Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Mobilisasi Relawan Jiwa Baru

“Kita bukan sekadar pembajak sawah dan pencari damar!” pekik Fauzan mengangkat tombak berujung padas. “Hari ini kita adalah benteng karang yang takkan pernah sujud pada bayangan gelap!”

Ribuan pemuda dan warga Jiwa Baru bersatu memakai perisai karang tempaan Fajri, siap mempertahankan tanah leluhur sampai titik darah penghabisan di tengah lolongan Badai Pasir Lubay yang menelan cakrawala.


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


🌺

Bagian 01 : Lolongan Badai Lubay di Atas Tebing Karang

Keringat Dingin di Balik Mantel Wol Kasar. Lokasi: Puncak Bastion Utara, Benteng Karang Jiwa Baru | Fokus Tokoh: Bara Kembara

🌺

“Pasir ini bukan sekadar tanah yang beterbangan; ia adalah abu dari sumpah-sumpah yang dihancurkan oleh ketamakan takhta.”

Udara di bibir tebing Benteng Jiwa Baru terasa bagai parutan belerang yang diseret paksa melintasi kerongkongan. Badai Pasir Lubay telah tiba lebih dini dari ramalan para tetua perbintangan, menumpahkan tirai kelabu keemasan yang menelan puncak-puncak kanopi Rimba Asam Tais hingga lenyap dalam kepulan debu tajam. Pasir silika ungu—partikel mikro yang hanya terbentuk saat serpihan meteorit purba tergerus pusaran angin kutub selatan—menghantam dinding batu padas dengan denting mirip ribuan jarum tembaga yang ditembakkan serempak.

Bara Kembara berdiri mematung di ujung parapet bastion utara, jemarinya yang terbalut sarung kulit domba mencengkeram tepian karang hitam pekat yang dingin membeku. Di bawah mantel wol lusuhnya yang berkibar kasar dicabik angin, urat nadi di lengan kanannya berdenyut dengan irama yang menyiksa. Tanda Segel Darah—torehan kaligrafi purba yang diterimanya dalam sumpah di dasar Danau Asam Tais sembilan purnama silam—mulai memancarkan pendar nila tipis. Setiap kali butiran pasir meteorit menyentuh kulitnya, segel itu bereaksi seolah mengenali darah kerabat jauh yang haus akan santapan.

“Apakah kita benar-benar sedang membangun pertahanan, atau sekadar menumpuk keranda batu bagi mereka yang tak berdosa?” bisik Bara ke dalam deru angin, membiarkan pertanyaannya terhempas tanpa jawaban.

Pikirannya terlempar ke masa dua belas tahun yang lalu, ketika lembah Asam Tais masih menghijau di bawah naungan pohon-pohon damar raksasa. Ia masih bocah bertelanjang kaki saat ayahnya, seorang pemahat batu nisan desa, dipaksa berlutut di hadapan utusan istana yang menuntut upeti pecahan batu hitam langit. Bara masih ingat seringai angkuh para bangsawan dan jerit lirih ibunya ketika api memusnahkan lumbung desa mereka. Sumpah yang diucapkannya malam itu di atas abu puing rumahnya bukanlah sumpah untuk menjadi pahlawan agung, melainkan tekad purba agar tak ada lagi manusia yang harus merayap memohon belas kasihan para pemilik takhta. Namun kini, menatap ke bawah ke arah pelataran benteng tempat ribuan obor mulai dinyalakan, Bara merasakan sesak yang tak terperi. Mereka yang berkumpul di bawah sana menaruh nyawa di tangannya, sementara ia sendiri bahkan tak mampu menjamin kewarasan jiwanya dari bisikan segel hitam yang kian mendesak masuk ke sumsum tulangnya.

Dedaunan paku raksasa di tepi tebing berderak patah dihantam hembusan angin berkekuatan lima puluh tombak. Dari kejauhan, di balik gulungan badai yang membutakan, lolongan ganjil mulai terdengar—bukan raungan binatang buas hutan, melainkan desau frekuensi rendah yang membuat gendang telinga berdengung ngilu. Entitas bayangan gelap yang merayap dari retakan Rimba Larangan sedang mendekat, dan benteng karang ini adalah satu-satunya dinding pemisah antara kehidupan dan kehampaan abadi.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Dentang Martil Fajri Nadhir dan Rahasia Dingin Karang Langit

Batu Karang Hitam Meteorit yang Menyerap Api. Lokasi: Balai Tempa Bawah Tanah Benteng Jiwa Baru | Fokus Tokoh: Fajri Nadhir & Bara Kembara

🌺

“Besi biasa melengkung oleh panas, tapi karang meteorit ini lapar akan dinginnya kuburan. Jangan pernah menatap urat ungunya terlalu lama, Bara.”

Turun tiga puluh undakan melingkar ke perut benteng, lolongan badai pasir meredup menjadi dengung berat yang merambat melalui lantai basal. Di sanalah Balai Tempa Fajri Nadhir berdenyut layaknya jantung seekor raksasa tertidur. Udara di ruangan berkubah granit itu dipenuhi uap arang basah, minyak biji tengkawang, dan bau tembaga terbakar. Empat puluh tungku perapian membara merah membara, namun anehnya, ruangan itu sama sekali tidak terasa gerah.

Di tengah balai, berdiri Fajri Nadhir. Tubuh pandai besi tua itu liat laksana kayu ulin bertahun-tahun terpapar pasang surut rawa, dadanya yang telanjang berlumur jelaga dan bekas luka melepuh. Martil tempa berbobot delapan puluh kati di tangannya terangkat mantap, lalu menghantam bongkahan karang hitam meteorit di atas paron landasan dengan suara dentang tajam yang memecah keheningan gua: *KLANG!*

Percikan yang melompat dari benturan itu bukanlah bunga api jingga biasa, melainkan pendar ungu keperakan yang melayang lambat di udara sebelum padam tanpa meninggalkan jelaga. Bongkahan batu yang dipukul Fajri tidak meleleh melunak; ia justru tampak menyerap kilatan api dari paron di sekitarnya, tetap bersudut tajam dan memancarkan hawa dingin yang membuat embun beku tipis melapisi gagang martil sang empu.

“Tiga ratus perisai selesai sebelum tengah hari, Bara,” ujar Fajri tanpa menoleh, napasnya berhembus berat membentuk kepulan uap putih di udara dingin tempaan. Martilnya kembali berdentang, menatah lambang sulur pelindung pada perisai heksagonal yang gelap gulita. “Tapi aku harus memperingatkanmu sekali lagi, Nak. Batu karang yang jatuh dari bintang ini bukan padas biasa dari bukit Asam Tais. Ia memiliki ingatan purba. Ia menolak api bumi karena ia lahir dari kehampaan angkasa yang membeku.”

Bara melangkah mendekat, memperhatikan tumpukan perisai karang yang telah selesai dirangkai dengan tali kulit banteng rimba. Ketika telapak tangannya menyentuh permukaan perisai terdekat, kulitnya tersentak perih; rasa dingin yang menusuk menembus kulitnya dan seketika Segel Darah di lengannya berdenyut menyakitkan, seakan dua kutub magnet gaib saling bertarung di balik jaringan uratnya.

“Apakah perisai ini sanggup menahan taring bayangan gelap, Paman Fajri?” tanya Bara dengan suara parau.

Fajri menurunkan martilnya, menyeka keringat kelabu di dahinya dengan lengan yang kapalan. Tatapannya tertumbuk pada Bara, matanya yang telah memutih sebagian oleh katarak tampak keruh namun menyimpan kilatan getir yang menusuk sanubari.

“Perisai ini akan menahan taring, cakar, dan bahkan tombak sihir bangsawan istana sekalipun,” sahut Fajri lambat-lambat, suaranya bergetar oleh kegelisahan yang coba disembunyikannya. “Tapi ingat kata-kataku: benda yang menyerap kegelapan luar pada akhirnya akan menagih kehangatan dari dalam tubuh pemegangnya. Jika para pemuda desa memakainya terlalu lama, darah mereka akan membeku dari dalam. Kita sedang memberi mereka baju zirah yang hidup, Bara... dan zirah ini tidak pernah kenyang.”


˚༺☆༻


Bagian 03 : Gelora Api Fauzan Fardhan dan Penebusan Rasa Bersalah

Pidato di Bawah Langit Pasir yang Menghitam. Lokasi: Pelataran Utama Barisan Relawan Jiwa Baru | Fokus Tokoh: Fauzan Fardhan

🌺

“Kita bukan sekadar pembajak sawah dan pencari damar! Hari ini kita adalah benteng karang yang takkan pernah sujud pada bayangan gelap!”

Lihat selengkapnya