Setelah beberapa hari mencoba menjauh, pertahananku runtuh. Tanganku kembali mengetikkan namanya di kolom pencarian Instagram. Tak ada unggahan baru. Aku pun menelusuri foto-foto lamanya hingga yang terbawah.
"Orang ini apa nggak pernah kumisan, ya? Kayak bocah," gumamku dalam hati.
Aku beralih mencari videonya di platform lain dan menemukan klip saat dia menunjukkan barang favoritnya. Jantungku mencelos. Dia menunjukkan sebuah tas unik dengan logo tempat makan ternama, tas yang hampir saja kubeli kemarin jika saja aku tidak berubah pikiran memilih tas bergambar snack.
Kebetulan? Mungkin. Tapi saat aku menonton wawancaranya, bulu kudukku meremang. Saat ditanya anggota tubuh yang paling ia sukai, dia menjawab, "Mata, karena ada gunungnya." Padahal, aku selalu menjawab pertanyaan serupa dengan, "Bibir, karena bentuknya seperti gunung."
Bahkan hingga hal sekecil warna rambut; jauh sebelum aku mengenalnya, kami pernah mengecat rambut dengan warna biru kehijauan yang identik di waktu yang hampir bersamaan. Rasanya seperti kami adalah dua tubuh yang digerakkan oleh satu frekuensi yang sama.
Malamnya, sebuah notifikasi muncul. Story baru dari Putra. Aku membukanya dengan tangan gemetar. Foto itu diambil dari jarak dekat, menunjukkan wajahnya yang... berkumis.
Aku tertawa sendiri di tengah kegelapan kamar. Unggahan itu seolah jawaban instan atas celotehanku siang tadi. Saat aku beranjak ke toilet, keanehan kembali menyambut. Sepasang cicak, satu putih satu hitam pekat, diam di dinding. Aku belum pernah melihat cicak hitam seumur hidupku. Apakah ini simbol perbedaan kami?
Aku bergegas mengambil ponsel yang sedang diisi daya untuk memotret mereka. Namun, mataku tertuju pada label baju di samping ponsel: Putraclothes. Sebagian labelnya tertutup toples, menyisakan kata "Putra" yang menatapku tajam. Hari ini, semesta seolah sedang menghujaniku dengan namanya.