Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #34

#34 Jejak dan luka Padjajaran

Kota tempatku tinggal sedang merayakan ulang tahunnya.

Jalanan ditutup, suara gamelan bercampur sorak anak-anak, dan orang-orang berjubel menunggu arak-arakan khas yang selalu dinanti: kuda kosong.

Seekor kuda dihias megah, tanpa penunggang.

Orang-orang percaya, di sanalah Prabu Siliwangi “hadir”.

Aku berdiri di antara kerumunan, menatap kuda itu tanpa tahu kenapa dadaku terasa aneh.

Ada sesuatu yang bergetar, bukan kagum, tapi seperti ingatan yang belum sempat menjadi kenangan.

Tiba-tiba mama menyenggol lenganku, setengah berbisik tapi penuh keyakinan.

“Prabu Siliwangi itu moyang kita.”

Aku menoleh.

Mama tersenyum biasa saja, seolah baru menyebut nama tetangga lama.

Tapi kalimat itu tidak lewat begitu saja.

Ia menetap.

Menggema.

Sejak hari itu, pikiranku tak berhenti bekerja.

Aku teringat keluargaku.

Terutama pola yang selama ini kuanggap “biasa”.

Anak laki-laki boleh malas, dibiarkan, dimaklumi.

“Namanya juga anak laki-laki,” begitu katanya.

Anak perempuan?

Harus kuat.

Harus sigap.

Dan ketika tiba waktunya menikah, lebih baik dengan duda kaya, daripada pria sederhana yang harus dibangun bersama.

Seolah cinta tanpa harta adalah kesalahan.

Seolah perempuan ada untuk menopang, bukan ditopang.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, bukan dengan tuduhan, tapi dengan kejujuran yang pelan:

Apakah ini hanya kebetulan?

Atau ada pola lama yang belum selesai?

Aku mulai membaca.

Bukan untuk membenarkan, tapi untuk memahami.

Kisah-kisah tentang Padjajaran.

Tentang bangsawan, tentang pernikahan, tentang perempuan yang sering dijadikan alat stabilitas politik, ekonomi, kekuasaan.

Tentang pilihan-pilihan yang mungkin dulu rasional, tapi menyisakan gema panjang di generasi berikutnya.

Aku terdiam saat menyadari satu hal:

banyak kisah lama berbicara tentang perempuan yang dinikahkan dengan pria mapan, sering kali lebih tua, sering kali telah beristri, demi keamanan dan keberlangsungan.

Bukan salah mereka.

Lihat selengkapnya