Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #4

#4 Masa masa SMA

Saat libur sekolah menjelang masuk SMK, aku menghabiskan waktuku hanya di rumah. Di suatu sore aku menyempatkan diri untuk membaca al-qur'an.

"Berisik!" Papa tiriku berteriak dari ruang keluarga yang berada di depan kamarku. Dan langsung menyalakan musik dangdut menggunakan speaker active dengan volume full.

"Ya allah, ledakanlah Speaker nya." Aku mulai terpancing emosi dan berdoa dalam hati.

"Duaaarrr!!!" Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Tak aku sangka speaker miliknya benar-benar meledak.

Mama : "Kenapa mas?"

Papa tiri : "Gak tau ini tiba-tiba meledak, padahal dari kemarin gak kenapa-kenapa."

Mama : "Koslet mungkin, kekencengan volume nya."

Papa tiri : "Gak nyambung ah. Ambilin aku minum!"

Mama : "Air galon nya habis mas."

Papa tiri : "Cepat banget sih habisnya, anak kamu tuh pelakunya! Tiap subuh aku lihat dia wudhu pakai air galon."

Mama : "Mustahil dong! Kamu fikir anakku gak normal? ada wc kok, ngapain wudhu dari dispenser."

Papa tiri : "Memang dia gak normal, setiap aku tanya gak pernah jawab, cuma manggut, geleng, sama nunjuk, kaya orang gagu, idiot!"

Mama : "Itu karena dia trauma sama kamu! Cindy kesini!" Aku pun langsung menghampiri mama.

Aku : "Kenapa ma?"

Mama : "Katanya kamu suka wudhu dari dispenser, bener?"

Aku : "Astagfirullah, enggak ma, untuk apa? kan ada wc."

Mama : "Tuh denger kan anakku ngomong?"

Papa tiri : "Alah mana ada maling ngaku!"

Aku : "Astagfirullah, demi allah enggak." Aku mulai meneteskan air mata

Papa tiri : "Alah so suci kamu! Gak usah demi allah, sumpah pocong ayo! Jadi pocong kamu kalau bohong, anak setan!"

Aku : "Sumpah apapun aku berani, aku gak bersalah. Kalau aku wudhu dari dispenser harusnya lantai banjir dong." Air mataku semakin deras menetes.

Mama : "Kamu mabok ya? omongan kamu tuh ngawur mas!" Papa tiriku tak menghiraukan kami dan langsung pergi ke kamar. Aku pun berlari ke kamarku dan duduk diatas kasur.

"Aku ingin mati, aku gak sanggup lagi ya allah, segala apapun yang terjadi di rumah ini, selalu aku disalahkan."

"Bertahan ya Cindy, rajinlah belajar supaya cepat lulus! Nanti kamu pergi ke jakarta." Aku menjawab ucapanku sendiri, seolah itu adalah Putra yang berada di hadapanku.

"Putra, seandainya kamu benar-benar ada, bawa aku pergi! Aku enggak mau disini lagi." Aku mengulurkan tangan kananku ke depan, seolah aku sedang menggenggam tangan seseorang. Putra aku sungguh berharap kamu ada di dunia ini.

Juni, 2011

Waktu terasa berjalan begitu cepat, kini aku sudah memasuki SMA, aku bersekolah di tempat yang sama dengan Rani, sahabat sejati yang selalu menemani semenjak SD. Tapi saudara kembarnya Rina bersekolah di tempat berbeda karena sekolah kami terlalu jauh dari rumah, dan Rina sangat mudah kelelahan jadi dia bersekolah di tempat yang tak jauh dari rumah. Sementara Ara masuk ke sekolah unggulan di kota kami karena prestasinya. Kemanapun aku dan Ranu selalu berdua, hingga akhirnya beberapa teman di kelas menegur kami

"Kalian kenapa sih gak pernah gabung sama kita? berduaan terus, gabung dong!" Meira tiba-tiba menghampiriku yang sedang berbincang berdua dengan Rani.

"Memangnya kenapa? kita sudah biasa kok dari SD selalu berdua, kita juga bingung harus mulai darimana untuk gabung dengan kalian." aku menatap Meira keheranan.

"Ya sudah ayo gabung gak usah bingung lagi kan ini gue udah ngajakin kalian."

Teman-teman yang lain pun ikut menghampiri kami. Sementara Meira pergi kembali ke bangkunya.

"Iya, kamu tuh anak pinter loh padahal Cindy, ajarin kita yok!" Sheina menarik kursinya dan duduk disampingku.

"Iya gak usah malu, kita semua teman disini." Rima menatapku tajam dengan pandangan sinisnya, bukan karena dia orang jahat, tapi memang raut wajahnya selalu seperti antagonis, padahal sebenarnya dia orang yang sangat baik.

"Iya ih, aku juga pengen temenan sama kalian, aku gabung boleh ya, kita bikin geng yuk!" timpal Sitha yang baru berjalan dari kejauhan.

"Hah geng?" aku terheran karena aku tak pernah punya geng sebelumnya, dan temanku dari dulu ya hanya Ara dan Rani.

"Iya, rambut kita kan pada panjang nih, kita namain geng SARAP." Sitha tersenyum dengan wajah konyolnya.

"Heh lu aja ya yang sarap, gue normal ogah banget ikutan." Rima melirik sinis kearah Sitha dengan nada bicara ketus.

"Ih itu singkatan tau, Satuan Rapuncel haha, kan rambut kita panjang." jawab Sitha dengan tawa konyolnya, dia memang yang paling humoris diantara yang lain, selalu saja ada tingkah konyolnya.

"Ok boleh, seru tuh kayaknya." Aku mengangguk mengiyakan tawaran Sitha.

"Tuh kan mau dia, ok girls mulai hari ini, Sitha, Rima, Sheina, sama Cindy jadi geng SARAP, haha." Sitha kembali dengan tawa konyolnya.

"Elu tuh SARAP! PE'A." Sheina mengusap wajah Sitha lalu kembali ke bangkunya. Semua kembali duduk di kursinya masing-masing, karena bel sudah berbunyi, dan guru yang mengajar sudah berjalan ke arah kelas.

Hari itu, aula sekolah dipenuhi siswa kelas sepuluh yang sedang mengikuti pelantikan OSIS. Semua diminta berbaring di lantai, memejamkan mata, mendengarkan suara kakak-kakak kelas yang memandu acara perenungan.

"Bayangkan kau berada di tempat yang paling tenang, dikelilingi keluarga yang kau cintai. Kau merasa aman, hangat, lengkap." Suara itu perlahan berubah getir. "Lalu… satu per satu mereka pergi. Hilang. Tak ada lagi yang tersisa."

Musik sendu mengalun, isak tangis mulai terdengar dari berbagai sudut. Rani, sahabatku, menangis tersedu-sedu. Ia yatim sejak bayi, ibunya bekerja jauh di Arab Saudi demi menghidupi keluarga. Satu per satu kakak kelas menghampiri para siswi, memeluk mereka termasuk Rani, mengusap punggung, memberi kata-kata penghiburan.

Namun aku tetap duduk sendiri di tempatku, menahan air mata yang semakin memenuhi mata. Tak ada pelukan yang datang. Tak ada tangan yang meraih. Aku menangis dalam diam, memeluk diriku sendiri di tengah kerumunan yang saling menguatkan. Saat itu aku sadar, ada bagian dalam diriku yang telah retak sejak lama, dan retakan itu kembali terbuka.

Acara perenungan berakhir, tapi rasa sesak itu tak pergi. Kakak-kakak kelas membagikan mie instan. Aku hanya mengaduk-aduk mie itu tanpa selera. Amalia, salah satu kakak kelas, melirikku. "Kenapa gak dimakan? Maunya sama daging? Dasar anak manja."

Ucapannya seperti paku yang menghujam. Beberapa teman mulai berbisik, menganggapku penyebab gosip tak sedap yang menyasar kelas kami. Sejak hari itu, jarak pun tumbuh.

Hari ini aku menginap di rumah papa, disana ada ketiga kakak ku. kak Andre, kak Wijaya, dan kak Reza.

Aku : "Besok aku berangkat sekolah sama siapa?"

Kak Wijaya: "Kaka yang antar ya nanti pakai motor."

Kak Andre : "Berrrangkat, bukan belangkat! Udah gede masih cadel huuu." Kak Andre melempariku bantal.

Aku : "Iiih nyebelin dasar pesek!" Aku melempar balik bantal padanya. Kami saling memukuli dengan bantal sambil tertawa bersama.

Keesokan harinya, aku sekolah diantar kak Wijaya. Semua teman-teman perempuan menatapku, dan langsung menghampiriku saat aku sampai di lorong sekolah.

Meira : "Cin, itu pacar lu?"

Aku : "Enggak, itu kaka aku namanya kak Wijaya."

Meira : "Aaaaargh ganteng banget kaya orang korea, kenapa gak bilang sih punya kaka ganteng? kenalin dong ke gue."

Sheina : "Ke gue aja Cin!"

Aku : "Lah kalian suka sama kakak ku?"

Meira : "Iya lah ganteng begitu, salamin ya, pepet nih sampe dapet, awas lo Sheina saingan lo itu gue!"

Aku : "Ya sudah nanti aku salamin ya, dekatin aja sendiri, nanti aku kasih fb nya. Aku juga baru ketemu dia pas kelas 1 SMP, gak terlalu begitu dekat, tapi dia baik banget sama aku." Kami pun berjalan bersama memasuki ruangan kelas.

Saat pulang sekolah tiba, Meira menahanku untuk tidak langsung pulang dan diam dulu di kelas.

"Cindy, Rani, jangan dulu pulang aku mau ngomong!" Meira menarik tanganku yang sudah berada di pintu kelas.

Semua kawan-kawan duduk merapat dekat ke meja guru, sementara Meira duduk di kursi guru.

Meira : "Kita keluarin unek-unek masing-masing ya biar kita sama-sama ada perubahan positive disini. Mulai dari gue ya, gue gak suka sama Cindy."

Aku : "Loh, aku salah apa?"

Meira : "Lu tuh cantik Cindy, tapi dandanannya acak-acakan, menurut gue bahkan cantikan lu daripada Rahma, dia cuma menang kulit putih doang, dandan dong Cindy! Beuh pasti populer lu di sekolah ini."

Sheina : "gue juga kesel sama Cindy, selalu berduaan sama Rani terus, berbaur dong sama kita!"

Cika : "Iya, aku juga gak suka sama Cindy, dia tuh sifatnya kekanak-kanakan."

Meira : "Ran, lu unek-uneknya ke siapa?"

Rani : "Aku gak ada unek-unek ke siapapun, kalian semua baik kok!"

Meira : "Sudah ngomong aja, ke Cindy?"

Rani : "Enggak, dia sahabat baikku."

Meira : "Alah jangan gak enakan gitu."

Aku : "Ini kok ke aku semua sih? Jadi aku disudutin gini?"

Meira : "Ya sadar diri, berarti emang lu bermasalah! Coba nurut, rubah penampilan, pake make up! kalau kita ajak kumpul tuh ikut!"

Aku : "Aku tuh bisa sekolah aja udah syukur, kalau kalian ajak kumpul bukan aku gak mau, ya uang jajanku terbatas. Aku gak bisa ngimbangin kalian yang royal jajannya."

Meira : "Alah lebay, orang mama lu juga suka dandan kok! Masa gak mampu beliin anaknya eyeliner doang."

Aku : "Aku gak mau bebani orangtua ku, udah disekolahin aja udah syukur banget kok."

Cantika : "Gara-gara tingkah kamu pas pelantikan osis, semua kakak kelas ngomongin kelas kita."

Aku : "Ada yang kalian gak tahu."

"Makanya kalau ada masalah, cerita aja," kata Marsia seolah memberiku ruang. Aku menarik napas, mencoba membuka hatiku. "Orang tuaku berpisah sejak bayi."

"Alah lebay," potong Rahma, cepat dan dingin. "Aku juga broken home sejak kecil, tapi gak selebay kamu."

Lihat selengkapnya