Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Pecahnya Perang di Garis Batas Lubay

"Bumi bergetar hebat saat kedua pasukan bertubrukan. Panah halimun Fariga menembus malam dengan kilatan hijau, menumbangkan pengendali monster. Bara meluncur bagai peluru batu, membelah barisan musuh dengan kombo sabetan padas beruntun."


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Gemuruh Padas dan Dinginnya Kabut Lubay

Latar: Padang Rumput Ilalang Tapal Batas, Ujung Selatan Wilayah Lubay. Waktu: Cerah Mistis Fajar Jiwa Baru; Langit Merona Keemasan Berbalut Kabut Lembab.

🌺

Ujung rumput ilalang yang memutih oleh embun fajar menyapu pelindung kulit pada lutut Bara Kembara, meninggalkan jejak basah yang dingin menusuk hingga ke tulang sumsum. Di batas cakrawala timur, mentari baru saja merekah—namun bukan kehangatan yang dibawanya, melainkan seberkas pendaran lembayung ganjil yang oleh para tetua adat disebut sebagai 'Fajar Jiwa Baru'. Langit tampak terbelah antara keemasan pucat dan ungu kelam, bagai luka menganga di kubah semesta yang enggan menutup.

Bumi di bawah kedua telapak kakinya bergetar ritmis. Bukan getaran gempa alamiah yang lamban dan agung, melainkan denyut liar yang tak henti-hentinya menyentak permukaan padang rumput: hentakan puluhan tabung artileri tanah yang digali dan ditanam oleh brigade zirah perunggu Zahirul Ikhsan di balik bukit gamping. Setiap kali getaran itu merambat naik melalui sol sepatunya, pembuluh darah di sekujur lengan Bara berdenyut nyeri, seirama dengan kristal padas purba yang menyatu di pangkal pedang pusakanya.

Bara menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang dibebat perban kasar bernoda minyak pelumas senjata. Jarinya gemetar halus. Bukan karena gentar menghadapi kematian, melainkan karena bisikan asing yang sejak tadi malam merayap di rongga kepalanya—suara serak tak bertubuh yang terus mengulangi sebuah nama yang telah lama dihapus dari kronik istana Asam Tais.

Di sampingnya, sejauh tiga depa di atas gundukan batu cadas yang ditumbuhi lumut kelabu, Fariga Nashiha berdiri tanpa suara. Tubuh ramping perempuan itu nyaris tersamarkan di antara helai-helai ilalang yang meliuk ditiup angin lembah. Busur halimun pusakanya yang terbuat dari kayu ulin rawa telah terentang separuh. Tali busur itu tidak terbuat dari serat rami biasa, melainkan jalinan benang eterik yang memancarkan pendar kehijauan pekat—racun getah upas purba yang dicampur dengan kabut halimun lembah.

Mata Fariga terpaku lurus ke depan, ke arah jurang kabut di mana garis batas Lubay berpapasan dengan rimba tak bertuan. Matanya dingin, setajam mata elang yang mengintai mangsa di pucuk ranting mati, namun Bara tahu betul: di balik tatapan pualam itu, ada badai keputusasaan yang sama besarnya dengan yang membakar dadanya sendiri.

'Bara,' bisik Fariga pelan, nyaris tenggelam oleh desau angin fajar yang membawa aroma belerang dan anyir tanah basah. 'Dengarkan ketukannya. Monster-monster di barisan depan tidak berjalan dengan kehendak hewan buas. Mereka dipaksa melangkah dengan rantai jiwa. Seseorang di dalam barisan zirah perunggu itu sedang mencabik-cabik ingatan mereka agar mereka tidak merasakan sakit saat dagingnya robek.'

"Mengapa setiap kali tanah ini bergolak, nuraniku justru terasa semakin hampa? Aku bersumpah melindungi takhta demi membalas darah ayahku, namun kini di hadapanku terbentang ribuan jiwa yang mungkin sama sekali tidak tahu untuk dosa siapa mereka dikorbankan. Jika pedang padas ini menuntut darah lagi hari ini, apakah yang tersisa dari diriku selain sebongkah batu karang tanpa rasa?"

Sepuluh musim dingin silam, di pelataran kuil Asam Tais yang terbakar, ayahnya berlutut dengan leher bersimbah darah sambil menggenggam erat pergelangan tangannya. 'Bara, jangan pernah biarkan segel padas runtuh ke tangan bangsawan Lubay yang haus kuasa. Segel itu bukan mahkota kemuliaan... itu adalah kuburan raksasa.' Kala itu Bara mengira ayahnya berbicara tentang serbuan musuh luar. Kini, melihat panji-panji perunggu Zahirul berkibar di batas padang, Bara mulai menyadari bahwa musuh paling berbahaya mungkin selalu duduk di singgasana yang ia lindungi.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Pecahnya Barikade dan Hujan Panah Berbisa

Latar: Barikade Kayu Berlapis Baja Jiwa Baru, Lereng Tengah Tapal Batas. Fokus Elemen: Dentuman Artileri Tanah & Kilatan Panah Halimun

🌺

DUMMM! DUMMM! DUMMM!

Tiga dentuman dahsyat serentak merobek keheningan fajar. Udara bergetar begitu keras hingga gendang telinga Fariga berdenging hebat. Dari lereng seberang, artileri tanah milik Zahirul memuntahkan proyektil padas padat yang diselimuti kobaran api terak hitam. Bola-bola batu sebesar kerbau jantan itu melayang melengkung di udara, membelah kabut mistis, sebelum akhirnya menghantam barikade kayu ulin 'Jiwa Baru' dengan kehancuran yang mengerikan.

Serpihan kayu setajam belati menyembur ke segala arah bersama jeritan parau prajurit penjaga tapal batas. Tanah terlempar puluhan depa ke udara, mengubur parit pertahanan pertama dalam hitungan detik. Asap tebal bercampur bau belerang seketika menutupi pandangan, namun di balik tabir jelaga itulah mimpi buruk yang sesungguhnya mulai menampakkan wujud.

Dari celah-celah tanah yang merekah akibat dentuman, kawanan monster bayangan merangkak keluar bagai semut hitam yang terusir dari liang sarang. Mereka memiliki siluet menyerupai serigala purba setinggi bahu manusia dewasa, namun tubuh mereka terbuat dari jalinan asap pekat dan serpihan padas runcing. Mata mereka tidak memiliki pupil—hanya sepasang rongga kosong yang menyala dengan kobaran api ungu pucat.

Di belakang kawanan buas itu, berbaris rapat prajurit bayaran berzirah perunggu kusam. Di atas helm tempur mereka terukir lambang rajawali mencengkeram rantai—panji kebanggaan faksi bangsawan pemberontak pimpinan Zahirul Ikhsan. Pengendali monster, para cenayang berbaju zirah tipis yang menunggangi kuda-kuda hitam kurus, meniup terompet tulang yang mengeluarkan lengkingan memilukan, mengarahkan gelombang serbuan tepat ke titik terlemah pertahanan Jiwa Baru.

'Lepaskan!' teriak Fariga dari puncak bukit kecil, suaranya melengking mengatasi gemuruh ledakan.

Jari-jemarinya yang lentik melepaskan tali busur halimun. TZZZZTTT! Tiga anak panah bercahaya zamrud meluncur sejajar, membelah tirai asap tanpa suara mendesis. Panah halimun Fariga menembus kabut fajar dengan kilatan hijau menyilaukan, langsung menghunjam tepat di tenggorokan dua pengendali monster dan satu perwira artileri di garis kedua. Tubuh para pengendali itu mengejang kaku sebelum ambruk bersimbah darah hitam kental. Terompet tulang terlepas dari genggaman mereka, menimbulkan kepanikan sesaat di barisan kawanan bayangan yang mendadak kehilangan komando gelombang pikiran.

Lihat selengkapnya