Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #32

#32 Korelasi larangan islam, sains, psikologi

Ada satu pertanyaan yang sejak lama membuatku berontak, tapi jarang berani kuucapkan keras-keras.

Kenapa Islam terasa penuh aturan?

Kenapa seolah mengekang?

Kenapa begitu banyak “harus” dan “tidak boleh”?

Aku tidak sedang membenci Tuhan. Justru sebaliknya, aku sedang mencarinya. Aku lelah dengan jawaban normatif. Lelah dengan kalimat, “Pokoknya begitu.”

Sebagai seseorang yang terbiasa merenung, aku memilih mencari lewat jalur yang paling bisa kuterima: sains dan psikologi.

Aku mulai membaca tentang sistem saraf manusia. Tentang bagaimana otak bekerja, bagaimana rangsangan diproses, dan bagaimana pria serta wanita saling memengaruhi, bahkan tanpa kata.

Aku mulai memahami sesuatu yang selama ini sering disalahpahami.

Komunikasi emosional memang memicu oksitosin. Bukan karena perempuan menganggapnya sebuah hubungan, melainkan karena sistem saraf manusia merespons kedekatan secara alamiah, terutama dengan lawan jenis.

Pada perempuan, sistem ini bekerja lebih sensitif.

Bukan lemah, melainkan reseptif.

Artinya, bahkan ketika hubungan itu hanya disebut “teman”, tanpa niat, tanpa status, tanpa rencana apa pun, tubuh tetap bereaksi.

Bukan karena sedang menjalin relasi, melainkan karena pola saraf membaca kehadiran energi maskulin secara berulang.

Jika paparan ini berlangsung terus-menerus tanpa batas yang jelas, reaksinya muncul pelan, nyaris tak disadari.

Sebagian perempuan menjadi terlalu melekat atau clingy. Sebagian lain justru mengeras atau over-maskulin, tomboy secara energi.

Keduanya bukan sifat asli.

Keduanya adalah adaptasi sistem saraf yang sedang mencari keseimbangan.

Dan di situlah letak bahayanya.

Bukan soal niat buruk.

Bukan soal moralitas semata.

Melainkan tentang paparan yang terlalu dekat tanpa arah.

Perempuan bukan “baperan”.

Ia hanya tubuh yang peka terhadap resonansi.

Aku juga mulai melihat keterkaitannya dengan sesuatu yang selama ini terasa samar: rizky.

Kedekatan emosional dengan lawan jenis bukan sekadar interaksi sosial. Tubuh dan pikiran ikut merespons. Hormon bekerja. Saraf bergetar.

Ketika batin tidak stabil, emosi bergejolak, vibrasi energi perlahan menurun. Dan tanpa disadari, itu memengaruhi bagaimana rizky mengalir.

Stabilitas batin adalah magnet.

Jiwa yang tenang menarik rezeki yang selaras, bukan hanya secara materi, tetapi juga keberkahan dan ketenangan hidup.

Sering kali kita melihat orang yang tampak hidup berkelimpahan.

Pacaran bebas.

Pergaulan luas.

Tertawa di media sosial.

Namun kita tidak pernah benar-benar tahu isi kehidupan mereka.

Kita tidak melihat sakit hati yang dipendam, stres yang tak terucap, kelelahan emosional, atau tubuh yang pelan-pelan kehilangan sinyal.

Kesenangan yang lahir dari ketidakstabilan

bukanlah kedamaian sejati.

Lihat selengkapnya