Minggu pagi itu, jantungku berulah lagi. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang berusaha merenggutnya paksa keluar dari rongga dada. Debarannya begitu kencang, menyakitkan, sekaligus menakutkan. Aku menatap cermin dengan nanar; wajah bangun tidurku kacau, kantung mataku menebal karena absen tidur berhari-hari.
"Apa aku kena sakit jantung?" gumamku, lalu cepat-cepat menepis pikiran buruk itu. Tapi jujur, aku malu jika "dia" melihatku sekuyu ini. Semangat untuk melakukan ruqyah pun makin memuncak. Aku harus sembuh.
Di angkot menuju tempat ustad, Rani memperhatikanku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ran, jujur saja. Di matamu, aku sudah gila, ya?" tanyaku memecah kesunyian.
Rani menghela napas. "Aneh, sih. Tiba-tiba minta maaf ke semua orang, terus sekarang minta ruqyah. Tapi..." ia menggantung kalimatnya. "Semenjak kamu cerita mimpi ketemu Putra, aura kamu beda jauh. Kamu kelihatan bahagia banget. Beda waktu Kak Ali dipenjara dulu; kamu cuma bisa nangis dengan pandangan kosong. Aku sampai merasa nggak berguna karena cuma bisa ikut nangis lihat kamu hancur."
Aku tersenyum getir. "Aku juga heran. Cuma lihat dia update sesuatu saja aku senangnya seperti anak kecil punya mainan baru. Tapi ini konyol, Ran. Jantungku mau copot, bayangannya seperti mengikuti ke mana pun aku pergi. Rasanya seperti dipelet, tapi ya... mustahil, kan?"
"Ya iyalah! Gila saja. Yang ada kamu yang memelet artis seperti dia," canda Rani sambil menunjuk sebuah pondok pesantren. "Tuh, sudah sampai."
Di dalam, suasana tenang pesantren sedikit mendinginkan sarafku yang tegang. Saat giliranku tiba, aku langsung mengutarakan niat.