"Kebenaran tidak bisa disembunyikan di balik jubah wisuda kw, Mbah Lurah! Anda telah menipu roh leluhur, menipu warga, dan yang paling fatal: membuat jas hujan kesayanganku bau terasi!"
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Hujan yang Turun dari Bawah
🌺
Hujan abu di puncak kawah Asam Tais tidak jatuh dari langit. Ia naik dari dasar kawah—terseret oleh hembusan napas gunung yang tidur, lalu mengendap di rambut, di bahu, di bulu mata, seperti salju yang lupa cara menjadi putih. Setiap butirnya hangat. Setiap butirnya bergetar halus, seolah mengandung detak jantung yang terlalu kecil untuk didengar telinga.
Ada satu hal yang tak seorang pun dari empat ksatria itu berani ucapkan dengan lantang: hujan abu ini selalu lebih tebal jatuhnya di atas bahu Bara Kembara. Seperti mengenali permukaan tempat ia boleh berpijak. Seperti memastikan bahwa kunci itu masih di tempatnya.
Bara berdiri di titik utara lingkaran, dan melalui tabir abu ia melihat tiga sosok lain di titik-titik mata angin.
Fajri Nadhir di timur. Jubah putihnya kini abu-abu sejak semalam—sejak ia tidak tidur, sejak ia menghitung ulang tujuh pilar itu sebanyak empat kali dengan jarinya yang keriput seperti kulit pohon. Di tangannya, palu tempaan yang diturunkan dari tiga generasi terasa lebih berat dari besok pagi: sejak fajar tadi, gagangnya seolah menghisap kehangatan telapak tangan. Bukan karena dingin. Karena sabar. Palu itu sabar dengan cara yang membuat Fajri tidak.
"Tujuh menyala, satu gelap," gumam Fajri pada diri sendiri untuk kesepuluh kalinya. "Kitab bilang delapan penjuru. Kitab tidak bilang bagaimana kalau yang kedelapan... tidak mau ditemukan."
Fariga Nashiha di selatan. Matanya yang selalu tenang kini lebih tajam dari uman keris. Ia berdiri dengan kedua telapak kaki sedikit melebar—sikap bertahan yang ia pelajari bukan dari perguruan mana pun, melainkan dari mengamati ibunya menghela napas terakhir. Di dadanya, tersimpan selembar peta yang sudah ia baca hingga hafal, hingga muak, hingga ia mulai menduga bahwa peta yang paling dipercaya justru paling banyak berbohong.
"Peta bilang delapan pilar selalu lengkap," bisik Fariga pada angin. "Peta tidak bilang di halaman mana kita berada."
Fauzan Fardhan di barat. Perisai karang raksasanya tertancap di tanah seperti batu nisan yang masih bernapas. Sejak semalam perisai itu berdenyut sesekali—bukan getaran dari luar, melainkan dari dalam, seolah ada sesuatu di balik lapisan karangnya yang mulai terbiasa dengan irama jantung pemiliknya dan mulai bosan menirukannya. Fauzan menatap punggung Bara dari seberang lingkaran, dan untuk sepersekian detik, tangannya gemetar. Bukan karena takut.
Karena ingat. Dermaga lapuk. Tiga kelingking. Sumpah yang diucapkan di bawah lentera minyak jarak.
"Aku bersumpah perisai ini hanya menangkis," bisik Fauzan pada perisainya. "Tapi kau mulai terasa seperti palu, kawan. Dan aku mulai takut padamu sendiri."
Dan di tengah lingkaran, di bibir kawah yang menganga: delapan pilar tempaan pusaka.
Tujuh di antaranya telah menyala, berdenyut dengan cahaya emas yang tidak hangat, melainkan haus. Cahaya itu tidak memberi terang; ia meminta sesuatu. Jika kau berdiri cukup lama di dekatnya, kau akan merasa bukan cahayamu yang terpancar—tetapi cahaya itulah yang menatapmu, menimbangmu, menghitung berapa banyak dari dirimu yang bisa ditarik masuk ke dalam batu.
Pilar kedelapan gelap.
Namun gelapnya bukan seperti lilin yang padam. Ia gelap seperti mulut yang deng sengaja ditutup. Ada jarak antara "tidak menyala" dan "menolak menyala"—dan pilar kedelapan jelas-jelas melakukan yang kedua. Abu yang jatuh di atasnya tidak menempel; ia meluncur, menyingkir, seperti debu yang tahu sopan santun di hadapan sesuatu yang lebih tua dari debu itu sendiri.
"Kita kekurangan satu pasak," kata Fariga, suaranya dipotong angin kawah. "Delapan penjuru, Fajri. Bukan tujuh. Matematika purba tidak peduli pada alasan."
"Aku tahu berapa tujuh dari delapan, Fariga," jawab Fajri tanpa menoleh. Palunya naik setengah jengkal, lalu turun lagi. "Yang tidak kutahu adalah mengapa tujuh pilar ini menyala sebelum kedelapan ditemukan. Pilar mana pun yang pernah kau baca menyala tanpa pasaknya?"
Hening. Hanya deru napas gunung yang terdengar seperti penderu raksasa di bawah kaki mereka.
"Justru itu yang mengusikku," ucap Bara akhirnya, dan suaranya membuat ketiga ksatria itu menoleh. "Pilar yang menyala tanpa pasak bukan berarti formasinya hampir selesai. Berarti formasinya hampir lapar."
Dari kedalaman kawah, samar-samar, terdengar sesuatu yang bukan gemuruh—melainkan bunyi yang menyerupai tawa yang ditahan terlalu lama.
Dan pilar kedelapan, yang sejak tadi gelap, menyala sekali.
Sekilas saja. Sepersekian detik. Merah.
Seolah ia baru saja membuka satu mata... untuk melihat siapa yang berani menyebut namanya lapar.II. Pukulan Palu Pertama
Fajri Nadhir mengangkat palu tempanya—alat yang sama yang menurut kitab silsilah pernah menempa gerbang istana pertama. Ia tidak menjawab Fariga. Kakeknya pernah berkata: palu yang baik tidak perlu berdebat dengan paku; ia hanya perlu jatuh di waktu yang benar.
"Tujuh musim aku mencari pasak kedelapan," ujar Fajri akhirnya, mata tak lepas dari kawah yang berkabut. "Tujuh musim aku membaca kitab yang seharusnya dibakar. Dan di halaman terakhir yang belum disobek, ada satu kalimat yang tertulis dengan darah pewaris: Delapan pasak tidak ditemukan, Fauzan. Delapan pasak dilupakan."
Jeda. Abu menderu di antara mereka.