Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Genta Peringatan Akhir Rimba

“Suara genta tembaga berdengung berat melintasi kanopi hutan rimba hingga menyeberangi batas Desa Jiwa Baru. Di kejauhan, obor-obor benteng warga menyala serentak bagai lautan bintang di atas tanah pertiwi.”


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Napas Beracun di Ketinggian Depa Ketujuh Puluh

🌺

Di ketinggian hampir delapan puluh depa di atas lantai bumi Lubay, udara kehilangan kelembutannya dan berganti menjadi ancaman yang mengikis kerongkongan. Angin tidak bertiup sebagai hembusan sejuk pegunungan, melainkan desau berat yang merayap di sela-sela cabang purba Pohon Rengas Tertua—raksasa kayu hitam yang telah berakar sebelum nama dinasti Asam Tais dipahat pada lempeng tembaga pertama.

Malam itu, kabut Halimun Rengas turun dengan kepekatan yang tak lazim. Kabut itu bukan sekadar uap embun dingin; ia adalah uap berbisa yang menguap dari jutaan pori kulit kayu rengas, membawa partikel getah damar hitam yang sanggup melepuhkan selaput mata dan mengaburkan batas antara ingatan dan kegilaan. Setiap tarikan napas Bara Kembara terasa seperti menelan segenggam duri tembaga panas. Dadanya berdenyut perih di balik zirah kulit kukang yang telah robek di bagian rusuk kiri, bekas cengkeraman binatang buruan atau serpihan tombak dari pertempuran tiga malam lalu di celah lembah.

Namun rasa pedih di paru-parunya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan denging panjang yang merongrong isi kepalanya.

Denging itu selalu datang setiap kali kabut menebal. Itu adalah suara frekuensi tinggi yang ia dengar sepuluh tahun silam, di malam ketika Lembah Tais bermandikan minyak jarak dan terbakar menjadi abu. Malam ketika ia, sebagai perwira muda yang terikat sumpah buta, menerima perintah penarikan mundur dari Dewan Tetua Takhta. Ia masih ingat jemari adiknya, Rian, yang basah oleh lumpur dan darah, mencengkeram ujung jubah perangnya di ambang pintu gerbang benteng barat. *“Kakak, jangan tinggalkan kami di dalam pagar ini... mereka tidak membawa obor penyelamat, mereka membawa minyak pembakar!”*

Bara telah melepaskan cengkeraman jemari mungil itu. Ia mematuhi doktrin kaku istana. Dan selama sepuluh tahun berikutnya, setiap kali ia memejamkan mata di bawah kanopi rimba, ia melihat Rian berdiri di balik tirai api tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak mengeja nama Bara dengan keputusasaan yang abadi.

Kini, Bara berdiri di atas pelataran gantung kayu ulin yang melingkari cabang tertinggi Pohon Rengas. Pelataran itu berderit mengerikan setiap kali angin kencang menghempas tajuk pohon. Lumut basah bercampur jelaga ritual menyelimuti lantai kayu yang licin. Di hadapannya, menggantung gagah dari rantai besi hitam berkarat sebesar lengan manusia dewasa, bertengger relikui paling dikeramatkan sekaligus paling ditakuti di seluruh perbatasan: *Genta Tembaga Purba*.

Logam raksasa itu memiliki rona kehijauan—patina beracun yang terbentuk dari uap belerang rimba dan getah rengas selama tiga abad. Pada dinding tembaganya yang tebal, terpahat relief ular berkepala burung merak yang melingkari aksara arkais Asam Tais. Di bawah keremangan cahaya rembulan yang tersaring kabut halimun, ukiran itu tampak seperti makhluk hidup yang menggeliat perlahan, menanti saat yang tepat untuk meneteskan bisa ke tengkuk siapa pun yang berani menyentuhnya.

Di samping genta, bertumpu sebuah palu penabuh berhulu kayu besi kelam dengan kepala berbalut tembaga pipih. Palu itu bukan sekadar alat pemukul; ia adalah pasak penentu takdir. Jika palu itu dihantamkan ke bibir genta tiga kali berturut-turut, dengungnya akan menggetarkan seluruh rongga udara rimba, menyeberangi ngarai berarus deras, dan membangunkan ribuan warga benteng Desa Jiwa Baru untuk melancarkan apa yang disebut dalam babad kuno sebagai *Perang Semesta Lubay*.

Perang tanpa ampun. Perang penentuan nasib yang tidak menyisakan ruang bagi perundingan ataupun penyerahan diri.

“Kau terlalu lama terpaku menatap logam mati itu, Bara,” sebuah suara dingin membelah derit dahan kayu.

Bara tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Dialog Pedang dan Bayang-Bayang Fariga

🌺

Fariga Nashiha melangkah keluar dari bayang-bayang kabut di sisi barat pelataran ulin. Langkah kakinya seringan kucing hutan, sama sekali tidak memicu derit kayu lapuk di bawah sol sepatu laras kulitnya. Rambut hitamnya dikepang rapat ke belakang, mempertegas rahangnya yang kokoh dan sepasang mata cokelat gelap yang tidak mengenal gentar. Di pinggang rampingnya terselip belati lengkung pusaka dengan sarung bertatahkan permata obsidian hitam—tanda pangkat kemiliteran tertinggi dari garnisun perbatasan Asam Tais.

Tangan kanan Fariga bertumpu santai pada gagang belati tersebut, namun Bara tahu, otot-otot lengan wanita itu telah tegang sempurna. Dalam sepersekian detik, bilah baja dingin itu bisa terhunus dan menembus jakun musuh.

“Logam ini tidak mati, Fariga,” sahut Bara, suaranya serak dan berat, sarat dengan gesekan kabut yang mengendap di pita suaranya. “Logam ini menampung kutukan darah tiga generasi. Setiap dentang yang pernah dihasilkannya selalu diiringi oleh tangisan anak-anak yatim piatu dan bau anyir daging terbakar di sepanjang parit Jiwa Baru.”

Fariga tersenyum tipis—senyuman tanpa secuil pun kehangatan manusia. Ia melangkah lebih dekat, hingga aroma minyak cendana pengawet senjata yang menyengat dari pakaian tempurnya bercampur dengan bau asam getah rengas.

“Dan tanpa dentang itu, malam ini anak-anak di Jiwa Baru bahkan tidak akan sempat menangis,” tukas Fariga tajam, menusukkan tatapannya tepat ke manik mata Bara. “Pasukan penyusup dari lembah seberang telah menyeberangi Sungai Tais sejak senja runtuh. Pasukan garis depan kita di pos pengintai ketiga telah dibantai tanpa sempat meniup terompet tanduk. Jika kau tidak mengangkat palu itu sekarang juga, musuh akan memanjat benteng Jiwa Baru dalam kegelapan, dan saat fajar menyingsing, tidak akan ada yang tersisa dari tanah Lubay selain abu dan tengkorak!”

“Apakah kau yakin mereka adalah musuh asing, Fariga?” Bara menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga bayangan tubuhnya menelan sosok Fariga di bawah kabut. “Ataukah ini hanyalah sandiwara Dewan Tetua Asam Tais lagi? Seperti sepuluh tahun silam di Lembah Tais, ketika mereka mengatakan pasukan takhta datang untuk melindungi rakyat, padahal mereka datang untuk membakar lumbung dan menyita segel tanah?”

Kilatan amarah melintas di mata Fariga, begitu nyata dan berbahaya. Jari-jarinya mengetuk gagang obsidian belatinya tiga kali dengan ritme cepat.

“Jaga mulutmu, Pengelana!” desis Fariga dengan nada yang ditekan namun bergetar hebat oleh intensitas emosional. “Aku bukan politisi busuk yang duduk di atas permadani sutra istana! Aku adalah serdadu yang menghabiskan sepuluh musim hujan tidur di atas lumpur berdarah bersama pasukanku! Aku melihat sendiri barisan tombak berkarat bergerak di bawah rimbun pakis raksasa sejam yang lalu. Mereka tidak datang untuk berunding mengenai segel tanah, Bara. Mereka datang untuk memusnahkan silsilah darah kita!”

Fariga melangkah maju satu depa lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung belatinya nyaris menyentuh pelat dada Bara. 

“Rakyat Desa Jiwa Baru telah bersumpah setia pada panji takhta. Mereka telah menyusun tumpukan kayu damar di atas dinding benteng. Yang mereka butuhkan hanyalah satu tanda: suara genta ini! Jangan biarkan ketakutanmu pada masa lalu membuatmu menjadi pengkhianat di masa kini!”

Bara mengepalkan tinjunya. Kulit buku-buku jarinya memutih. Bau anyir darah di bibirnya—akibat menggigit lidah sendiri untuk menahan gejolak batuk beracun—mengingatkannya pada rasa keputusasaan yang sama persis sedekade lalu. *Apakah kepatuhan selalu berakhir dengan pengorbanan kaum jelata? Ataukah ketidakberdayaan ini hanyalah alasan pengecutnya untuk lari dari tanggung jawab memimpin?*

Sebelum Bara sempat menjawab, sebuah hembusan angin kencang menerpa kanopi, menggoyangkan genta raksasa itu hingga rantai besinya berderak memekakkan telinga. Dan bersama derak itu, terdengar desiran kain tenun di ujung tangga tali dahan timur.


˚༺☆༻


Bagian 03 : Bisikan Berdarah Nashiha Salma

🌺

Dari balik selubung kabut halimun yang pekat, sesosok tubuh ramping muncul perlahan bagai hantu rimba.

Nashiha Salma melangkah ke atas pelataran ulin tanpa alas kaki. Kulit kakinya yang pucat telah ternoda oleh lumut hitam dan torehan duri rengas, namun ia melangkah dengan keanggunan seorang perawan kuil yang tengah menuju altar pengorbanan. Tubuhnya dibungkus oleh kain tenun sutra rimba kelabu yang koyak di beberapa bagian, berlumur jelaga dupa dan abu kemenyan purba. Di dadanya tergantung sebuah liontin perunggu bundar berukirkan rajah Serigala Asam Tais yang melolong ke arah bulan sabit.

Wajah Salma sepucat lilin lebah, namun matanya—sepasang telaga kelam yang tak berdasar—memancarkan ketenangan mistis yang membuat bulu kuduk Bara meremang seketika.

“Jangan bunyikan genta itu, Bara Kembara,” bisik Salma. Suaranya tidak keras, tetapi getarannya merambat aneh melalui papan kayu ulin langsung ke telapak kaki mereka, melampaui suara gemuruh angin malam.

Lihat selengkapnya