Saat aku pulang dari bioskop, mataku tanpa sadar menatap jam dan tanggal: 19 jam 19. Aku hanya bergumam pelan, hampir pada diriku sendiri, “Lucu ya… angka kembar.” Tapi begitu pikiranku melayang, ingatan tentang pertemuan pertama kami tiba-tiba mengerucut dengan jelas, menempel di kepalaku seperti adegan film yang diputar ulang. Hari itu juga Sabtu. Hatiku berdebar, dan pertanyaan itu muncul begitu saja: “Apakah itu juga tanggal 19?”
Tanpa menunggu lama, aku membuka foto-foto lama di ponsel. Waktu pengambilan foto tertulis jelas: Sabtu, 19 Oktober 2024, pukul 12.19. Aku menatapnya lama. Saat itu, dia memakai nuansa hitam abu-abu, dan aku hitam. Kini, di pertemuan kedua, kami seperti bermain dalam pola yang sama, tapi dibalik: aku mengenakan nuansa hitam abu-abu, dia hitam. Rasanya seperti pertukaran simbolik, sebuah lelucon halus yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang terbuka.
Aku tersenyum sendiri, setengah geli, setengah takjub. Lelucon apa lagi ini? Semesta seolah menenun momen-momen ini dengan presisi yang nyaris menakjubkan: hari dan tanggal yang sama, warna pakaian yang saling bertukar, nama kami, Putra dan Putri, tanggal lahir yang saling berkesinambungan, wajah yang sering disebut mirip oleh banyak orang… semuanya terasa terlalu pas untuk dianggap sekadar kebetulan.
Aku duduk sejenak di dalam mobil, menutup pintu, membiarkan udara malam masuk perlahan. Mata menatap kosong ke luar jendela, tapi pikiranku melayang. Apa maksud dari semua ini? Jika ini hanya kebetulan, kenapa begitu banyak tanda yang saling berkesinambungan, seolah ada ritme yang lebih tinggi sedang bermain di balik kehidupan kami?
Aku menarik napas panjang, membiarkan detak jantungku menyatu dengan ritme malam. Ada percampuran rasa takjub, damai, dan sedikit getir yang menyelimuti hatiku. Seolah alam semesta ingin aku melihat, merasakan, dan menerima bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar waktu, angka, dan warna. Sesuatu yang mengikat kami, mungkin lebih lama dan lebih dalam daripada yang bisa aku pahami saat ini. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika, tapi bisa dirasakan oleh hati yang benar-benar terbuka.
Sejak pertama kali aku bermimpi tentang Putra, ada detak jantung yang aneh, tidak seperti detak biasa. Rasanya seperti ritme lain yang hadir bersamanya, seakan tubuhku mengenali sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Dulu aku hanya merasakannya tanpa memahami, tapi sekarang aku memahami: itu adalah energi dari cakra jantungku yang terbuka. Tanda keterhubungan batin yang dalam, yang menembus ruang dan waktu. Setiap kali aku merasakan kehadirannya, meski hanya dalam mimpi, detak itu muncul di waktu acak, tapi penuh kekuatan, seolah memberi tahu aku: “Inilah kebenaran yang harus kau rasakan.”
Seiring waktu, aku belajar menjaga batas dengan lawan jenis. Aku mulai memahami bahwa cinta sejati bukan soal kemelekatan, bukan soal siapa yang hadir paling lama secara fisik, melainkan tentang kedamaian yang muncul dalam diri sendiri. Cintaku kepada Putra kembali damai. Rindu tetap ada, tapi kini tidak lagi menimbulkan gejolak yang menguras energi. Detak jantung itu menjadi pemandu, seperti irama alami yang menuntunku menggali diri lebih dalam: menelusuri tujuan hidup, arti keberadaan, dan alasan aku diciptakan.
Aku menelaah biologi manusia, bagaimana sistem saraf merespons kedekatan emosional, bagaimana hormon dan resonansi energi bekerja, dan bagaimana pola syaraf bisa mengenali orang yang selaras dengan kita. Aku membaca psikologi, memahami bagaimana jiwa bisa menolak atau tertarik, dan bagaimana intuisi bisa terhalang ego. Aku pun menyelami ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara yang lebih hidup, bukan sekadar membaca, tetapi mengaji dan merenungkan setiap kata, menemukan harmoni antara sains, batin, dan ajaran spiritual.
Dengan energi baru itu, konten-konten yang kubuat mulai meledak. Orang-orang menemukan jawaban yang selama ini mereka cari, merasa tersentuh oleh kombinasi ilmu dan spiritualitas. Aku melihat komentar-komentar yang penuh rasa syukur, cerita-cerita tentang batin yang mulai damai, tentang rasa lega yang muncul setelah menemukan pola dalam kehidupan mereka sendiri. Konten-konten itu bukan sekadar video atau tulisan, mereka adalah energi yang selaras, vibrasi yang merambat ke penonton, menyalakan kesadaran, dan mengingatkan tentang cinta yang damai, bukan cinta yang mengekang.
Dan di tengah semua itu, aku memahami sesuatu yang lebih besar: bahwa cinta sejati bukan tentang siapa yang membuat hatimu bergejolak, bukan tentang siapa yang menemanimu paling lama. Cinta sejati adalah tentang dia yang membuatmu kembali pulang ke dirimu sendiri, ke diri sejati yang damai, yang mampu memahami, menerima, dan tetap utuh meski dunia bergerak liar di luar sana.
Saat pertemuan itu, ada keputusan ceroboh yang aku sesali, yaitu mencoba lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan, foundation tebal yang dulu memberiku rasa percaya diri. Botol kecil itu terasa berat di tangan, seolah menyimpan semua harapan dan ketakutanku. Aku hanya ingin setiap noda dan bekas jerawat tersamarkan, setiap pori tertutup rapat. Cermin memantulkan versi diriku yang sudah lama tak kulihat.
Untuk sesaat, aku merasa siap menghadapi dunia.
Namun beberapa hari setelahnya, semua rasa percaya diri itu runtuh. Kulitku seperti ladang perang. Jerawat merah bermunculan di pipi, dagu, bahkan dahi. Kulitku panas, perih, dan berdenyut setiap kali kusentuh. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah yang baru kemarin terasa cantik. Kini, hanya rasa takut yang tersisa.
Di pabrik, tatapan orang-orang terasa seperti pisau kecil yang menusuk berulang kali. Komentar pun meluncur tanpa ragu.
“Kok muka kamu jadi hancur?”
“Jerawatnya makin parah banget deh...”
“Rusak banget kulitnya.”
Bahkan ada yang berkata, “Ketemu mantan malu dong? Muka kamu gini.”
“Kenapa harus malu? Sejak kapan jerawat termasuk aib?” Aku memasang eksresi masam, menelan bulat-bulat rasa malu dan sakit hati. Seolah jerawat adalah dosa yang tak bisa diampuni. Seolah kulit yang tak sempurna menjadikan seseorang pantas dihakimi.
Padahal, ada luka yang jauh lebih parah dari ini. Luka yang pernah menghancurkan jiwaku, luka yang ditinggalkan oleh masa lalu yang tak semua orang tahu. Tapi mereka hanya menilai yang terlihat. Mereka menatap kulitku, bukan hatiku.
Siang itu, saat jam istirahat, aku membuka ponsel berharap menemukan sesuatu yang dapat menghiburku, namun muncul sebuah postingan yang membuatku semakin merasa sakit. Putra memposting foto kekasihnya yang sedang berulangtahun. Ia tersenyum dengan lembut. Keterangan fotonya dipenuhi komentar:
“Cantiknya pacarnya Putra...”
“Cocok banget mereka berdua.”
“Definisi couple goals.”
Aku menatap layar cukup lama, sampai gambarnya terasa seperti menusuk mataku. Perempuan itu begitu anggun, kulitnya mulus tanpa cela, senyumnya memikat. Sementara aku... bahkan untuk melihat diriku sendiri di cermin saja rasanya menakutkan. Seharusnya aku tidak merasakan sakit ini, bahkan aku tak pernah menjadi sesuatu yang special dalam hidupnya, aku tak menginginkan perasaan ini.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Rasa malu, rendah diri, dan hancur bercampur jadi satu. Aku merasa seperti manusia yang tak tahu diri, mengapa aku pernah merasa cukup untuk diperhatikan?
Malam harinya, aku tak sanggup memendamnya sendiri. Aku menekan nomor Ka Peter. Suaranya terdengar tenang di seberang.
“Ka... wajahku hancur banget, semua orang selalu ngatain aku, aku ngerasa kaya monster." Aku bicara menahan tangis.
"Apa sih, jerawat aja kok. Mana coba kirim foto kamu, aku mau lihat." Ucapnya menenangkan.
"oke, aku mau kirim foto. Jangan kaget, ya.”
“Kirim aja.”
Aku mengirim fotoku, kulit merah penuh jerawat, mataku bengkak karena menangis. Jantungku berdetak cepat, menunggu reaksinya. Tak lama kemudian, pesan masuk.
“Kamu tetap cantik. Aku lihat kamu, bukan jerawatnya.”
Air mataku kembali mengalir.
“Tapi semua orang di pabrik ngomongin aku, Ka. Mereka kayak jijik liat aku... terus aku liat foto Putra sama pacarnya, semua orang muji dia. Aku ngerasa makin hina...”
“Cindy dengerin. Kamu nggak hina. Kamu Cuma lagi sakit di kulit, bukan di hati. Jangan biarkan jerawat bikin kamu lupa siapa kamu sebenarnya. Orang yang mereka puji mungkin cantik, tapi kamu juga cantik dengan caramu sendiri. Dan yang aku lihat, kamu kuat. Kuat itu jauh lebih indah daripada kulit mulus. Kamu itu perempuan baik, dan kecantikan itu terpancar dari hati kamu, cobalah untuk lebih mencintai dirimu sendiri, lihat lagi cerminnya tapi sambil tersenyum dan bilang “aku cantik ya walau jerawatan, aku mencintai diriku sendiri”, perlahan jerawat kamu pasti sembuh kok, nanti pun kamu balik cantik, percaya deh! Orang kamu memang cantik kok, jujur loh aku kamu lebih cantik dari Maria.”