Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Fajar Harmoni Dua Alam & Takhta Abadi

“Lonceng tembaga Jiwa Baru berdentang bersahut-sahutan dengan riak gemericik Danau Asam Tais. Di hadapan ribuan rakyat jelata dan para tetua adat, Bara mengangkat Keris Pasak Jagat tinggi-tinggi. "Bukan takhta kekuasaan yang kita tegakkan hari ini, melainkan pasak persaudaraan yang takkan pernah runtuh oleh badai zaman!" Fajar menyingsing di atas Rimba Rengas, membawa masa depan nan gilang gemilang.”


*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚



Bagian 01 : Gerimis Belerang di Bibir Kawah Asam Tais

Lokasi: Bibir Kawah Danau Asam Tais & Tangga Lumut Purba

🌺

Kelabu fajar belum sepenuhnya menyapu pekat malam ketika butir-butir abu kawah mulai turun menyerupai gerimis sunyi di atas punggungan Asam Tais. Debu vulkanik itu hangat, membawa aroma tajam belerang bakar dan getah damar purba yang telah membusuk berabad-abad di dasar danau toska. Setiap serpihan kelabu yang mendarat di bahu jubah tenun Bara Kembara terasa seperti timbal yang menindih dagingnya—bukan karena berat fisiknya, melainkan karena setiap butir debu itu menyimpan ratapan masa silam yang tak pernah diampuni oleh tanah Lubay.

Di bawah telapak kakinya yang beralaskan sandal kulit mentah, undakan batu kali berlumut hitam bergetar halus. Getaran itu ritmis, mirip detak jantung raksasa yang terperangkap dalam kungkungan magma dingin. Danau Asam Tais terbentang di hadapannya seperti cermin kaca pualam beracun; permukaan airnya yang berwarna hijau toska menyala memantulkan langit kelam yang robek oleh semburat jingga tembaga. Uap belerang putih mengepul lambat, membentuk sulur-sulur tak kasat mata yang menjilat dinding tebing kapur dan merayap ke arah Balai Agung Jiwa Baru di kejauhan.

"Kau masih ragu melangkah, Bara?" Suara itu datang mendahului langkah gemersik sutra di atas kerikil kawah. Puteri Varisha Zafeera berdiri dua jengkal di sampingnya, jubah kerajaannya yang bersulam benang emas murni tampak kontras dan getir di tengah kotornya abu vulkanik yang menaburi pundaknya. Ujung kain kebesarannya telah kelabu kusam, namun dagunya tetap terangkat dengan keangkuhan yang rapuh—keangkuhan yang Bara tahu hanyalah perisai tipis untuk menyembunyikan jemarinya yang gemetar di balik lipatan lengan baju selongsong.

Bara tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada pusaran riak di tengah danau, tempat di mana gelembung udara sebesar kepala manusia pecah dengan suara mendesis tajam. "Ragu adalah satu-satunya kewarasan yang tersisa di tempat terkutuk ini, Varisha. Yang kita dengar di bawah sana bukanlah nyanyian restu bumi, melainkan erangan sesuatu yang dirantai paksa. Dan kau memintaku untuk menancapkan pasak baru di atas lukanya."

"Bukan aku yang meminta, tetapi sejarah yang menuntutnya!" bisik Varisha, suaranya tercekat oleh bau belerang yang menusuk rongga dadanya. Ada kilatan rasa bersalah yang melintas di bola matanya yang cokelat gelap—kilatan yang mengingatkan Bara pada malam tujuh tahun silam, malam ketika api kawah menyembur setinggi pucuk pohon meranti dan membakar hangus harapan masa kecil mereka berdua. "Jika hari ini Pasak Jagat tidak ditegakkan kembali, danau ini akan meluap menenggelamkan tujuh lembah. Kau tahu persis berapa nyawa perempuan dan anak-anak yang kini bersujud di lapangan bawah sana, menggantungkan napas mereka pada genggaman tanganmu!"

Bara menarik napas panjang. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa panas, menggores tenggorokannya dengan kepedihan yang akrab. Retrospeksi pahit menghantam benaknya: bayangan adiknya yang ditarik paksa ke dalam bilik rahasia altar oleh para tetua terdahulu, dijadikan tumbal fana dengan dalih 'menenangkan gempa'. Saat itu Bara masih terlalu lemah, hanya mampu mencakar pintu kayu ulin yang terkunci hingga kuku-kukunya patah berdarah. Dan kini, takdir membawanya kembali ke altar yang sama, bukan lagi sebagai anak yatim yang meratap, melainkan sebagai algojo bertopeng pahlawan yang disanjung ribuan orang.


˚༺☆༻


Bagian 02 : Balai Agung Jiwa Baru dan Kemegahan Kayu Ulin

Lokasi: Pelataran Balai Agung Jiwa Baru

🌺

Mereka melangkah menuruni jalan setapak batu menuju Balai Agung Jiwa Baru, mahakarya arsitektur kayu ulin hitam yang berdiri tegak menantang tepi jurang kawah. Bangunan raksasa bertingkat tiga itu menyerupai kapal purba yang terdampar di antara puncak-puncak pohon rengas. Ratusan obor berbahan minyak damar menyala di setiap pilar berukir sulur dan naga bumi, menebarkan cahaya temaram keemasan yang beradu liar dengan gerimis abu kelabu.

Di gerbang pelataran, Panglima Fauzan Fardhan berdiri dengan dada membusung kaku dalam zirah lempeng besi tempa. Satu tangannya yang bertulang kasar tak pernah lepas dari hulu pedang berpamornya. Guratan luka parut panjang yang melintang dari pelipis hingga rahang bawahnya berkedut setiap kali angin kawah berhembus kencang. Baginya, upacara ini bukan perayaan perdamaian, melainkan manuver militer paling berisiko dalam hidupnya. Setiap prajurit di benteng telah disiagakan dengan busur terentang, disamarkan di balik kisi-kisi kayu balai agung.

"Pasukan perambah hutan mulai merangsek mendekati pagar perbatasan barat, Konsul," geram Fauzan rendah ke arah Fajri Nadhir yang berdiri di sampingnya sambil mengusap liontin emas berbentuk timbangan. "Mereka mencium aroma kelemahan. Jika Bara menolak menundukkan rimba di bawah hukum benteng, pedangku yang akan memastikannya bertekuk lutut."

Fajri Nadhir tersenyum tipis—senyuman seorang pedagang politik yang telah menghitung setiap keping emas dari darah yang belum sempat tumpah. "Tenangkan darah mudamu, Panglima. Hari ini kita tidak butuh pedang, kita butuh legitimasi keris itu. Rakyat butuh dongeng tentang persaudaraan dua alam agar mereka bersedia kembali mencangkul dan memotong kayu rengas untuk perbendaharaan istana. Biarkan pemuda dungu itu mengangkat pusakanya tinggi-tinggi. Selama segel kawah terkendali, harga belerang di pasar pesisir akan naik tiga kali lipat. Itu saja yang penting."

"Kalian bicara tentang keuntungan di atas ranjang kematian kalian sendiri," desis suara dingin dari bayang-bayang akar gantung di atas kepala mereka. Walida Nissa turun melayang tanpa suara layaknya daun kering yang lepas dari tangkainya. Gadis rimba itu hanya mengenakan lilitan kulit kayu terap dan kalung taring macan dahan. Kulitnya yang penuh goresan duri hutan tampak berkilau oleh embun dan abu. Matanya yang berwarna hijau lumut menatap Fauzan dan Fajri dengan kebencian murni yang tak ditutupi.

"Akar-akar tunjang pohon rengas telah menembus fondasi balai agung ini hingga kedalaman seratus depa," Walida berbisik, jemari lentiknya menunjuk retakan halus di lantai batu balai. "Rimba sedang mendengarkan setiap dusta yang keluar dari lidah kalian yang bercabang. Jika Bara menumpahkan racun kepalsuan di atas Altar Asam Tais hari ini, bumi di bawah kaki kalian tidak akan sekadar terbelah—ia akan mengunyah seluruh kota benteng ini hingga tak bersisa satu tiang pun."


˚༺☆༻


Lihat selengkapnya