Aku dulu mengira emosiku adalah kelemahan.
Aku pikir aku terlalu sensitif, terlalu mudah terpengaruh, terlalu dalam merasakan sesuatu.
Ternyata, itu bukan kelemahan tapi cara kerja tubuh dan jiwaku.
Manusia tidak hanya hidup dengan pikiran. Kita hidup dengan sistem saraf.
Dan sistem saraf perempuan dan laki-laki memang tidak identik, bukan untuk saling mengalahkan, tapi untuk saling melengkapi.
Perempuan dan Sistem Limbik yang Lebih Responsif
Di dalam otak manusia ada bagian bernama sistem limbik.
Inilah pusat emosi, intuisi, rasa aman, keterikatan, dan memori emosional.
Pada perempuan, sistem limbik, terutama amigdala dan hipokampus, cenderung: lebih aktif, lebih cepat merespons sinyal emosional, lebih kuat mengaitkan emosi dengan ingatan
Itulah mengapa perempuan mudah “merasakan” suasana, peka terhadap perubahan sikap orang, sulit benar-benar netral secara emosional
Bukan karena perempuan lemah, tapi karena tubuhnya diciptakan untuk menerima, mengolah, dan menyimpan sinyal relasi.
Dalam sains, ini berkaitan dengan:
oksitosin → hormon keterikatan
vagus nerve → saraf penenang & empati
insula → pusat kesadaran perasaan tubuh
Semakin sering seorang perempuan terpapar interaksi emosional intens dengan lawan jenis, semakin sering sistem ini aktif.
Dan di sinilah mulai muncul dua kemungkinan ekstrem.
Kemungkinan Pertama: Terlalu Emosional, Terlalu Melekat
Jika oksitosin sering dilepaskan:
perempuan bisa merasa cepat dekat, sulit melepas, mudah cemas saat jarak muncul, lebih banyak overthinking, emosional tak terkendali. Ini reaksi biologis.
Tubuh perempuan membaca interaksi sebagai ikatan potensial, meski akalnya berkata “ini biasa saja”.
Jika tidak ada batas yang sehat, sistem saraf menjadi overstimulated: mudah baper, mudah lelah secara emosional, kehilangan fokus ke diri sendiri. Tenang tapi tidak tenang.
Kemungkinan Kedua: Menjadi Keras dan Maskulin
Menariknya, ketika sistem limbik perempuan kelelahan, otak akan mencari kompensasi.
Maka yang muncul logika berlebihan, sikap dingin, keras, defensif, bahkan agresif. Ini bukan karena dia “berubah jadi laki-laki”.
Ini adalah mekanisme bertahan hidup saraf.
Prefrontal cortex (pusat kontrol & logika) mengambil alih untuk:
“Aku harus kuat. Aku tidak boleh terlalu merasa.”
Akibatnya: sisi lembut tertutup, intuisi ditekan, emosi dipendam, tubuh tegang
Perempuan terlihat kuat, tapi sebenarnya lelah secara batin. Dan efeknya bisa menarik pria dominan feminine energy. Keduanya kehilangan identitas, perempuan merasa berjuang sendiri, prianya merasa tidak dihargai dan hilang peran.
Lalu Bagaimana dengan Pria?
Pria punya sistem yang berbeda dominannya. Pada pria:
prefrontal cortex lebih dominan
testosteron lebih tinggi
sistemnya lebih fokus ke tindakan, tujuan, dan arah
Namun saat pria terlalu sering masuk ke interaksi emosional tanpa kejelasan peran, efeknya juga nyata.
Ada tiga kemungkinan utama: