Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #27

#27 Mimpi yang jadi nyata

Hari itu, aku melakukan hal-hal yang di luar nalar logikaku sendiri. Tanpa alasan yang jelas, aku membeli sebuah overall hitam dan kaos abu-abu berlengan panjang. Aku bahkan membeli sepasang softlens yang membuat tatapanku tampak lebih dalam. Saat itu, aku tak tahu untuk apa semua ini. Aku hanya merasa harus memilikinya, seolah-olah tubuhku sedang mempersiapkan kostum untuk sebuah panggung yang belum kulihat.

​Di waktu yang bersamaan, aku semakin tenggelam dalam diskusi di grup Twin Flame Indonesia. Kami berbicara tentang simbol penyatuan jiwa, sebuah gambar sigil. Teman-temanku mulai menciptakan lambang cinta mereka masing-masing. Aku pun tergerak. Aku menciptakan sigil PTR, sebuah tautan huruf antara Putra dan Putri, dipadukan dengan lambang infinity. Simbol itu bukan sekadar coretan; itu adalah doa yang kubungkus dalam bentuk visual.

​Aku memesan sepasang gelang bertali hitam dengan simbol tersebut. Satu kupakai di pergelangan tanganku sebagai pengingat, dan satu lagi kubungkus rapi dalam kain kecil, kusimpan di laci. Dalam hati aku membisik, "Ini untuk Putra." Meski saat itu, aku tidak tahu apakah bisa bertemu dengannya lagi atau tidak.

​Sabtu, tanggal 19 april. Pagi masih separuh dingin saat aku terbangun dengan dorongan kuat untuk berdandan. Aku mengenakan pakaian yang kubeli dua minggu lalu, memasang softlens, dan memoles wajah dengan foundation yang lama tak ku sentuh, seakan ada janji besar yang harus kutepati.

​Mama masuk ke kamar dan menatapku heran. "Kamu mau ke mana, Cindy? Pagi-pagi sudah cantik begini?"

​"Gak ada rencana ke mana-mana, Ma," jawabku bingung pada diriku sendiri.

​Mama tersenyum. "Ya sudah, karena kamu sudah rapi, kita jalan-jalan ke Bandung yuk, refreshing."

​Aku mengangguk, namun tanganku bergerak cepat mengambil gelang pasangan yang kusimpan di laci, lalu memasukkannya ke dalam tas. Dadaku sesak oleh campuran harapan dan ketakutan. Sepanjang perjalanan kereta menuju Bandung, aku hanya diam menatap jendela. Setiap stasiun yang terlewati, setiap aroma udara yang masuk, terasa begitu akrab. Aku pernah di sini, bisik batinku. Jejak ini sudah ada sebelum kakiku menginjaknya.

​Saat tiba di Bandung, sebuah unggahan di media sosial muncul seperti petunjuk arah: acara nonton bareng film Putra sedang berlangsung di kota ini. Jantungku berdegup kencang. Aku buru-buru menceritakannya pada Mama. Ia menatapku dengan mata lembut, lalu berkata santai, “Yaudah, ayo kesana, siapa tahu ketemu lagi.” Aku tersenyum, tapi hatiku tetap campur aduk, antara harap dan takut kecewa.

Sepanjang perjalanan, aku berdoa dalam hati, berulang kali, seolah napasku ikut menyusuri jalan:

“Ya Allah, jika dia takdirku, pertemukanlah kami. Jika tidak, tolong halangi.”

Dari tiga lokasi, hatiku tertambat pada satu bioskop untuk jadwal pukul 19 atau tujuh malam.

Di sepanjang jalan, sesuatu yang aneh tapi menghibur terus muncul, angka 88, 88, 888, entah di baliho, plat mobil, atau papan tanda di sekitar. Rasanya seperti alam semesta mencoba berbicara padaku, memberi isyarat, atau sekadar menenangkan jantungku yang gelisah.

Lihat selengkapnya