Om datang tanpa aba-aba. Pagi masih separuh dingin saat langkahnya menjejak pelataran, membawa tubuh yang lelah namun mata yang menyimpan rahasia berabad-abad. Beliau duduk di sofa ruang tengah dan mulai berbicara tepat saat Mama beranjak ke dapur.
“Waktu kamu lahir,” katanya perlahan, “Senin Kliwon, langit tak biasa. Malamnya purnama yang menggetarkan. Papa-mu tahu sejak awal. Kamu lahir di tanggal kembar, di malam yang langka. Itu bukan kebetulan. Itu tanda. Dan ia takut.”
Om menghela napas, mencoba merangkai masa lalu yang berantakan. “Dia tahu kamu bukan anak biasa. Sejak mendengar tangisanmu yang berbeda, ia menggoreskan doa di dahimu dengan darah jarinya sendiri. Tak seorang pun tahu, bahkan ibumu. Ia hanya bilang, ‘Anak ini kuat, tapi akan memikul sesuatu yang tak semestinya ia tanggung.’”
Aku terdiam, membiarkan jiwaku menyerap kebenaran yang lama tertunda ini.
“Kamu terpilih untuk menanggung karma leluhur, menjadi penebus luka turunan. Kita adalah keturunan dari garis para menak tanah Pasundan, trah Kerajaan Padjajaran. Papa-mu pergi bukan karena tak sayang, tapi karena terlalu sayang. Ia takut jika kamu terlalu dekat, seluruh kemampuan itu akan berpindah utuh. Ia tak ingin melihat hidupmu penuh keterasingan seperti hidupnya.”
Om menyandarkan tubuhnya, lalu suaranya merendah. “Itu sebabnya kamu tak pernah benar-benar sendiri. Ada penjaga setia dari zaman nenek moyang kita di Padjajaran, yang diperintahkan untuk mengawal langkahmu sejak tangisan pertamamu pecah. Mereka menjagamu, Cindy.”
Aku menarik napas, dalam, namun terasa hampa. “Itu sebabnya dia pergi?”
Om mengangguk perlahan. “Bukan karena tak sayang. Justru karena terlalu sayang. Ia takut jika kau terlalu dekat, maka seluruh kemampuan itu akan berpindah utuh, dan juga dia ingin membentukmu jadi pribadi yang lebih mampu berdiri sendiri. Ia takut melihat hidupmu menjadi seperti hidupnya, penuh luka, penuh rahasia, penuh keterasingan dari dunia biasa.”
Aku terdiam. Suara detak jam di ruang tamu terdengar sangat nyaring. Waktu seakan melambat untuk memberi ruang pada dadaku yang sesak.
“Ibumu tak percaya hal-hal seperti ini,” kata om. “Baginya semua itu hanya mitos. Tak masuk akal. Tapi kenyataan tidak selalu logis. Dan kamu... kamu telah melewatinya sendiri, bukan?”
Aku mengangguk. Ya. Luka sejak kecil. Kesepian. Mimpi-mimpi aneh. Rasa sakit pada tulangku setiap malam purnama. Ketertarikan mendalam pada hal-hal yang tak bisa dijelaskan. Dan sebuah kerinduan yang tidak punya asal, seakan ada bagian dari diriku yang tidak tinggal di dunia ini.
“Papa-mu tahu hidupmu tak akan mudah. Tapi dia percaya, jika kamu cukup kuat melewati luka demi luka sejak kecil, maka saat waktunya tiba, kamu akan mampu menerima tanggung jawabmu. Sebagai jiwa yang terpilih.”
Aku menatap keluar jendela. Langit siang itu mendung, tapi sejuk. Seperti diriku. Penuh awan, namun tak kehilangan cahaya.
“Kami tahu, Cindy. Sejak kamu lahir. Sejak malam purnama itu. Hanya saja, kebenaran harus menunggu sampai kamu cukup siap menerimanya. Karena kamu hanya akan menganggap ini cerita omong kosong, bila kamu belum siap.”