun bibirnya yang retak bergerak lemah. Sepasang matanya yang selama ini dikabarkan buta oleh kabut halimun menatap lurus ke arah Bara. Akan tetapi, tidak ada cahaya di sana. Pupilnya tertutup selaput kelabu keruh, seperti danau mati yang tertimbun abu vulkanik berabad-abad.

“Apakah... engkau datang untuk menaburkan lagi abu pembakar pada lukaku, wahai peziarah?” Suara Varisha terdengar serak, pecah di udara lembap, namun mengandung getaran magis yang ganjil. Setiap suku katanya beresonansi dengan belerang yang mendidih di sekeliling mereka.

Bara menjatuhkan lututnya di atas lantai batu yang bersuhu membakar. Ia melepaskan genggaman pada sarung pedang di pinggangnya. “Aku tidak datang membawa abu, Puteri. Namaku Bara. Aku datang untuk melunasi utang yang tak pernah engkau minta—utang dari mereka yang membiarkanmu membusuk di atas takhta batu ini sementara dunia di atas sana bernyanyi dalam kedamaian palsu.”

Di dalam batin Bara, kenangan masa kecil melintas bagai kilatan petir yang menyakitkan. Ia teringat ibunya yang tewas terbatuk darah berbusa di rawa rengas, teringat wajah para penatua kampung yang mengutuk takhta bawah tanah ini sebagai sarang petaka yang tak boleh disentuh. Sepanjang hidupnya, Bara diburu oleh rasa bersalah: mengapa hanya dia yang selamat dari wabah lumpur berdarah? Mengapa pedangnya tidak pernah cukup tajam untuk melindungi orang-orang yang ia cintai? Di hadapan Varisha yang terpasung, Bara melihat cermin dari ketakberdayaannya sendiri. Jika ia mampu mencabut mahkota duri itu, ia yakin, rantai kutukan yang melilit jiwanya sendiri akan hancur lebur bersamanya.


˚༺☆༻


Bagian 03 : Retrospeksi Janji Darah dan Peringatan Belati Pusaka

Darah leluhur yang bergolak dan tanda-tanda yang diabaikan — Fokus Psikologis: Dua Jiwa Terbelit (Pertarungan intuisi melawan keputusasaan moral)

🌺

Lihat selengkapnya