Perkenalanku dengan Kak Peter berawal dari sebuah ruang obrolan di dunia maya. Sebuah notifikasi sederhana, hanya bunyi singkat dari ponsel, membuka percakapan yang tak pernah kurencanakan.
Kalimat pertamanya biasa saja, tapi entah mengapa aku merasa seperti sedang membaca suara yang pernah kukenal. Ia orang Bali, dengan tutur kata lembut, seolah setiap katanya diukur sebelum dilepaskan.
Nada suaranya, meski hanya terbaca dalam huruf-huruf digital, membawa rasa teduh, seperti desir angin yang menyusup di sela pohon kelapa di tepi pantai.
Sejak awal, ia tak pernah memaksaku bercerita, tapi entah bagaimana aku selalu ingin menaruh sebagian bebanku di ruang kosong yang ia sediakan.
Malam itu, hujan turun deras.
Aku duduk di tepi ranjang, ponsel di genggaman, sementara rintik menghantam kaca jendela seperti ribuan jemari kecil yang tak sabar mengetuk. Lampu kamar redup, hanya satu cahaya kuning dari sudut ruangan yang memantulkan siluet samar ke dinding.
Peter mengetik pesan panjang.
Di layar, titik-titik penanda "sedang mengetik" muncul dan hilang, muncul lagi, seakan ia sedang memilih kata dengan hati-hati.
Ia bercerita tentang Natasha, mantan kekasihnya. Tentang awal yang penuh kejaran, bahkan ancaman bunuh diri jika cintanya tak diterima. Padahal, di saat yang sama, hatinya telah diam-diam condong pada Maria, gadis kampus yang menjadi pusat perhatian banyak mata.
Maria, kata Peter, adalah satu dari tiga wanita paling populer di kampus. Wajahnya anggun, tawanya selalu menular, dan ada sinar di matanya yang membuat orang merasa ingin berlama-lama menatap. Namun Maria punya kekasih yang dianggap sempurna. Peter takut hanya menjadi pelarian. Ia memilih mundur, meski harus menahan perasaan yang mengendap.
Namun jarak pada Maria justru membuat Natasha semakin mendesak. Akhirnya, ia menyerah. Mereka bersama, meski tanpa cinta.
Hubungan itu pahit. Natasha sering membandingkannya dengan pria lain, seolah ia tak pernah cukup. Lebih menyakitkan lagi, Natasha mengaku telah tidur dengan banyak lelaki.
Dan suatu hari, ia pergi bersama pria yang lebih mapan. Kini, meski telah bersuami, Natasha masih mencoba kembali.
“Aku sudah muak,” tulisnya. “Terlalu letih untuk mengulang luka yang sama.”
Aku membaca setiap katanya dengan perasaan yang bercampur iba, tapi juga terasa seperti melihat bayangan diriku sendiri.
Aku membalas dengan kisahku. Tentang Ali mantan suamiku.
Tentang malam hujan ketika kami hanya punya satu jas hujan. Aku ingat jelas malam itu: lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di genangan aspal, hujan memukul-mukul jaket tipis yang kupakai.
“Biar aku saja yang pakai,” katanya. “Aku yang bawa motor, duduk di depan lebih kena cipratan.”