Sejak mengenal Putra di dunia nyata, meski hanya lewat layar ponsel, hidupku berubah total. Aku mulai bekerja kembali, dan setiap rupiah yang kudapatkan kugunakan untuk menata ulang hidupku. Hubunganku dengan Tuhan, sesama manusia, dan terutama dengan diriku sendiri, perlahan membaik.
Setiap pukul empat subuh, aku sudah terbangun untuk berolahraga, menjaga tubuh agar tetap ideal. Aku merawat wajahku dan memperbaiki senyumku yang dulu sempat membuatku minder. Setiap hari, aku mencicil tulisanku. Bagiku, menulis adalah cara bernapas.
Dalam perjalanan ini, Mbak Gendis dan Rachel tetap menjadi sandaran energiku. Kami sering berbagi cerita lucu sekaligus mengharukan.
"Mbak, aku kok sering banget dibenci orang tanpa alasan ya? Aku tidak berbuat apa-apa, tapi tiba-tiba ada saja yang memusuhi," keluhku suatu hari pada Mbak Gendis.
"Energi kamu terlalu kuat, Sayang," jawabnya tenang. "Begitulah orang pilihan. Cahayamu membuat mereka yang memiliki energi negatif merasa terusik. Anggap saja itu tanda bahwa kamu istimewa."
Mbak Gendis juga sering bercerita tentang pasangannya, Dante. Hubungan mereka yang tulus membuatku sadar bahwa Twin Flame adalah tentang kenyamanan menjadi diri sendiri tanpa topeng.
"Mbak benar, sejak mengenal Putra, semua orang bilang wajahku jauh lebih cerah," aku mengakui. "Dia benar-benar sumber energi positifku. Aku bersyukur dia lahir ke dunia ini, meskipun aku harus menghadapi kenyataan bahwa status dan usia kami jomplang."
Mbak Gendis selalu mengingatkanku untuk self-love. "Jangan merasa tidak layak karena statusmu. Semua wanita tidak ada yang ingin menjadi janda; itu hanya bagian dari takdir yang harus kamu lewati untuk mematikan egomu. Fokuslah menjadi wanita yang memiliki nilai tinggi (high value)."