Lihat kekuatan sejati takhta ini, Bara!” teriak Zahirul seraya melancarkan tusukan mematikan bertubi-tubi. Bara memejamkan mata sesaat, membaca getaran lantai batu. TANG! Tangkisan karang sempurna mematahkan pedang Zahirul, disusul pasak granit yang menancapkan lawannya ke dinding padas.
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Gerimis Abu dan Ratap Gerbang Tembaga
🌺
Abu belerang turun laksana kafan kelabu yang tak berujung, menaburi puncak-puncak cemara purba dan melumuri retakan Reruntuhan Gerbang Tembaga Asam Tais. Setiap butir serpihan abu itu berbau tajam—campuran tembaga terbakar, tanah basah yang membusuk, dan sisa-sisa belerang cair dari bibir kawah yang menggelegak dua liga di belakang kabut pekat. Angin ngilu berembus dari celah ngarai purba, meniup dedaunan pakis raksasa hingga mendesis seperti desau ular naga yang terjaga dari tidur berabad-abad. Di tempat inilah batas antara rimba liar dan peradaban Asam Tais pernah ditegakkan dengan megah; kini, gerbang tembaga kolosal setinggi dua belas tombak itu berdiri miring, permukaannya dirayapi patina hijau toska yang teroksidasi oleh ludah asam kawah selama empat ratus tahun kejayaan yang runtuh perlahan.
Bara Kembara berdiri tak bergerak di atas undakan batu granit yang pecah. Tapak kakinya mencengkeram erat lantai padas yang dingin, menyerap setiap getaran mikro yang merambat dari perut bumi. Hujan abu menempel pada janggutnya yang kasar, di bulu matanya, dan di lipatan jubah kelabu bertambal kulit badak yang ia kenakan. Dadanya naik turun dengan ritme lambat dan terukur, seperti detak jantung bumi itu sendiri. Di genggaman tangan kanannya, Palu Karang bertatahkan rune padas memancarkan hangat samar yang menolak hawa beku lembah. Namun ketenangan lahiriah itu menipu. Di balik rongga dadanya, batin Bara bergolak hebat, dihantam oleh badai penyesalan, keraguan moral, dan kepedihan yang telah mengendap selama tujuh purnama perburuan panjang tanpa jeda.
"Kau terlambat tiga tarikan napas, Saudaraku," sebuah suara membelah deru angin belerang. Suara itu bukan datang dari satu arah, melainkan bergema dari balik pilar-pilar tembaga yang keropos, bergetar di dalam tengkorak Bara laksana gesekan logam berkarat pada kaca beling.
Dari balik bayang-bayang pilar raksasa sebelah barat, sesosok tubuh melangkah keluar. Ia tidak menjejak tanah secara wajar; ujung jari kakinya nyaris mengambang setengah jengkal di atas lapisan abu tebal tanpa meninggalkan jejak serpihan. Itu adalah Zahirul Ikhsan—atau setidaknya apa yang tersisa dari sosok pemuda bangsawan yang pernah bersumpah setia di bawah naungan pohon ara Danau Tais. Jubah kebesaran sutra Asam Tais yang dahulu berwarna merah delima kini telah koyak-moyak, berubah menjadi sulur-sulur hitam kelam yang mengepulkan kabut pekat. Kulit wajahnya yang dahulu cerah seputih pualam kini sepucat mayat yang direndam dalam air kapur, dihiasi jaring-jaring urat hitam pekat yang berdenyut aktif dari pangkal leher hingga ke pelipis mata kanannya.
Dan di tangan kirinya, tergenggam Belati Tulang Gelap. Bilah belati itu tidak terbuat dari besi tempaan pandai logam fana, melainkan dipahat dari serpihan tulang rusuk Raja Pertama Asam Tais yang telah dikeringkan dalam minyak damar terkutuk. Ujungnya melengkung ganjil, mengeluarkan desisan dingin yang membekukan butiran abu di sekitarnya menjadi kristal jelaga kelam.
"Aku tidak datang untuk beradu kata, Zahirul," bisik Bara, suaranya berat dan serak, bergetar dengan duka yang ditahan sekuat tenaga. "Kembalikan pusaka itu ke makam leluhur. Intisari bayangan di dalam belati itu bukan penyelamat wangsamu. Ia sedang memamah jiwamu dari dalam, mengunyah setiap kenangan manusiawimu hingga kau tak lebih dari sekadar anjing pemburu bagi kegelapan yang mendiami dasar kawah."
Tawa Zahirul meledak—melengking tinggi, menusuk pendengaran, diiringi kepulan uap hitam pekat yang membubung dari kedua bola matanya yang kini sehitam batu obsidian. "Jiwa manusiawi? Kenangan manis?" Zahirul melangkah maju selangkah, dan batu di bawahnya mendesis lumer bagai lilin terbakar asam pekat. "Apakah jiwa manusiawi itu yang menyelamatkan ayahandaku ketika para tetua bangsawan mencampur racun tuba ke dalam cawan tuaknya? Apakah kenangan indah di Danau Tais yang menahan pedang para pembunuh saat adik perempuanku dilemparkan ke jurang belerang demi menyenangkan takhta tandingan? Kau hidup dalam dongeng batu bisu, Bara! Kau memeluk karang dingin sementara tanah leluhur kita sedang diperkosa oleh para pengkhianat berjubah emas!"
˚༺☆༻
Bagian 02 : Kilas Balik Darah dan Sumpah di Bawah Pohon Ara
🌺
Mendengar nama Danau Tais meluncur dari bibir Zahirul yang menghitam, benak Bara terlempar ke masa dua belas musim dingin silam. Ingatan itu datang dengan kejelasan yang menyiksa, kontras yang teramat tajam dengan pemandangan reruntuhan gerbang tembaga yang membusuk di hadapannya hari ini.
Kala itu, udara Asam Tais tidak berbau belerang busuk dan anyir darah. Lembah itu hijau royo-royo, dialiri sungai jernih berkerikil kuarsa yang memantulkan langit biru tak bercela. Di bawah naungan pohon ara raksasa yang akarnya menjuntai hingga ke permukaan air danau, Bara dan Zahirul remaja duduk bersila di hadapan Guru Tua Resi Mandaka. Zahirul, dengan senyum angkuh namun hangat khas anak bangsawan tinggi, selalu mengeluhkan latihan meditasi padas yang membosankan. 'Batu itu lamban, Paman Guru,' kata Zahirul muda kala itu seraya melemparkan batu pipih yang melompat lima kali di atas riak air. 'Aku ingin kecepatan elang. Aku ingin menyambar sebelum musuh menyadari bahwa ajal telah menjemput.'
Bara teringat bagaimana Resi Mandaka tersenyum getir, mengelus janggut putihnya seraya menepuk pundak Zahirul. 'Kecepatan tanpa jangkar adalah badai yang menghancurkan rumahnya sendiri, Anakku,' ucap sang Resi dengan suara yang tenang bagai gemercik mata air. 'Batu karang tampak diam dan bisu, tetapi ia menahan empasan samudra selama ribuan tahun tanpa memindahkan sebutir pasir pun. Hari di mana kau meninggalkan ketenangan karang demi mengejar kecepatan angin hampa, kau akan menjadi buronan bagi bayang-bayangmu sendiri.'
Bara sendiri, saat itu hanyalah seorang bocah yatim piatu anak pemecah batu kapur yang diizinkan masuk ke padepokan karena memiliki bakat langka mengalirkan getaran tanah. Ia kerap merasa kerdil di samping Zahirul yang berpakaian sutra bersulam benang perak. Namun Zahirul tidak pernah sekali pun memandangnya dengan rasa jijik seorang priyayi. Pada suatu petang saat tangan Bara robek terkena pahat granit purba, Zahirul-lah yang merobek lengan bajunya sendiri untuk membebat luka tersebut. Kehangatan persaudaraan itulah yang kini mencabik-cabik sukma Bara. Bagaimana mungkin anak bangsawan yang rela mengotori sutranya demi merawat darah pemecah batu kini menjelma menjadi iblis pembalas dendam yang tak kenal ampun?
Pada sore di tepi Danau Tais itu pula, mereka berdua menggoreskan ujung telunjuk dengan duri rotan, menyatukan setetes darah merah di atas sebutir batu kali pipih. Zahirul berbisik dengan mata berbinar penuh ketulusan: 'Bila suatu hari kelak aku dinobatkan di atas Takhta Asam Tais, kau adalah pasak batuku, Bara. Takkan ada pedang bangsawan, intrik selir, atau racun penyihir yang mampu memisahkan kita.'
Batu sumpah itu... Bara masih menyimpannya di dalam kantong kulit rusa di balik zirah dadanya. Namun kini, batu itu terasa membakar kulitnya laksana bara api neraka. Apa yang tersisa dari anak muda yang tertawa di bawah pohon ara itu? Hanya seorang pria kesurupan yang menjual sukmanya pada iblis kabut demi membalas dendam kepada para bangsawan yang telah lama membusuk di kuburan mereka masing-masing.
"Resi Mandaka telah mati, Bara!" jerit Zahirul tiba-tiba, seolah mampu membaca bayangan kenangan yang melintas di pupil mata Bara. "Ia mati meratap di atas kasur jerami saat biara padasnya dibakar rata dengan tanah! Di mana ketenangan karangnya ketika api membakar kulitnya? Di mana keabadian batunya ketika para serdadu bayaran tertawa melihat naskah-naskah sucimu menjadi abu? Batu tak pernah menyelamatkan siapa pun! Hanya ketakutan yang bisa membuat dunia berlutut!"
˚༺☆༻
Bagian 03 : Desir Belati Tulang Gelap dan Benturan Padas Murni
🌺
Ketegangan di pelataran Gerbang Tembaga mencapai titik kritis. Udara mendadak menjadi begitu pekat hingga setiap tarikan napas terasa seperti menelan serbuk kaca panas yang menyayat paru-paru. Lapisan abu vulkanik di lantai batu mulai berdesir gelisah, terseret oleh gaya gravitasi gelap yang berpusat di ujung Belati Tulang Gelap milik Zahirul. Zahirul tidak lagi menunggu jawaban. Dengan satu dengusan buas yang meremukkan sisa kesadaran manusianya, tubuhnya meledak menjadi kepulan asap hitam legam.
Wusss!
Bara tidak mengandalkan matanya. Dalam pertarungan melawan Intisari Bayangan, mata jasmani adalah pintu gerbang menuju tipu daya ilusi. Ia memejamkan kedua kelopak matanya rapat-rapat. Kesadarannya menyelam ke bawah—menembus lapisan abu vulkanik setebal tiga jengkal, meraba susunan lempeng batu granit kuno yang menjadi fondasi gerbang purba ini. Di sanalah hakikat ajaran Padas Murni bekerja: membaca getaran bumi.
Satu denyut dari kiri... bukan, itu desau angin kosong! Denyut kedua dari atas pelengkung tembaga... sebuah jebakan tipuan! Denyut ketiga—sangat halus, dingin bagai es mencair, muncul tepat dari bayang-bayang di belakang tumit kanannya sendiri!
Bara memutar poros pinggulnya dengan presisi yang mengejutkan bagi pria bertubuh kekar. Palu Karangnya berputar membentuk lengkungan busur pelindung. Krakk! Udara di belakangnya terbelah saat ujung Belati Tulang Gelap menikam ruang kosong tempat lehernya berada sepersekian detik sebelumnya. Hembusan angin dingin dari belati itu sempat menggores pipi Bara, meninggalkan garis luka hitam yang tidak meneteskan darah merah, melainkan membeku menjadi serpihan abu seketika.
"Lihat kekuatan sejati takhta ini, Bara!" teriak Zahirul seraya melancarkan tusukan mematikan bertubi-tubi.
Serangan itu datang seperti badai jarum hitam yang tak berujung. Bilah belati tulang itu berkelebatan dalam tujuh lintasan mematikan secara serentak—menembus udara dari depan, menusuk dari bawah tanah, dan meluncur dari balik pilar perunggu yang retak. Setiap tikaman membawa hawa dingin yang mengikis lapisan perlindungan padas Bara. Percikan bunga api hitam dan serpihan tembaga berhamburan ke segala arah. Zahirul bergerak dengan kecepatan supranatural; ia bukan lagi manusia yang berlari, melainkan bayangan hidup yang melompat dari satu serpihan kegelapan ke serpihan lainnya. Suara tawanya bergema tumpang tindih dari delapan sudut mata angin, mengejek setiap pertahanan yang dibangun Bara.
Bara terus bertahan. Ia melangkah mundur setapak demi setapak, menjaga kestabilan napasnya di tengah gempuran badai yang memekakkan telinga. Setiap benturan antara belati tulang dan palu karangnya mengeluarkan dengung logam nyaring yang membuat gigi ngilu. Zahirul semakin liar, matanya berkilat dengan kegilaan murni, bibirnya menyeringai memperlihatkan gusi yang berdarah. Ia menikmati keputusasaan yang ia kira sedang merayapi hati sahabat lamanya. Namun Zahirul lupa satu hal yang diajarkan Resi Mandaka: batu karang tidak pernah mundur karena takut pada ombak; ia mundur untuk mengumpulkan daya lenting hempasan berikutnya.