Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #38

#38 Makna cinta sejati

Akun TikTok twinflame itu kini hanya aku yang memegangnya.

Dulu, akun itu seperti ruang bersama, dipegang oleh aku, Kak Okta, dan Kak Peter. Tempat berbagi pemahaman, pencarian, dan diskusi panjang tentang jiwa, relasi, dan makna. Tapi waktu berjalan, dan jalan kami pun berpisah dengan caranya masing-masing.

Aku memilih mundur dari komunikasi yang terlalu intens dengan lawan jenis. Bukan karena benci, bukan karena trauma, melainkan karena aku akhirnya paham: tubuh dan jiwaku butuh batas yang jelas agar tetap jernih. Sementara Kak Okta tenggelam dalam masalah internalnya sendiri, dan aku serta Kak Peter lama-lama kehilangan irisan arah. Kami pun lost contact, tanpa drama, tanpa perlu penjelasan panjang.

Aku mengganti password.

Mengganti username.

Seperti menutup satu pintu agar udara segar bisa masuk dari arah lain.

Di ruang yang baru itu, aku mulai membuat konten dengan nada yang berbeda. Lebih tenang. Lebih berakar. Aku membahas kajian Al-Qur’an dan mengaitkannya dengan sains serta psikologi, tentang sistem saraf, pola keterikatan, regulasi emosi, dan bagaimana ayat-ayat Tuhan berbicara selaras dengan cara manusia diciptakan.

Aku tidak lagi ingin berdebat.

Aku ingin mengajak berpikir.

Aku membaca berbagai penelitian, memahami kerja otak, hormon, dan trauma, lalu mengaitkannya dengan nilai spiritual yang selama ini sering dipisahkan. Seolah iman dan sains berdiri di dua kutub yang berlawanan, padahal bagiku, keduanya saling melengkapi.

Manusia diciptakan terlalu rapi untuk dipahami secara parsial.

Dari sanalah aku mulai membuka sesi konsultasi.

Bukan untuk meramal masa depan, bukan untuk menjual harapan kosong. Aku membuka ruang untuk orang-orang yang ingin memahami dirinya sendiri melalui Destiny Matrix, melalui pembacaan pola hidup, luka batin, dan dinamika relasi yang berulang.

Aku membantu mereka mengenali batas.

Mengajarkan bahwa boundaries bukan tembok dingin, melainkan pagar sehat agar cinta tidak melukai diri sendiri.

Bahwa menyembuhkan luka bukan berarti menghapus masa lalu, tapi memahami bagaimana masa lalu membentuk pilihan hari ini.

Lihat selengkapnya