Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #38

#38 Makna cinta sejati

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum:21)

Ayat ini ternyata sangat selaras dengan fakta biologis manusia.

"....Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri..." Secara biologis, saat dua orang memiliki banyak keselarasan dalam sistem pola syaraf(berpasangan)

Dilanjut dengan kalimat "....agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang...." Selaras dengan cara kerjanya setelah bertemu -> prefrontal cortex cenderung lebih dominan dibanding lonjakan dopamin. Inilah yang membuat hubungan terasa lebih tenang, penuh empati, rasa ingin melindungi, dan kasih sayang yang natural.

Berbeda dengan hubungan yang hanya memicu ketidakpastian dan rasa takut kehilangan, tubuh justru masuk mode survival, memicu lonjakan dopamin, kortisol, dan adrenalin yang sering disalahartikan sebagai cinta, padahal yang aktif sebenarnya adalah luka dan candu emosional.

Mungkin karena itu, allah menutup ayat itu dengan kalimat "...Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.", karena untuk benar-benar mengenali jodoh sejati, dibutuhkan kesadaran yang dalam, bukan hanya tenggelam dalam rasa. Karena selama luka masih mendominasi, manusia cenderung melihat dan merasa familiar dengan luka, bukan kesadaran dalam berfikir.

Akun TikTok twinflame yang dulu dipegang beberapa admin, kini hanya aku yang memegangnya.

Dulu, akun itu seperti ruang bersama, dipegang oleh aku, Kak Okta, dan Kak Peter. Tempat berbagi pemahaman, pencarian, dan diskusi panjang tentang jiwa, relasi, dan makna. Tapi waktu berjalan, dan jalan kami pun berpisah dengan caranya masing-masing.

Aku memilih mundur dari komunikasi yang terlalu intens dengan lawan jenis. Bukan karena benci, bukan karena trauma, melainkan karena aku akhirnya paham: tubuh dan jiwaku butuh batas yang jelas agar tetap jernih. Sementara Kak Okta tenggelam dalam masalah internalnya sendiri, dan aku serta Kak Peter lama-lama kehilangan irisan arah. Kami pun lost contact, tanpa drama, tanpa perlu penjelasan panjang.

Aku mengganti password dan username, seperti menutup satu pintu agar udara segar bisa masuk dari arah lain.

Di ruang yang baru itu, aku mulai membuat konten dengan nada yang berbeda. Lebih tenang. Lebih berakar. Aku membahas kajian Al-Qur’an dan mengaitkannya dengan sains serta psikologi, tentang sistem saraf, pola keterikatan, regulasi emosi, dan bagaimana ayat-ayat Tuhan berbicara selaras dengan cara manusia diciptakan.

Lihat selengkapnya