Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #33

#33 Kesadaran yang menampar

Aku menangis malam itu.

Bukan tangis histeris, tapi tangis yang diam, yang keluar setelah dada terlalu lama menahan sesak. Tangis orang yang akhirnya lelah menyalahkan dunia, lalu tanpa sengaja menoleh ke dalam dirinya sendiri.

Selama ini aku pikir Tuhan jahat.

Aku merasa hidup terlalu sering mengambil dariku: pekerjaan, kestabilan emosi, rasa aman, bahkan harapan. Aku merasa sudah berusaha baik, sudah berdoa, sudah menahan diri. Tapi kenapa hasilnya tetap terasa pahit?

Malam itu, satu demi satu pemahamanku runtuh.

Aku mulai melihat pola yang tak pernah benar-benar ingin kulihat: bahwa apa yang datang ke hidupku bukan hukuman, melainkan cermin. Bukan karena Tuhan kejam, tapi karena keputusan-keputusan yang kuambil, cara aku merespons, cara aku menempatkan diri, semuanya membentuk jalannya sendiri.

Aku mulai mengerti sesuatu yang sederhana tapi menyakitkan:

hidup tidak sedang menguji tanpa sebab. Ia hanya jujur menampilkan akibat.

Tentang jodoh, pikiranku berkelana lebih jauh.

Beberapa hari terakhir aku sering menonton potongan podcast dan cuplikan film kisah nyata berjudul Perjalanan Pembuktian Cinta. Kisah seorang hafizah yang dijodohkan dengan ulama yang lebih tua, sudah beristri, lalu mengalami kedzoliman. Banyak orang menyebutnya ujian keimanan. Tapi entah kenapa, hatiku menangkap sesuatu yang berbeda.

Dalam salah satu podcast, beliau mengakui sesuatu yang membuatku terdiam lama.

Katanya, dulu saat ada pria biasa mendekatinya, yang kini menjadi suaminya, sempat terlintas dalam hati, “Aku hafizah, masa dengan dia? Dia bahkan bukan santri.” Kalimat itu halus, nyaris tak terdengar. Tapi aku tahu, itulah benih kesombongan yang sering tak kita sadari.

Lalu datanglah seorang ulama meminangnya.

Ahli agama. Terpandang. Terlihat “sepadan” secara status spiritual. Tapi justru di sanalah Allah memperlihatkan sisi lain: penelantaran, posisi sebagai istri kedua, luka yang tak terlihat oleh publik. Seakan-akan Tuhan berkata, “Jika kau menilai dengan simbol, Aku akan tunjukkan hakikatnya.”

Ada satu cuplikan yang membuat dadaku benar-benar runtuh.

Percakapan beliau dengan seorang yang buta. Dalam kepedihan, beliau berkata,

“Aku penghafal Al-Qur’an, ya Allah… kenapa Engkau mengujiku sedemikian rupa?”

Di situ aku sadar: bahkan di titik itu pun, pelajarannya belum selesai.

Karena persoalannya bukan hanya tentang bersabar dalam kedzoliman. Bukan hanya tentang bertahan dan diam. Tapi tentang membersihkan satu titik kecil dalam hati, kesombongan yang tersisa, yang belum disadari.

Aku membayangkan seandainya beliau bersatu dengan pria yang dulu dianggap “tidak sepadan” sementara kesombongan itu masih hidup. Apa yang akan terjadi?

Mungkin tak ada kata kasar. Mungkin tak ada hinaan terbuka. Tapi hati yang merasa lebih tinggi akan selalu, secara halus merendahkan. Dan itu juga bentuk luka, bagi pasangan, bagi relasi, bagi jiwa sendiri.

Kesadaran itu menamparku pelan, tapi dalam.

Aku melihat diriku sendiri di sana. Dalam cara menilai, dalam cara berharap, dalam doa-doa yang diam-diam masih memberi syarat pada Tuhan. Aku ingin cinta, tapi dengan versi “layak” menurut pikiranku. Aku ingin ditenangkan, tapi tanpa benar-benar membereskan isi dadaku.

Malam itu aku menangis bukan karena hidupku buruk.

Aku menangis karena akhirnya paham:

Tuhan tidak sedang menghancurkanku.

Ia sedang mengajakku jujur, tentang siapa aku, tentang apa yang masih harus kulepaskan, dan tentang pelajaran yang tak bisa dilewati hanya dengan sabar, tapi harus dengan sadar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

tangisku terasa seperti awal dari pulang.

Aku menghubungi Kak Indah malam itu.

Bukan dengan dada sesak seperti biasanya, tapi dengan kepala penuh pertanyaan yang tak lagi bisa kupendam sendiri.

“Ka,” kataku pelan, “aku lagi kepikiran soal reinkarnasi… sama karma keturunan.”

Lihat selengkapnya