Malam itu aku kembali bermimpi tentang Curug Cibodas.
Airnya jernih, dingin, dan tenang, seperti waktu yang berhenti. Aku berendam hingga bahu, merasakan tubuhku ringan, seolah seluruh beban hidup luruh bersama aliran air. Di hadapanku berdiri perempuan itu lagi. Perempuan yang sama seperti di mimpiku sebelumnya.
Ia mengenakan pakaian bangsawan Sunda. Kainnya jatuh anggun, sorot matanya lembut, namun menyimpan sesuatu yang dalam. Bukan kesedihan yang meledak-ledak, melainkan duka yang telah lama dipendam.
Ia menatapku dan berkata pelan,
“Aku sedih.”
Aku terkejut.
“Kenapa?” tanyaku. “Bukankah kamu sudah terbebas dari segala ilusi dunia yang menyakitkan? Bukankah seharusnya kamu lebih bahagia?”
Ia tersenyum tipis. Senyuman yang tidak menjawab, namun juga tidak menyangkal.
“Kamu bantu aku, ya.”
“Bantu apa?” aku bertanya, nyaris berbisik.
Ia tidak menjawab. Hanya menatapku dengan mata penuh kepercayaan, lalu segalanya memudar. Aku terbangun dengan dada hangat. Bukan sesak, bukan gelisah. Hanya hening.
Di dunia nyata, hatiku masih sering memanggil nama Putra. Ada rindu, tetapi bukan lagi rindu yang melukai. Aku ingin bertemu dengannya, berbincang tentang hidup, tentang makna, tentang semua yang tak sempat terucap. Meski pertemuan kami di dunia terasa singkat, aku merasa telah mengenalnya ribuan tahun.
Entah aku akan menemukan kesempatan itu atau tidak, aku sudah berserah.
Tak ada lagi gejolak.
Tak ada lagi sakit karena tak memiliki.
Aku masih mencintainya, namun kini dengan cara yang damai.