Halo, namaku Princess Cindy. Panggil saja aku Cindy. Mama bilang, aku diberi nama Princess agar kehidupanku bagaikan seorang putri. Sejak usia empat tahun, aku memang amat sangat menyukai Cinderella. Aku selalu ingin dibelikan gaun yang seperti Cinderella, sepatu yang berbentuk seperti sepatu kaca, memanjangkan rambut, dan aku selalu meyakini bahwa aku memiliki seorang pangeran bernama Putra. Aku sangat meyakini bahwa Putra benar-benar ada di dunia ini, dan selalu berusaha untuk menemukannya, padahal aku tidak pernah tahu seperti apa rupanya.
Sedikit cerita tentang latar belakang keluargaku; Mama dan Papaku bercerai semenjak aku bayi karena Papaku menikahi perempuan lain. Mama tidak bisa menerima itu, dan aku memaklumi perasaannya. Sebelum pergi, Papa memberi sebuah rumah yang akhirnya dikontrakkan untuk membiayaiku.
Setelah sekian lama Mama membesarkan aku seorang diri, tibalah waktunya pada saat usiaku sembilan tahun, Mama menikah lagi dengan seorang laki-laki yang beliau kenal melalui temannya. Awal pertemuan, beliau sangat baik padaku, tapi ketika pernikahan itu terjadi, disitulah kisahku menjadi seorang Cinderella benar-benar terjadi menjadi nyata.
Aku memiliki dua orang saudara tiri perempuan. Awalnya mereka terlihat baik, tapi semakin lama semakin terlihat mereka seperti ingin menyingkirkanku. Mungkin mereka merasa takut aku menggeser posisi mereka yang selalu disayang. Bahkan mereka memanggilku "makhluk jadi-jadian". Mereka bilang aku manusia aneh dan jelek.
Semenjak tinggal bersama ayah tiri, setiap ada rekannya yang datang, aku selalu dilarang keluar kamar oleh Mama. Pernah aku tetap bersikeras muncul di hadapan mereka, saat mereka bertanya, "Anak itu siapa?" Mama menatapku dan berkata, "Dia adikku sedang ikut tinggal di sini."
Betapa hancur hatiku. Jadi ini yang selalu menjadi alasan mengapa aku tak pernah diizinkan keluar kamar bila ada rekan ayah tiriku. Aku selalu ditinggalkan di rumah sendirian, bahkan terkadang hingga tengah malam. Mama akan meminta anak tetangga menemaniku di rumah, tapi anak tetangga itu tak sebaik yang Mama kira. Setiap Mama pergi, mereka selalu mengunciku di kamar dan bermain-main dengan komputer ayah tiriku yang isinya banyak video yang sering mereka tonton, entah apa.
Saat sendirian, aku selalu bermain dengan teman imajinasi yang aku ciptakan sejak usia empat tahun yang kuberi nama "Putra", pangeran impianku si Cinderella.
"Putra, nanti bawa aku pergi dari sini ya, di sini gak ada yang sayang sama aku, nanti kamu temenin aku terus ya, aku juga janji bakal nemenin kamu, jagain kamu," ucapku berbincang seolah Putra ada di hadapanku.
"Iya Cindy, aku juga bakal jagain kamu, nanti kita main air ya, kita sama-sama terus." Aku mengimajinasikan dia menjawabku dan mengajakku pergi ke curug, meskipun sewaktu kecil aku belum tahu bahwa nama tempat itu adalah curug.
Aku selalu berbincang sendiri seolah dia benar-benar ada. Aku merasa dia benar-benar selalu ada menemaniku setiap aku kesepian hingga aku selalu menuliskannya di buku. Aku selalu yakin kelak aku benar-benar akan bertemu dengannya, walaupun aku tahu dia hanyalah teman yang aku ciptakan sendiri. Tapi hati kecilku seolah yakin bahwa dia benar-benar ada di dunia ini.
Setelah satu tahun tinggal bersama ayah tiri, akhirnya aku punya tiga orang sahabat di sekolah bernama Rina, Rani, dan Ara. Dua di antaranya adalah anak kembar. Teman-teman di sekolah selalu merendahkan si kembar dan membully mereka. Aku tidak terima karena tahu bagaimana pahitnya dibully dan dikunci di kamar oleh anak-anak dari tetanggaku. Aku hantam semua anak yang membully mereka. Alhasil, kami dikucilkan. Mereka selalu seperti jijik bila bertemu dengan kami dan langsung menjauh, hingga aku dan Rani selalu kabur dari sekolah saat jam istirahat karena kami tidak tahan diperlakukan begitu.
Di suatu pagi hari libur sekolah, saat sedang bermain dengan si kembar, aku sedang menulis sebuah cerita dalam buku besar. Aku juga membawa buku kumpulan puisiku karena sejak kecil aku memang sudah sangat suka menulis, walaupun karyaku masih belum bagus.
"Wah, bagus Cin puisinya, buat aku boleh gak? Aku sobek yang paling aku suka," Rani membaca beberapa puisi buatanku.
"Boleh Ran, pilih aja yang kamu suka, aku seneng kalau ada yang suka karya tulisku," jawabku sambil masih terus menulis karangan cerita.
"Cindy, Putra itu siapa sih?" Rani menemukan salah satu puisi yang aku tulis untuk Putra.
"Itu nama pangeranku, aku yakin dia ada di suatu tempat dan menungguku," jawabku sambil tersenyum menatap langit.
"Pangeran? Kamu kenal darimana memangnya?" tanya Rani mengernyitkan dahi.
"Dari Tuhan, Tuhan menciptakannya untuk membawaku pergi suatu saat nanti."
Entah kenapa, walaupun ceritaku tak masuk akal, tapi Rani tak pernah mengejekku dan mengiyakan saja setiap ceritaku. Aku berlari menelusuri sawah yang luas diikuti oleh si kembar, walaupun sebenarnya mereka tidak tahu tujuanku ke mana.
"Cin, kamu mau ke mana sih? Cape loh, kita lari-lari udah sejauh ini," tanya Rani dengan napas terengah-engah.
"Aku mau cari Putra, aku ada bayangan kalau dia ada di suatu tempat yang banyak pohonnya, terus ada airnya juga."
"Putra? Pangeran kamu itu? Oh iya, aku tahu tempat yang persis kaya kamu ceritain barusan, ada di dalam hutan di sana, aku pernah diceritain sama nenekku soalnya, ayo kita carinya ke arah sana aja," Rani menggenggam tanganku menuju ke arah yang dia maksud.
"Pangeran apa sih? Kalian ngomongin apa? Aku gak mau ke sana ah, banyak laba-laba tahu!" tanya Rina yang dari awal memang belum tahu cerita tentang Putra.