Mungkin selama ini kamu mengira move on hanyalah soal waktu. Bahwa suatu hari rasa itu akan lelah sendiri. Bahwa ingatan akan memudar jika cukup lama diabaikan.
Aku pun dulu percaya itu.
Sampai akhirnya aku menyadari satu hal penting: yang sulit dilepaskan sering kali bukan orangnya, melainkan kemelekatan.
Kelekatan bukan cinta yang berlebihan. Ia adalah kondisi ketika rasa amanmu bergantung pada seseorang.
Ketika kehilangan terasa seperti kehilangan sebagian dari dirimu sendiri.
Ketika logika tahu harus pergi, tapi tubuhmu gemetar ketakutan ditinggalkan.
Bayangkan sesuatu yang sudah dilem di kulit. Jika dicabut tiba-tiba, rasa perihnya bukan main. Bukan karena kamu lemah, melainkan karena ia sudah menempel terlalu lama.
Di titik itu, mungkin kamu mulai bertanya:
Kenapa rasanya sedalam ini? Kenapa sulit sekali melepaskan, padahal sudah tahu tidak sehat?
Jawabannya sering kali tidak ada di relasi dewasa.
Ia bersembunyi jauh lebih awal, di masa kecil. Kelekatan tidak lahir saat kamu jatuh cinta.
Ia lahir saat kamu belajar merasa aman, belajar dicintai, belajar bagaimana caranya diterima.
Dan semua itu… dimulai sejak kecil.
Luka itu seperti pohon.
Jika hanya ditebang di permukaan, ia akan tumbuh lagi.
Mungkin bentuk rantingnya berbeda, mungkin daunnya tidak sama, tapi akarnya tetap, dan buahnya masih jenis yang sama.
Seperti itu juga luka, kamu bisa saja berusaha melepas seseorang, lukanya seketika sembuh, namun itu akan bisa kembali meski dengan wajah berbeda, tapi lukanya sama.
Banyak orang berkata, “Masa kecilku bahagia dan harmonis.”
Tapi masa kecil yang tampak bahagia tidak selalu bebas luka. Luka tidak selalu berbentuk kekerasan atau trauma besar.
Kadang ia sangat halus: