Januari, Tahun 2010
Tak terasa aku sudah menduduki bangku SMP. Mama baru saja melahirkan adik laki-lakiku yang diberi nama Anugerah. Ayah tiriku sangat menyayanginya dan selalu membelikan barang mahal hingga kakak-kakak tirinya cemburu. Aku sendiri merasa biasa saja, karena ada ataupun tidaknya adikku, aku tetaplah gadis yang terabaikan.
Di saat ini, aku masih dihantui bayang-bayang Davin. Seandainya aku bersamanya, mungkin hidupku bisa lebih berwarna dan tidak sehancur ini. Aku mulai membuat akun Facebook dan mencari akun Davin, hingga akhirnya menemukannya dan mengirim undangan pertemanan. Aku masih berharap bisa ada kesempatan kedua untuk bersamanya, walaupun sebatas teman dekat.
Ternyata Davin menerima permintaan pertemananku. Aku sangat bahagia dan kembali menjalani hari dengan bersemangat, sampai akhirnya aku melihat dia mengunggah foto bersama seorang perempuan. Sangat jelas di bagian caption-nya bahwa itu adalah kekasih pertamanya. Namanya Dina, dia sangat cantik dan modis, berbanding terbalik denganku yang culun ini.
Aku mulai banyak mengunggah foto di Facebook, tapi hanya bagian wajah saja karena badanku mulai menggemuk dan aku tidak percaya diri untuk menunjukkan seluruh tubuh. Aku selalu memberi komentar di unggahan Davin untuk memberinya semangat, bahkan mendukung hubungannya dengan pacar barunya. Dia selalu merespons dengan baik, bahkan pacarnya selalu ikut dalam perbincangan kami sampai kawan-kawannya menggoda, "Cie, istri pertama sama istri kedua akur."
Lalu di suatu sore, aku menulis status: "Hidupku terlalu sedih untuk dijalani, ingin rasanya pergi saja."
Tak disangka, Davin mengirimiku pesan setelah melihat status itu.
"Kamu kenapa?" tanya Davin.
"Aku sedih, kayaknya orangtuaku enggak mengharapkan aku lahir. Di rumah pun aku selalu sendirian, kesepian rasanya," jawabku jujur.
"Semangat ya, aku juga pernah berpikiran begitu," balas Davin. "Aku jarang banget bisa kumpul sama Mama-Papa, mereka selalu sibuk dengan dunianya. Bahkan makan pun aku ditemani bibi yang suka bantu beresin rumah. Punya kakak perempuan ngajak ribut terus, nyebelin pokoknya."
Aku tersenyum membacanya. "Haha, masa sih? Aku pikir kamu dekat banget sama ibu kamu, aku lihat di sekolah kamu peluk terus ibu kamu."
"Iya, setiap ada kesempatan sama Mama, aku pasti maunya nempel terus, sampai dikatain anak mami waktu itu," jawabnya lagi.
"Aku enggak pernah berpikir kamu anak mami. Semangat juga ya! Kamu orang baik, mudah-mudahan kamu bahagia sama Dina," tulisku sebagai penutup.
"Iya amin, makasih ya. Jangan putus asa lagi, kamu enggak sendiri kok!"
Aku sungguh-sungguh bahagia Davin masih menanggapiku, walaupun aku tahu di sana dia sudah punya perempuan spesial. Hingga akhirnya Dina, kekasihnya, mengirim pesan padaku.
"Hai, aku Dina pacarnya Davin," tulisnya.