Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan satu tombol yang terasa berat tapi perlu.
Blokir.
Nama Kak Peter menghilang dari layar, tapi suaranya masih tertinggal jelas di kepalaku.
Bukan nada marahnya, melainkan kalimat terakhirnya.
“Kayaknya solusi terbaik buat kamu itu menikah.”
“Biar kamu berhenti berangan tentang Putra.”
“Dan ada yang menopang kamu secara ekonomi, supaya kamu nggak harus bekerja dengan rasa direndahkan kayak live streaming sekarang.”
Dadaku seketika sesak.
Aku tahu maksudnya terdengar logis. Aku tahu di dunia nyata, kalimat itu terdengar dewasa. Tapi jiwaku… memberontak.
Aku duduk memeluk lutut, napasku pendek-pendek. Ada sesuatu di dalam diriku yang menolak keras.
Bukan karena aku ingin memaksa takdir bersama Putra. Bukan karena aku ingin hidup di angan. Tapi karena jiwaku memang menolak.
Aku sudah mencoba berpaling.
Sudah mencoba membuka ruang.
Sudah mencoba memaksa diri “rasional”.
Namun setiap kali ada pria lain mendekat.
bahkan hanya menyentuh seujung jariku, tubuhku menegang, perutku mual, dan hatiku menolak dengan jijik yang tak bisa kupalsukan.
Bagaimana mungkin aku menikah…
jika tubuh dan jiwaku bahkan tidak mengizinkan sentuhan?
Aku tidak sedang menunggu Putra datang. Aku tidak sedang menyusun harapan diam-diam.
Aku justru lelah dengan rasa ini. Aku ingin bebas. Aku ingin lupa. Aku ingin hidup normal seperti perempuan lain.
Tapi semakin aku mencoba move on, semakin jelas penolakan itu datang dari dalam. Dan itu yang membuatku semakin sakit.
Kenapa Putra bisa terlihat begitu mudah menjalin hubungan dengan wanita lain?
Kenapa dia bisa berjalan, sementara aku seperti terjebak di satu titik?
Padahal rasa ini tidak pernah aku cari.
Tidak pernah aku undang.
Tidak pernah aku rencanakan.
Ia datang begitu saja, dan kini aku yang harus menanggung penghakiman.
Orang-orang berkata aku memaksakan takdir. Mengira aku berhalusinasi. Menganggap aku terlalu berharap.
Padahal yang mereka tidak tahu:
aku justru sedang menahan diri sekuat tenaga.