Di kamar yang sunyi, aku menatap layar ponsel. Terlalu banyak kata yang ingin kusampaikan, namun tak satu pun menemukan tempat untuk mendarat. Akhirnya, aku mengunggah sebuah story khusus untuknya, sebuah ucapan terima kasih karena kehadirannya telah menghidupkanku kembali. Aku juga menjelaskan bahwa novel yang kubagikan waktu itu adalah kenyataan tentang kami.
Dia melihatnya. Namun, tak ada balasan. Hanya sunyi.
Saat itulah aku menyadari satu hal paling pahit dalam cinta: tak semua rasa yang dalam berhak mendapat jawaban. Aku menangis, tapi tidak lama. Aku memilih melepaskan. Bukan karena berhenti mencintai, tapi karena cinta sejati tidak bisa memaksa tinggal di hati yang belum terbuka.
Tentang kompetisi novel itu? Aku tidak memenangkannya. Mungkin kisahku terlalu jujur dan menyayat. Tapi aku tidak menyesal, karena aku menulis bukan untuk menang, melainkan untuk sembuh.
Aku masih sering bertanya pada semesta: mengapa hanya aku yang mencarinya? Mengapa ikatan ini terasa begitu erat jika kami seasing ini?
Ada bahagia saat bisa melihat sosok impianku secara nyata, namun ada pula sesal yang dalam. Saat momen itu tiba, aku bahkan tak sanggup menatap wajahnya karena jantungku berdegup terlalu kencang. Pertemuan itu justru membangunkan luka lama, rasa tak layak dan rendah diri.
Dia adalah sosok dari dunia yang berbeda. Aku sempat marah pada takdir; mengapa kami baru dipertemukan saat kondisiku sehancur ini? Seandainya aku tahu dia nyata lebih awal, mungkin aku bisa lebih memantaskan diri. Dengan keadaanku yang sekarang, mungkin ia hanya akan menganggapku sama dengan ribuan pengagum lainnya.
Di tengah luka yang menggantung, semesta mengirimkan Kak Okta dan Kak Peter. Dari berbagi cerita, lahirlah grup Twinflame Indonesia. Bersama Mbak Gendis, Rama, dan anggota lainnya, kami menjadi keluarga yang saling menguatkan tanpa menghakimi.
Kami bahkan mulai membangun akun TikTok bersama untuk merangkul jiwa-jiwa lain yang terombang-ambing dalam koneksi serupa. Di sana, aku belajar bahwa mencintai dia berarti harus belajar mencintai diriku sendiri terlebih dahulu. Aku percaya, jika memang kami ditakdirkan bersama, semesta akan tahu cara menyatukan kami kembali di waktu yang paling tepat.
Untukmu,