Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Penyatuan Pasak Bumi Lubay

“Dengan lompatan yang memecahkan bebatuan pijakan, Bara melesat ke rongga dada sang raksasa purba. Bilah keris menancap sempurna. Tidak ada darah yang mengucur, melainkan semburan partikel kristal keemasan yang menumbuhkan kembali pepohonan rengas menjadi suci dan hijau.”


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚



Bagian 01 : Langit Abu dan Dengung Sang Raksasa - Atmosfer Kawah Asam Tais

🌺

Hujan abu vulkanik turun seperti kutukan yang tidak pernah mengenal jeda. Setiap serpihan kelabu yang melayang dari puncak kawah Asam Tais tidak hanya membawa aroma belerang yang mencekik tenggorokan, melainkan juga bau getah rengas purba yang membara—bau asam pekat yang sanggup mengikis lapisan perunggu, melumatkan kain wol tertebal, dan melumerkan kulit manusia fana dalam hitungan tarikan napas. Kabut tebal berwarna tembaga menggantung di atas ngarai, berputar lambat dalam pusaran udara panas yang dimuntahkan dari rekahan-rekahan batuan basaltik. Di tubir jurang yang retak-retak bagai jaring laba-laba raksasa, Bara Kembara berdiri mematung. Jubah kelana yang membalut tubuhnya telah compang-camping, dikotori jelaga arang dan bercak kristal damar hitam yang mengeras menjadi keropeng beku di sepanjang pundak dan kedua belah lengannya.

Di hadapannya, merentang palung raksasa Inti Jantung Takhta Asam Tais. Tempat ini adalah pusaran sunyi yang mengerikan, di mana waktu seolah dibekukan oleh kepedihan tanah purba. Di tengah danau magma yang menggelegak dengan letupan gelembung merah kehitaman selebar perahu nelayan, menjulang sosok yang melampaui segala deskripsi akal budi manusia fana: Sang Hyang Rengas. Raksasa purba itu bukan sekadar pohon raksasa yang membatu, bukan pula semata binatang buas bertanduk kayu. Ia adalah tumpukan fosil hidup berurat kayu besi dan batuan leleran lava, dengan lingkar torso selebar bukit kembar di pesisir selatan. Kulit luarnya merupakan lapisan arang keras setebal lima jengkal, dipenuhi sulur-sulur akar berduri yang menggeliat menembus kubangan lahar menyala tanpa sedikit pun terbakar.

Di rongga dadanya yang menganga retak menyerupai gua bertingkat, berdenyut sebongkah gumpalan cahaya hijau-keemasan yang berdegup lambat. Degupan itu mengirimkan getaran sonik berfrekuensi amat rendah yang merambat melalui lantai kawah, merayap naik menembus sol sepatu kulit Bara, lalu menghantam tulang dadanya secara berulang. Setiap dentuman jantung purba itu seakan menuntut pengakuan dari tanah Lubay yang berguncang hebat di bawah telapak kakinya. Gelombang kejut itu menggoyahkan keseimbangan batuan tempat Bara berpijak, melepaskan bongkahan-bongkahan kerikil pijar yang meluncur jatuh ke dalam danau api dengan bunyi mendesis yang nyaring.

Bara mengepalkan tangan kirinya yang dingin membeku, kendati hawa panas membakar wajahnya hingga terasa perih mengelupas. Pertarungan antara dinginnya malam kawah dan panasnya napas magma menciptakan pusaran angin beracun yang mengibarkan rambutnya yang telah beruban separuh akibat menguras tenaga batin selama menembus Rawa Dedalu. Di dalam dadanya sendiri, denyut jantung Bara berpacu tak karuan—bukan oleh rasa takut akan kematian ragawi, melainkan oleh beban rahasia yang telah menggerogoti kewarasannya sejak pertama kali ia menerima bilah keris pusaka di kuil batu Lembah Selat.

'Bara... lihat ke dasar palung itu,' bisik sebuah suara di belakangnya. Suara itu begitu tipis, rapuh, dan gemetar, nyaris sepenuhnya tersapu oleh deru angin kawah yang melolong laksana jeritan seribu arwah yang terperangkap dalam lelehan tembaga.

Bara tidak menoleh cepat. Ia menjaga poros keseimbangannya di tubir tebing yang rapuh sebelum akhirnya melirik ke samping kirinya. Puteri Varisha Zafeera berdiri beberapa depa di belakangnya, menopang tubuhnya yang limbung pada sebuah pilar batu obsidian yang telah retak melintang. Pakaian kebesaran sutra ungu berlapis benang kencana khas bangsawan Takhta Delapan yang membalut tubuh sang puteri telah terkoyak parah pada bagian dada dan keliman bawahnya. Mahkota kecil perak bertahtakan giok yang biasa menghiasi sanggul kebangsawanannya telah terlepas dan hilang di belantara racun, menyisakan rambut panjangnya yang kusut masai tergerai berantakan, basah oleh keringat dingin dan bercak abu vulkanik yang menempel di pipinya yang seputih pualam.

Namun, di kedua tangannya yang terluka dan bersimbah darah beku, Varisha mendekap sebuah kotak kayu cendana hitam berukir aksara Pasak Jagat kuno. Kotak pusaka itu bergetar hebat di dalam dekapannya, memancarkan dengungan logam yang beradu liar dengan irama jantung Sang Hyang Rengas—seolah apa pun yang terkunci rapat di dalam kotak tersebut menuntut dengan kemarahan buas untuk segera menghirup hawa belerang kawah Asam Tais.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Ratapan Takhta yang Berkarat - Retrospeksi Puteri Varisha dan Silsilah Berdarah

🌺

Pandangan mata Varisha tidak lagi memancarkan keangkuhan wangsa penguasa yang selama ini memandang rakyat jelata dan para pengelana rimba seperti Bara sebagai bidak catur yang dapat dikorbankan kapan saja. Ada kekosongan yang mengerikan di bola mata abu-abunya—sebuah kehampaan dari seorang putri mahkota yang baru saja menyaksikan seluruh fondasi moralitas istana megahnya hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri.

'Kakek buyutku... seluruh tetua Dewan Delapan Takhta... mereka selalu bersumpah di hadapan altar emas leluhur,' ujar Varisha dengan bibir yang pecah-pecah berdarah, suaranya tercekat oleh uap asam yang mengeringkan kerongkongannya. 'Sejak aku masih kanak-kanak di taman keputren, mereka menanamkan doktrin suci bahwa Sang Hyang Rengas adalah iblis perusak rimba. Raksasa lapar yang bangkit dari kedalaman kerak bumi untuk menelan ladang-ladang jagung rakyat dan membakar kota-kota peradaban Lubay. Mereka mengatakan bahwa delapan pasak tempaan para raja kuno adalah bukti cinta kasih takhta yang suci demi melindungi orang-orang lemah dari kepunahan massal. Tetapi kotak ini... relik rahasia yang kau suruh aku curi dari brankas terbawah istana... ini bukan perlindungan, Bara. Benda ini adalah rantai siksaan yang keji!'

Bara tidak langsung membalas. Pandangan matanya yang tajam tetap terarah pada raksasa kayu besi di tengah kawah, namun batinnya terseret mundur dengan keras ke masa dua belas tahun yang lalu—sebuah masa lalu yang bau anyirnya tak pernah mampu dihilangkan oleh angin gunung mana pun. Ia teringat pada malam purnama kelam ketika desanya di tepian Rawa Tais tiba-tiba diserbu oleh banjir getah hitam yang mendidih dari celah tanah. Getah itu bukan banjir lumpur biasa; getah rengas itu menyala seperti minyak bumi purba, membakar pondok jerami orang tuanya hanya dalam beberapa kedipan mata.

Di tengah kobaran api hitam itu, Bara kecil mendengar jeritan histeris ibunya yang mendorongnya ke dalam sebuah tong kayu air asin, sementara adik perempuannya yang baru berusia empat tahun lenyap ditelan lumpur asam yang menggelegak di lantai rumah. Namun kenangan paling membakar di memorinya bukanlah lahar itu sendiri, melainkan apa yang terjadi keesokan paginya: pasukan kavaleri lapis baja emas milik ayahanda Varisha berderap masuk ke abu reruntuhan desa. Mereka tidak membawa tabib, tidak membawa beras, dan tidak membawa kain kafan. Mereka membawa belati perunggu dan rantai besi, membantai setiap orang yang selamat dari letusan lumpur agar tidak ada satu pun saksi yang bisa menceritakan bahwa kawah Asam Tais sedang memuntahkan cairan pasak bumi.

'Keluargamu tidak pernah melindungi siapa pun selain tahta dan pundi-pundi emas mereka sendiri, Varisha,' kata Bara. Suaranya terdengar datar dan parau, namun di balik kedatarannya tersembunyi kepedihan yang telah mengkristal menjadi belati dendam. 'Para bangsawan membutuhkan kawah Asam Tais tetap tertekan bukan karena mereka iba pada nasib petani di kaki lembah. Mereka menekannya karena di bawah kawah inilah urat emas putih dan kristal damar abadi milik delapan wangsa ditambang. Sang Hyang Rengas tidak pernah berniat menghancurkan rimba manusia. Raksasa itu mengamuk dan meronta karena delapan pasak logam beracun yang ditancapkan leluhurmu telah menembus sumsum jiwanya selama tiga abad tanpa henti, memeras sari pati kekuatannya demi kemewahan istana marmer kalian!'

Air mata mengalir tanpa suara di pipi Varisha, membasuh jalur kelabu di kulitnya yang kotor oleh debu vulkanik. Sang puteri menundukkan wajahnya ke kotak cendana, meremas sudut-sudut kayunya yang dingin hingga buku-buku jarinya memutih. 'Dan kini mereka mengirimmu ke sini... mengirim kita berdua... untuk menancapkan pasak pamungkas itu. Pasak kesembilan yang akan menyegel jeritannya untuk selamanya agar ayahandaku bisa dinobatkan kembali tanpa cela di hadapan persekutuan para raja. Namun tahukah kau apa harga yang harus dibayar oleh jiwa pembawa pasak, Bara? Lembaran naskah kuno yang kutinggalkan di ruang rahasia istana menyebutkan kenyataan yang disembunyikan: siapa pun yang menghunjamkan bilah Pasak Jagat ke jantung sang raksasa tidak akan pernah kembali sebagai manusia merdeka. Jiwanya akan ditarik paksa menjadi getah batu, membeku abadi sebagai jangkar takhta hingga akhir zaman. Mereka tidak menjadikanmu pahlawan, Bara... mereka menjadikanmu tumbal penutup!'

Bara tersenyum pahit, sebuah seringai getir yang memperlihatkan gurat-gurat luka di sekitar rahangnya. 'Aku sudah tahu hal itu sejak pertama kali tanganku menyentuh hulu keris ini, Varisha. Perbedaannya adalah: bangsawamu mengira aku datang ke sini untuk melayani takhta mereka. Padahal aku datang ke sini untuk memastikan bahwa tidak ada lagi tumbal yang harus menangis di dasar bumi Lubay.'


˚༺☆༻


Bagian 03 : Beban Mahkota Pasak Delapan - Pergolakan Batin dan Halusinasi Dosa

🌺

Lihat selengkapnya