Ada ruang di dalam dadaku yang tak bisa kututup. Sebuah lorong sunyi yang menolak diisi oleh apa pun, kecuali sesuatu yang tak bisa kugenggam. Sejak kejadian di mal itu, aku sadar bahwa melepaskan tak semudah membalik telapak tangan. Ada tarikan halus yang terus memanggilku kembali.
Beberapa malam kemudian, dalam gelap kamar yang temaram, aku membuka ponsel tanpa tujuan. Jemariku meluncur, dan sebelum kesadaranku pulih, aku sudah mengetik namamu. Aku hanya ingin memastikan kau masih ada, masih menghirup udara yang sama di bawah langit yang sama.
Sebuah rindu yang sunyi menyergap. Rindu yang tidak butuh balasan; rindu yang cukup terjawab hanya dengan melihat senyummu di balik layar.
Tiba-tiba, sebuah lagu mengalun dari daftar putar acak: Anugerah Terindah dari Andmesh. Bait-baitnya meresap perlahan, menyingkap bagian hatiku yang selama ini kusembunyikan di balik kata "ikhlas".
"Biarkan semua manusia jadi saksi nyata, bahwa memilikimu adalah anugerah terindah untuk diriku..."
Aku tertawa getir. "Memiliki?" bisikku pada langit-langit kamar. Aku bahkan tidak pernah memilikinya sekali pun. Dalam doa yang paling lancang pun, aku tak berani memintanya.
"Putra," lirihku dalam gelap, "lagu ini adalah ungkapan hatiku. Kelahiranmu adalah hal yang paling aku syukuri. Seandainya saja kamu menyanyikan lagu ini sambil memetik gitar..."