Hari demi hari berganti, tak terasa aku sekarang sudah memasuki kelas 6 SD. Awalnya semua berjalan seperti biasa, di rumah penuh drama dan di sekolah dibully. Sampai akhirnya ada seorang murid baru laki-laki di sekolah, tepatnya bulan Desember tahun 2007. Dia sangat populer, banyak anak perempuan menyukainya, begitu pula sahabatku Rani. Ya memang dia tampan, putih, tinggi, dan katanya dia anak orang berada.
Awalnya aku tidak menghiraukan anak baru itu, sampai akhirnya di suatu hari saat jam istirahat, di saat aku diejek anak laki-laki yang bernama Kevin seperti biasanya.
"Dasar cewek jelek! Rambut dipanjangin kaya kuntilanak," ejek Kevin sambil mendorongku.
"Kalau berani jangan sama anak perempuan."
Terdengar suara yang agak asing untukku. Aku hanya melihat punggungnya dari belakang, karena dia sedang mendorong balik si Kevin.
"Siapa lu? Anak baru songong amat!" jawab Kevin.
"Lu tuh banci beraninya sama perempuan."
Dia berjalan maju hingga Kevin terdorong jatuh, dan akhirnya menangis berlari ke dalam kelasnya. Aku hanya terdiam agak kaget, karena sebelumnya tidak pernah ada yang membelaku. Hingga akhirnya setelah Kevin pergi, anak laki-laki itu berbalik, dan aku tahu bahwa itu adalah anak baru yang menjadi incaran semua perempuan. Dia hanya melirik ke arahku lalu langsung pergi begitu saja ke kelasnya. Kami memang sama-sama kelas 6, tapi dia berada di kelas yang berbeda.
Semenjak hari itu, perhatianku mulai tertuju pada anak baru itu. Begitu pula anak-anak lainnya, baik anak laki-laki maupun perempuan selalu mengelilingi dia. Dan kali ini di jam istirahat, aku berkumpul di taman sekolah dengan sahabat-sahabatku, tidak lagi pergi ke sawah, karena Rani pun lebih bersemangat ada di sekolah untuk sekadar memperhatikan anak baru itu.
"Lucu banget deh dia gemesin, sudah gitu baik lagi kemarin dia belain kamu pas dikatain Kevin," ucap Rani padaku.
"Emang namanya siapa sih?" Jujur waktu itu aku memang belum tahu namanya karena awalnya memang tak peduli.
"Namanya Davin Saputra," jawab Rani sambil tersenyum.
"Apa jangan-jangan dia pangeran impianku ya?" Aku menoleh lagi ke arah Davin yang dikerumuni banyak teman-teman.
"Kamu suka sama dia?" tanya Rani mengernyitkan dahi.
"Dia disukai banyak perempuan di sekolah kita, baik, bener-bener kaya pangeran, apa dia orangnya ya?" Aku mulai tersenyum penuh harap.
"Cie cie Cindy suka ya sama Davin?" Ara menyenggol pundakku dengan pundaknya.
"Jangan kencang-kencang dong Ra, nanti teman-teman di kelas dengar." Aku memelototi Ara dengan wajah memerah.
"Cindy suka Davin, Cindy suka Davin!" Ara terus berbicara dengan suara kencang sambil berlari ke kelas. Dan aku pun berlari mengejarnya berusaha untuk menutup mulutnya.
"Apa? Cindy suka Davin? Si anak baru itu? Baru kali ini aku denger Cindy suka sama cowok," Hana menghampiriku yang sudah berada di dalam kelas sambil menutup mulut Ara.
"Itu Davin-nya lewat tuh! Davin, ini si Cindy suka kamu!" teriak Disti keluar kelas sambil telunjuknya mengarah padaku.
Aku pikir Davin pasti akan marah karena mendengar anak yang dibully satu sekolah ini menyukainya, tapi ternyata dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Sungguh di luar dugaan dan membuatku mulai benar-benar menyukainya.
Semenjak itu, aku menjalani hari di sekolah dengan bahagia. Entah kenapa semua anak perempuan sekarang selalu menemaniku, tapi masih bersikap sama pada Rani. Aku sudah tidak pernah kabur dari sekolah dan malah selalu berangkat pagi dengan semangat, begitu pula Rani, karena dia juga menyukai Davin dan selalu memperhatikannya.
Saat jam istirahat aku sedang membeli sosis goreng sendirian karena teman-temanku yang lain membeli makanan berbeda. Tiba-tiba Davin dan teman-temannya datang dan membeli jajanan yang sama.
"Davin, mendingan sama si Amanda tuh cantik, langsing, si Cindy mah anak bego, kerjaannya aja kabur dari sekolah," ucap Gani sambil melirik ke arahku. Sungguh dia sengaja ingin aku mendengarnya.
"Ya sudah kalo menurut lu dia cantik, lu saja sana sama dia," jawab Davin dengan ketus.
Aku pun pergi karena sudah mendapat jajananku, dengan jantung yang berdegup kencang setelah mendengar jawaban Davin. Aku menghampiri teman-temanku yang sudah duduk bersama di taman sekolah.
"Temen-temen, ini jantung aku kenapa ya? Dag dig dug nggak jelas seperti habis melihat setan," ucapku terus memegangi dada.
"Apa sih si Cindy kebiasaan lebaynya kambuh," Ara melirik ke arahku.
"Iya nih, tadi abis jajan bareng Davin ya?" timpal Rani.
"Idih si Rani merhatiin aja, cemburu ya? Rebutan Davin nih, gak ikutan ah," Ara tertawa mengejek.