Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Bangkitnya Sang Hyang Rengas Purba


“Pohon purba itu bukan sekadar tanaman, melainkan dewa murka berkepala akar granit dengan mata berapi asam pekat. Langkah kakinya menimbulkan gempa berkekuatan dahsyat yang meretakkan bukit-bukit di sekeliling Danau Asam Tais.”


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Kaldera Takhta Asam Tais · Elevasi 2.400 Depa

🌺

Bau belerang pekat tidak lagi sekadar merambati udara; ia telah bermutasi menjadi kabut asam kental yang mencekik rongga pernapasan, menusuk bronkus, dan meninggalkan jejak rasa tembaga berkarat di pangkal lidah setiap kali dada dipaksa mengembang. Di tubir kaldera raksasa Takhta Asam Tais, cakrawala senja telah lama padam ditelan pekatnya jelaga kawah. Langit yang biasanya membentang lembayung di atas punggungan bukit barisan kini laksana kubah besi tempa berkarat yang memuntahkan butir-butir abu vulkanik dingin tanpa henti. Setiap butir abu yang hinggap di kulit telanjang mendesah pelan, melepaskan gigitan asam pedih yang seketika melarutkan peluh menjadi bercak-bercak lepuh kemerahan.

Bara Kembara berlutut dengan satu kaki di atas hamparan kerikil obsidian hitam yang bergemerisik tajam bagai serpihan kaca beling. Di bawah telapak sarung tangannya yang terbuat dari lapisan ganda kulit badak rimba bersulam benang perak tahan asam, batuan purba itu tidak sekadar bergetar karena gempa vulkanik biasa. Tanah kaldera ini berdenyut dengan ritme yang ganjil dan mengerikan—sebuah detak jantung purba yang lambat, berat, dan dipenuhi getaran kebencian yang telah difermentasi selama seribu musim kemarau di kedalaman jurang terdalam.

Di hadapannya membentang Danau Asam Tais, sebuah keajaiban alam sekaligus kuburan massal yang tak pernah tercatat dalam peta pelayaran umum. Permukaan danau seluas seratus pal itu sama sekali tidak mendidih bergolak layaknya kawah belerang biasa; sebaliknya, cairannya membeku dalam ketenangan hijau zamrud yang pekat dan mematikan. Itu adalah lahar asam dingin, cairan kimiawi purba bersuhu mendekati titik beku yang mampu melarutkan pelat zirah baja terkuat menjadi bubur karat hanya dalam sepuluh kali hembusan napas. Di atas lapisan kaca asam yang berderit-derit tegang itu, kabut putih keperakan meliuk-liuk rendah bagai arwah para pendahulu yang terperangkap dalam lingkaran kutukan tanpa akhir.

‘Berapa banyak lagi nyawa yang harus dikorbankan untuk menenangkan rasa lapar tanah ini?’ batin Bara berbisik pedih. Tangannya yang kasar meraba gagang bilah obsidian di pinggangnya. Logam hitam itu berdengung rendah, mengirimkan sengatan hangat yang menusuk saraf lengannya—sebuah peringatan bahwa batas antara dunia fana dan kemurkaan para dewa kuno telah robek seutuhnya.

“Berapa lama lagi segel penahan itu sanggup menahan desakan dari bawah, Nashiha?” suara Bara terdengar serak, parau dan terkoyak oleh serbuk abu yang mulai mengerak di bibirnya yang pecah-pecah. Matanya yang tajam dan lelah tak pernah lepas mengawasi pusaran air di pusat danau.

Di samping kirinya, Nashiha Salma merunduk di balik sebongkah batu basal berlumut belerang. Tangan sang cendekiawan botani gemetar hebat saat menahan jarum kompas kuningan kuno miliknya yang berputar liar tanpa arah kutub yang konsisten. Tabung kulit pelindung di punggungnya telah terbuka separuh, memperlihatkan lipatan-lipatan perkamen Herbarium Antiquum yang tepi-tepinya mulai menghitam rapuh akibat uap korosif di sekitar mereka.

“Segel itu sudah mati sebelum kita berhasil menembus celah jurang ini, Bara!” Nashiha membalas dengan napas memburu di balik cadar linen tebalnya. Matanya yang merah menatap rekahan-rekahan pada cermin danau asam. “Lihat retakan itu! Pola frakturnya bukan menyebar ke dalam, melainkan merekah dari poros pusaran kawah! Inang pengendali yang ditinggalkan oleh dinasti raja terdahulu telah habis terserap... pohon itu kini kelaparan. Tanpa inang baru, Sang Hyang Rengas Purba akan mencabut seluruh akar seribu tahunnya dan menumpahkan jutaan galon lahar asam dingin ini ke lembah permukiman tujuh kadipaten di bawah sana!”


˚༺☆༻


Bagian 02 : Pelataran Mahkota Kawah Asam Tais

🌺

“Cukup ocehan sampahmu, Nashiha!” sebuah suara melengking tajam memotong desau angin kawah dengan arogansi yang dipaksakan. Puteri Varisha Zafeera melangkah maju dengan dagu terangkat tinggi, menolak untuk merendahkan tubuhnya ke tanah berdebu meski terpaan angin badai abu nyaris menerbangkan selendang sutra beludru hijau lumut yang membalut tubuh rampingnya. Di jari manis tangan kanannya, Cincin Mustika Takhta berpendar dengan kilau zamrud dingin yang berkedip tak beraturan—seirama dengan denyut danau asam di hadapan mereka.

Bara memicingkan mata menatap sosok sang puteri. Selama tiga puluh hari perjalanan menembus rimba belantara Asam Tais yang dipenuhi rawa beracun dan jeratan tanaman pemangsa, ia menyaksikan perempuan bangsawan ini mempertahankan ilusi kekuasaannya dengan gigih. Namun di sini, di hadapan gerbang kematian yang sesungguhnya, topeng keagungan itu mulai memperlihatkan retakan-retakan fatal. Di bawah kerudung bersulam benang perak murni yang kini dipenuhi noda jelaga, rona wajah Varisha sepucat mayat yang diawetkan dalam garam. Bibirnya yang bergetar memperlihatkan bekas gigitan kecemasan yang ditekan habis-habisan.

Di balik arogansi darah birunya, Bara tahu betul teror macam apa yang bersarang di benak sang putri. Memori tujuh warsa silam kembali menyeruak ke permukaan kesadaran Bara bagai duri berkarat yang dihujamkan ke jantungnya. Malam berdarah di Balairung Kencana, ketika ayahanda Varisha—Sri Maharaja Lingga Tais yang agung—memerintahkan kompi pengawal kembara untuk mengikat saudara kandung Bara sendiri ke tiang pasung kayu rengas di ruang bawah tanah istana.

‘Demi keutuhan takhta dan ketenteraman negeri, Bara,’ demikian titah sang raja saat itu, dingin tanpa secuil pun keraguan di matanya yang tua. ‘Pohon itu menuntut bunga darah setiap kali musim gugur tiba. Kau adalah anjing penjaga gerbang; tugasmu bukan mempertanyakan siapa yang dijadikan korban, melainkan memastikan tidak ada jeritan yang lolos melewati gerbang istana.’

Kini, tatapan Varisha menghunus tepat ke bola mata Bara, menuntut kepatuhan buta yang sama. “Ayahanda telah mangkat dan mewariskan Cincin Mustika ini langsung ke dalam darahku! Selama mustika ini menyala di jariku, Sang Hyang Rengas Purba terikat oleh sumpah perjanjian leluhur untuk tunduk pada kehendak wangsa kami! Kalian berdua adalah abdi bayaran; jika pohon purba itu menuntut korban darah, tugas kalian adalah mempersembahkan nyawa kalian agar garis takhta ini tetap berdaulat di atas bumi Asam Tais!”

“Kehormatan apa yang kau bicarakan, Tuan Puteri?” sela Nashiha dengan nada sinis yang mengiris kehampaan. Suaranya dingin, dipenuhi amarah seorang ilmuwan yang muak melihat kepalsuan dogma istana. “Leluhurmu tidak pernah menaklukkan pohon ini! Mereka membuat perjanjian terkutuk dengan iblis akar demi mempertahankan kemewahan istana gading kalian! Seluruh kemakmuran tujuh kadipaten dibangun di atas sumsum tulang rakyat jelata yang diculik dan dijadikan pupuk getah! Dan sekarang, ketika karma itu datang menagih hutang, kau masih mengira cincin emas bertatahkan batu kaca itu mampu memerintah dewa purba yang sedang murka?”


Lihat selengkapnya