Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #30

#30 Dark night of the soul ke sekian kali

Aku kembali kehilangan pekerjaan.

Kalimat itu tidak lagi meledak di kepalaku seperti dulu. Ia hanya jatuh pelan, seperti debu yang sudah sering singgah. Tidak mengejutkan, tapi tetap membuat napas terasa lebih pendek dari biasanya.

Aku bangun pagi tanpa tujuan yang jelas. Waktu terasa cair, jam tidak lagi penting, hari tidak lagi punya nama. Yang ada hanya tubuh yang lelah menahan perasaan, dan pikiran yang berputar tanpa arah. Aku tahu aku kembali tidak stabil. Aku merasakannya dari caraku menangis tanpa sebab yang jelas, dari dadaku yang sesak hanya karena kalimat sederhana, dari keinginan untuk menghilang meski aku tidak benar-benar ingin mati.

Di tengah keterdesakan itu, aku mencoba bertahan dengan cara yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku mulai live streaming.

Aku berdandan lebih manis dari biasanya, bersikap centil, tersenyum lebih lama dari yang nyaman. Aku menunggu anakku tertidur lebih dulu, dan malam hari adalah satu-satunya waktu aku bisa menghilang tanpa terlihat. Saat layar menyala, dunia lain terbuka. Notifikasi berdenting, gift berdatangan, pesan-pesan dari pria yang menggoda mengalir deras.

Sebagian membuatku merasa “diinginkan”.

Sebagian lain membuatku merasa… direndahkan.

Ada yang memintaku tersenyum lebih manis.

Ada yang menyuruhku mengguyur kepala dengan air.

Ada yang berbicara seolah tubuhku adalah tontonan yang bisa dikendalikan dengan uang.

Aku menuruti beberapa hal kecil, bukan karena ingin, tapi karena takut. Takut jika aku berhenti, semuanya ikut berhenti. Gift, perhatian, rasa aman sesaat itu.

Setiap selesai live, aku menatap layar yang gelap dengan perasaan kosong yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

Aku begadang hampir setiap malam. Tidurku berantakan. Emosiku kacau. Di siang hari aku menjadi ibu, di malam hari aku menjadi versi diriku yang bahkan tidak kukenal. Jiwaku menolak keras peran itu, menolak harus selalu tersenyum, bersikap manis, pura-pura nyaman pada semua pria.

Di kepalaku berulang satu kalimat yang membuatku sendiri ketakutan:

“Semua pria bajingan.”

Aku tahu itu tidak sepenuhnya benar. Tapi luka membuat pikiranku hitam-putih. Dan aku kelelahan melawan perasaan itu sendirian.

Di sela semua itu, ada satu hal yang terus kulakukan: aku menghubungi Kak Peter.

Kadang hanya chat pendek di tengah malam.

Kadang telepon sambil terisak, suaraku pecah, kalimatku tidak beraturan.

Aku menangis, mengeluh, marah, merasa kotor, merasa bodoh.

Dan ia tetap ada.

Ia tidak menyuruhku kuat. Tidak memaksaku bersyukur. Ia hanya mendengarkan, seolah berkata tanpa kata bahwa aku tidak gila karena merasa seperti ini.

Dari percakapan-percakapan itulah aku mulai mengenal destiny matrix. Awalnya aku mengira ini hanya angka-angka lain yang akan gagal menjelaskan hidupku. Tapi ternyata tidak. Angka-angka itu seperti cermin yang jujur, tidak menghakimi, tidak memaksa, hanya menunjukkan pola.

Aku mulai melihat bahwa hidupku bukan sekadar rangkaian kesialan. Ada pola kehilangan, pola bertahan, pola mencintai terlalu dalam, dan pola mengorbankan diri demi bertahan hidup. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa rusak, aku merasa terbentuk.

Aku belajar bahwa penolakanku pada dunia yang kasar itu bukan kelemahan. Bahwa jiwaku memang tidak diciptakan untuk menjual keramahan palsu. Bahwa rasa jijikku bukan drama, tapi alarm.

Aku masih kehilangan pekerjaan.

Aku masih begadang.

Aku masih belum sepenuhnya stabil.

Tapi setidaknya sekarang aku tahu: ada bagian dari diriku yang masih hidup, yang menolak direndahkan, yang masih ingin pulang ke dirinya sendiri.

Malam itu, sebelum tidur, setelah mematikan lampu dan memastikan anakku bernapas tenang, aku berbisik pelan dalam hati:

Lihat selengkapnya