Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Runtuhnya Kabut Halimun Tiga Abad

"Sinar mentari pagi menembus dedaunan kanopi rimba tanpa halangan uap busuk lagi. Air danau yang dulunya hitam pekat kini bening bak kaca zamrud, menampakkan ikan-ikan purba yang berenang bebas di antara bebatuan padas."


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚



Bagian 01 : Pecahnya Selubung Tiga Ratus Tahun

Suasana: Sinar Pagi Keemasan Menyayat Dinginnya Uap Halimun

🌺

Selama tiga ratus musim peredaran bintang, udara di tapal batas Rimba Rengas tidak pernah mengenal rasa ampun. Uap halimun yang mengendap di sela-sela pokok meranti raksasa selalu memiliki bobot yang menyesakkan dada—kelabu, berminyak, dan membawa sengat bau getah busuk yang sanggup melarutkan ketajaman mata elang pemburu dalam hitungan tarikan napas. Kabut itu bukan sekadar pergeseran hawa bumi; ia adalah dinding tanpa batu yang memisahkan peradaban Asam Tais dari sisa dunia yang fana, sebuah kutukan berbalut mitos yang diwariskan dari bibir para tetua beruban hingga ke telinga anak-anak yang terlelap dalam kecemasan malam.

Namun pagi ini, sebuah keajaiban yang mengerikan meretas keheningan kanopi. Tidak ada tiupan badai barat daya. Tidak ada dentuman petir dari puncak Gunung Larangan. Yang terjadi hanyalah keretakan sunyi—seolah-olah selembar kain kafan sutra raksasa yang telah melapuk selama berabad-abad mendadak ditarik paksa oleh jemari tak kasat mata dari cakrawala timur. Sinar mentari pagi menembus dedaunan kanopi rimba tanpa halangan uap busuk lagi. Berkas-berkas cahaya keemasan itu jatuh menghujam permukaan tanah berlumpur, menyinari lumut-lumut padas yang selama tiga ratus tahun hanya pernah mengecap dinginnya kegelapan abadi.

Bara Kembara berdiri mematung di bibir padas tertinggi. Mantel kelabunya yang compang-camping oleh duri rotan berkibar pelan, diterpa angin dingin yang untuk pertama kalinya tidak lagi membawa rasa getir belerang di ujung lidahnya. Tangan kanannya, yang bertengger di hulu belati berkarat berbungkus tali rami, terasa kebas. Matanya yang cekung dan terbiasa menyipit di balik pekatnya jelaga kini dipaksa membuka lebar-lebar, silau oleh kemilau yang nyaris terasa menyakitkan bagi kornea matanya.

“Tiga abad...” bisik Bara, suaranya parau dan terperangkap di antara katupan giginya yang bergemeletuk. “Tiga abad para leluhur bersumpah bahwa kabut ini adalah kutukan dewa pemangsa. Lalu mengapa pagi ini ia luruh seperti abu yang tertiup napas bocah?”

Di dalam dadanya, denyut jantung Bara memukul iga-iganya dengan irama yang tidak beraturan. Ada rasa gentar yang jauh lebih pekat daripada saat ia dikepung oleh selusin serigala rimba di Palung Hitam sepuluh tahun lalu. Kejernihan yang mendadak ini bukan kebebasan; ia berbau seperti perangkap yang baru saja dibuka umpan lezatnya oleh pemburu yang sangat sabar.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Kaca Zamrud dan Bayangan yang Tak Berkedip

Suasana: Pantulan Danau yang Terlalu Sempurna Menampakkan Kejernihan Palsu

🌺

Langkah kaki yang tersaruk di atas reruntuhan ranting kering membuyarkan lamunan Bara. Puteri Varisha Zafeera melangkah maju hingga sejajar dengannya di tubir tebing kapur. Mahkota giok kecil di sanggulnya tampak miring, kehilangan separuh permata pengikatnya akibat pelarian panjang menembus semak duri semalam suntuk. Namun wajah bangsawannya yang pucat pasi tetap memancarkan keangkuhan purba wangsa Asam Tais—sebuah keangkuhan yang kini retak di ujung pelupuk matanya yang berlinang.

Air danau yang dulunya hitam pekat kini bening bak kaca zamrud, menampakkan ikan-ikan purba yang berenang bebas di antara bebatuan padas. Dari ketinggian tempat mereka berdiri, kedalaman danau itu tampak tembus pandang hingga ke kedalaman berpuluh-puluh depa. Lumut sutra berwarna hijau toska meliuk-liuk di dasar air yang tenang tanpa riak, dan kawanan ikan selusur perak melesat di antara celah padas purba, memperlihatkan sirip-sirip ganda mereka yang berkilau terpapar mentari fajar.

“Pemandangan ini... indah sekali, Bara,” suara Varisha bergetar, separuh tercekat oleh isak yang ia tahan sekuat tenaga di pangkal tenggorokan. “Ayahanda selalu bertutur dalam dongeng tidurnya, bahwa jika kabut rengas sirna dan Danau Asam Tais kembali jernih, maka para dewa telah mengampuni dosa darah nenek moyang kita. Tahta kita akan kembali bersinar tanpa perlu menundukkan kepala kepada malam.”

Bara menoleh perlahan ke arah sang puteri. Matanya menatap lekat pada jemari lentik Varisha yang bergetar hebat saat meremas ujung kain sutra keemasannya yang kotor terkena jelaga tanah. Bara mengenal getaran itu; itu bukan getaran rasa takjub seorang penyair, melainkan getaran ketakutan hewani dari seseorang yang baru saja menyadari bahwa tanah yang dipijaknya rapuh berongga.

“Puteri,” tukas Bara dengan nada dingin yang menusuk, “jangan biarkan matamu menipu akal sehatmu. Lihatlah lebih cermat ke arah kawanan ikan selusur itu. Apakah kau melihat satu saja riak air yang bergerak melawan arah pusaran dasar? Tidakkah kau perhatikan ke mana kepala mereka menghadap?”

Varisha terdiam membeku. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menembus fatamorgana cahaya fajar yang menyilaukan. Matanya menelusuri lintasan ikan-ikan purba berbadan perak tersebut. Bara benar. Ikan-ikan itu tidak sedang berenang dengan damai menikmati kejernihan zamrud. Mereka bergerak panik, meliuk kaku dengan sirip yang bergetar cepat, semuanya berenang menjauhi pesisir dan menukik tajam ke arah palung terdalam di tengah danau—seolah-olah permukaan danau yang hangat oleh sinar mentari adalah wajan membara yang sanggup membakar sisik mereka hidup-hidup.


˚༺☆༻


Bagian 03 : Bisikan Walida Nissa dan Bejana Penjara Darah

Suasana: Aroma Karat Tembaga dan Bayang-Bayang Sumpah Puluhan Tahun Silam

🌺

Lihat selengkapnya