Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #18

#18 Kepulangan kak Ali

​Malam itu, seperti biasa, aku menelpon Rani. Suaraku terdengar penuh semangat saat mulai menceritakan detail kecil tentang Putra yang kutemukan hari ini. Namun, belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Rina yang juga ada dalam sambungan telpon itu tiba-tiba memotong pembicaraan kami.

​"Cin, bentar..." suara Rina terdengar berat, tidak seperti biasanya.

​"Kenapa, Rin? Tumben serius banget?" tanyaku heran. Rani pun ikut terdiam di seberang sana.

​"Tadi aku mau ngomong tapi ragu. Tapi makin kamu cerita, aku makin merinding," Rina menghela napas. "Semalam aku mimpiin kamu, Cin. Tapi mimpinya nggak kayak drakor yang manis. Mimpinya kelam banget."

​Aku dan Rani kompak terdiam, menunggu kelanjutan kalimatnya.

​"Aku lihat kamu ada di sebuah area yang menyeramkan. Di sekeliling kamu itu gedung-gedung tinggi yang sebagian sudah runtuh, kayak kota mati habis kena bencana besar. Debu dan puing ada di mana-mana. Terus, aku lihat kamu lagi lari, muter-muter di antara reruntuhan itu dengan wajah panik. Kamu kayak lagi nyari sesuatu yang hilang."

​"Nyari apa?" bisikku.

​"Ternyata, di sisi lain reruntuhan itu, ada Putra. Dia juga lagi lari, bajunya kotor, wajahnya cemas luar biasa. Dia juga lagi nyariin kamu! Kalian berdua kayak lagi berpacu dengan waktu di tengah kehancuran itu. Sampai akhirnya, di sebuah sudut gedung yang hampir roboh, kalian saling melihat. Kalian lari sekencang mungkin dan pas ketemu, kalian langsung genggam tangan kencang banget. Sumpah, genggamannya erat banget seolah kalau dilepas sebentar aja, salah satu dari kalian bakal hilang selamanya."

​Jantungku berdegup kencang. Gambaran gedung runtuh itu terasa sangat mirip dengan kondisi mentalku saat ini hancur, tapi mencoba bertahan.

​"Terus, kami selamat?" tanyaku lagi.

​Suara Rina merendah. "Pas kalian baru aja mau melangkah pergi buat keluar dari reruntuhan itu, tiba-tiba muncul sosok kak Ali. Dia berdiri tepat di belakang kamu, megang bahu kamu kuat banget, nahan kamu supaya nggak ikut pergi sama Putra. Wajah kak Ali di situ gelap, nggak ada ekspresi, pokoknya dia cuma mau kamu tetep di sana, di tengah gedung-gedung yang runtuh itu."

​Keheningan menyergap sambungan telpon kami. Aku bisa merasakan bulu kudukku meremang.

​"Cin," panggil Rina lirih. "Menurutku, mimpi itu pesan. Kamu sama Putra memang sudah saling menemukan di dimensi lain, kalian sudah saling menggenggam. Tapi masa lalu kamu, kak Ali masih jadi beban yang narik kamu ke bawah. Kamu sudah nemu cahayanya, tapi kamu masih ditahan di kegelapan yang lama."

​Aku menyandarkan punggung ke bantal, menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Mimpi Rina seolah memvalidasi ketakutanku; bahwa perjalananku menuju Putra bukan sekadar tentang cinta, tapi tentang perjuangan hebat untuk melepaskan diri dari rantai masa lalu yang masih mencoba mencengkeramku

Keesokan harinya, seperti biasa, aku melanjutkan tulisanku sambil berbaring di kamar, dan aku menerima sebuah pesan dari Mbak Desi, "Ali udah sampai rumah tadi sore, Cindy." Rasa takut berkecamuk dalam hati, aku langsung menghubungi Rani.

Aku : "Assalamu'alaikum Ran."

Rani : "Wa'alaikum salam Cin, kenapa?"

Aku : "Kamu udah pulang kerja?"

Rani : " Udah, baru banget keluar nih, lagi nunggu jemputan belum dsteng juga daritadi."

Aku : "Kak Ali udah pulang Ran, aku harus gimana? Aku sebenernya takut ketemu dia, tapi aku harus selesain semuanya."

Rani : "Yaudah selesain dulu aja Cin supaya kamu lebih tenang lepas dari bayang bayang dia."

Aku : "Aku takut Ran, aku masih bener-bener trauma, semua bayangan kelam kemarin bermunculan semua di otakku. Aku mau mati aja Ran, aku menyesal kenapa dulu aku menikah, aku bodoh Rani aku gak pantes hidup." Aku terduduk di pojokan kamar sambil menangis.

Rani : "Tenang dulu Cin, aku takut kondisi mental kamu drop lagi nanti. Bayangin yang bahagia bahagia aja ya, eh Cin kemaren aku abis video call sama member NCT, aaaah mereka rebutin aku loh aku jadi tersanjung." Rani mengirimiku video hasil editannya yang seolah dia benar-benar video call dengan member NCT.

Aku : "Haha Ran kamu masih aja halu ya."

Rani : "Ih siapa tau salahsatu dari mereka twinflame ku kan, aku lagi mastiin nih mau pilih yang mana." Rani tak pernah berhenti mencoba membuatku tertawa dan melupakan segala sakitku. Soulmate itu tak selalu harus tentang pasangan romantis, tapi bisa juga sahabat atau saudara, dan kini aku tahu bahwa Rani adalah salahsatu soulmate ku.

Keesokan harinya di hari jumat aku berangkat bekerja seperti biasa, dan saat pulang kerja aku menerima telpon dari nomor tak dikenal dan aku yakini bahwa itu adalah Kak Ali.

Kak Ali : "Assalamu'alaikum Cin." Terdengar suara kak Ali dibalik telpon itu.

Aku : "Wa'alaikum salam."

Kak Ali : "Cin, aku disebrang pabrik. Aku tungguin kamu ya, aku minta tolong ad yang harus kita bicarain. Aku janji ini yang terakhir."

Aku pun berjalan dengan lemas ke arah luar dengan perasaan tak karuan dan menemuinya di sebrang, ternyata dia disana bersama Mbak Rahma.

Kak Ali : "Cin ayo!" Dia berusaha menyentuh lenganku, namun aku menghindar.

Mbak Rahma : "Ayo buruan naik, bonceng tiga aja, kita ngobrol di warung sana." Mbak Rahma menjalankan motornya.

Aku : "Yaudah kalian aja, aku jalan kaki aja."

Mbak Rahma : "Hiiih nyusahin, buruan!" Dia berbicara dengan nada tinggi.

Aku : "Gak usah, kaki ku masih berfungsi, udah kalian aja!"

Lihat selengkapnya